welcome

Friday, September 29, 2017

Pencuri Chapter 9: Tanpa Kabar


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 9
“Tanpa Kabar”

            10 Maret 2013, Tetes air terlihat mejatuhi bumi dengan bengisnya. Menghujam tanpa ampun, hingga membuat udara terasa lebih dingin. Langit gelap, mendung pekat menutupi keceriaan sinar matahari. Dihari dengan cuaca buruk seperti ini, terlihat bibi Asih sedang duduk disamping jendela. Ia mengamati butir-butir air hujan yang jatuh menghantam bumi. Raut wajahnya terlihat sedih, sesekali ia melihat jam dinding dengan gelisah.
          Tidak berapa lama terdengar suara bel berbunyi. Bibi Asih segera bangkit dari duduknya dan bergegas menuju pintu lalu membukanya. Terlihat sosok wanita mengenakan sweeter berwarna merah yang dilapisi mantel trasparan, bercelana jeans warna hitam panjang sedikit ditekuk sampai kelutut dan memegang payung berwarna hitam.
            “Syukurlah Elena, akhirnya kamu datang juga. Masuklah, gantung mantel dan payungmu didekat rak sepatu itu biar cepat kering.”, kata bibi Asih sembari menunjukan tempat gantungan mantel dan payung dibagian pojok teras rumahnya. Kemudian Elena masuk kedalam rumah mengikuti langkah bibi Asih.
           “Ada apa bibi Asih? Bibi terdengar panik sekali saat menelpon tadi.”, Elena memulai percakapan sembari duduk dikursi ruang tamu berhadapan dengan bibi Asih.
            “Sebelumnya aku berterimakasih karena kamu sudah mau datang disaat cuaca buruk seperti ini. Begini Elena, Aku bingung harus memulai cerita dari mana.”, Wanita paruh baya itu terlihat sangat panik. Kepanikannya terlihat jelas dari gerak-geriknya seperti orang kebingungan.
            “Ada apa bibi Asih? Katakan saja.”, kata Elena meyakinkan bahwa ia siap membantu menangani kegelisahan bibi Asih.
            “Sudah dua hari ini Bayu belum pulang kerumah. Dia juga tidak mengabari Bibi sama sekali. Tidak biasanya dia pergi tanpa mengabari Bibi seperti ini. Aku khawatir kepadanya Elena.”, kata bibi Asih dengan raut wajah yang sedih.
             “Bibi Asih sudah mencoba menghubunginya?”, kata Elena.
          “Bibi sudah mencoba menghubunginya sejak hari pertaman dia tidak pulang. Tetapi tidak tersambung, mungkin handphone-nya mati.”
            “Pantas saja dia tidak membalas pesanku tadi malam. Apakah Bibi punya saudara? Atau mungkin Bayu pergi kerumah saudara Bibi tetapi belum sempat memberi kabar?”, Elena mencoba memberi opsi dugaan positif tentang kepergian Bayu yang tanpa kabar.
            “Itu tidak mungkin. Saudara Bibi hanya Kusno Ayahnya, akan tetapi orangtua Bayu sudah meninggal sejak 13 tahun yang lalu. Jadi, saudaranya tinggalah Aku seorang. Padahal tidak ada permasalahan apapun antara Aku dengan Bayu, tapi mengapa dia pergi tanpa ada kabar seperti ini. Bibi takut terjadi apa-apa kepadanya.”, Bibi Asih menutup mata dengan kedua tangannya dan mulai menitihkan air mata.
            Melihat bibi Asih menangis, Elena beranjak dari kursinya kemudian pindah duduk disamping bibi Asih. Elena memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu, berharap dengan pelukan yang ia berikan dapat sedikit meredakan kesedihannya.
            “Jangan khawatir Bibi Asih. Tidak akan terjadi apa-apa kepada Bayu. Aku yakin dia bisa menjaga diri. Bayu adalah laki-laki yang kuat.”, kata Elena mencoba menenangkannya.
            “Ya, Bibi percaya dia bisa menjaga diri. Hanya saja apabila terjadi kemungkinan terburuk, Bibi tidak siap kehilangan dia. Bibi tidak ingin kehilangan orang-orang yang Bibi sayangi lagi. Hanya dia satu-satunya yang Bibi miliki saat ini.”, Kata Bibi Asih semakin tersedu-sedu tenggelam dalam kesedihannya.
Secara otomatis, insting wanita dalam diri Elena menggerakkan alam bawah sadarnya untuk memeluk lebih erat.  Kedua wanita tersebut menangis dalam pelukan. Elena tidak dapat berkata apa-apa lagi, air matanya mengisyaratkan bahwa ia juga merasakan kehilangan.
            Suasana senyap oleh tangis yang beradu dengan hujan yang sudah mulai reda. Udara masih terasa sedikit dingin, akan tetapi matahari sedikit demi sedikit mulai menghangatkan dengan sinarnya. Hujan yang sedikit gerimis dengan sinar matahari yang meneranginya menciptakan biasan cahaya yang disebut pelangi. Terlihat jelas keindahan warna-warni tersebut dari balik jendela dan sekaligus memberikan energi bagi Elena untuk bangkit dari kesedihannya.
            “Akan kucoba menghubungi teman-teman kampus. Siapa tahu Bayu bersama salah satu dari mereka. Kalau tetap tidak ada kabar keberadaannya, kita harus segera lapor polisi.”, Kata Elena sembari mengusap air matanya dan Bibi Asih hanya menganggukan kepala menyetujui.
            Elena mengambil telepon genggam dari dalam tas selempang kecil yang ia bawa. Beberapa saat ia sibuk memencet nomer telepon dan terlibat percakapan dengan seseorang. Berulang kali seperti itu dan mendapatkan kesimpulan jawaban yang sama yaitu, tidak ada yang melihat ataupun bertemu dengan Bayu. Dengan wajah sedikit kecewa Elena melaporkan usahanya kepada Bibi Asih. Tanpa daya Bibi Asih menerima penjelasan Elena.  
            “Sudah Elena, tidak ada harapan lagi. Lebih baik segera melapor kepolisi.”, kata Bibi Asih dengan kondisi mental yang sudah cukup tenang.
            “Baiklah.”
            Setelah beberapa saat melapor kepada polisi. Datanglah dua orang berseragam polisi kerumah Bibi Asih untuk melakukan penyidikan. Satu orang polisi mengeluarkan laptop dari dalam tas yang ia bawa. Kemudian memberikan pertanyaan standar 5 W 1 H. What?, Who?, When?, Where?, dan How?, kepada Bibi Asih sembari mengetik dengan sigap jawaban yang keluar dari mulutnya. Polisi yang satunya memeriksa seluruh bagian rumah terutama kamar Bayu. Elena mengantar dan menemani polisi tersebut.
       Setelah selesai melakukan penyidikan. Polisi yang mengintrogasi bibi Asih menyampaikan berita acara pemeriksaan atau BAP yang ia buat. Bibi Asih mendengarkan dengan saksama apakah sudah sesuai dengan kesaksian yang diutarakannya. Setelah menyatakan bahwa BAP itu sesuai, Polisi tersebut menyampaikan analisisnya.
“Kami mengambil kesimpulan bahwa apa yang terjadi terhadap saudara Bayu Segara belum bisa dikatakan sebagai tindakan kriminal. Karena kami belum mendapatkan bukti yang kuat, apakah dia diculik atau menghilang karena keinginannya sendiri. Untuk itu kami akan membuat pengumuman daftar orang hilang sembari melakukan pengembangan kasus lebih dalam. Semoga dengan itu saudara Bayu bisa segera ditemukan.”, kata polisi dengan nama dada Arif B. Tersebut.
            Selesai melakukan penyidikan dirumah bibi Asih. Kedua polisi tersebut berpamitan untuk kembali ke markas. Bibi Asih dan Elena menjabat tangan kedua polisi tersebut bergantian sembari mengucapkan terimakasih. Lalu merekapun pergi dengan menaiki mobil tanpa menyalakan sirine. Bibi Asih terlihat tidak puas mendengar jawaban dari polisi tadi. Melihat hal tersebut Elena mencoba menenangkannya.
            “Tenang saja bibi Asih, Polisi pasti akan membantu menemukan Bayu.”, kata Elena sembari memberikan pelukan kepada wanita paruh baya itu.
            “Semoga Elena. Semoga polisi dapat bertindak cepat menangani kasus ini.”, jawab bibi Asih dengan pasrah.
            Tidak berapa lama mereka mengiringi kepergian polisi dan masuk kedalam rumah. Terdengar suara bel berbunyi dan salam seorang laki-laki dari teras rumah. Mendengar hal itu, Bibi asih dan Elena saling berpandangan.
            “Biar aku saja yang membukanya.”, kata Elena bangkit dari duduk dan berjalan kearah pintu lalu membukanya. Setelah pintu terbuka, terlihat sosok laki-laki mengenakan jaket parka warna hitam bercelana jeans hitam berdiri dihadapan Elena. Sejenak Elena mengamati laki-laki tersebut sembari berpikir, kemudian ia berkata.
            “Bukankah kau...”

*****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...