Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 8
“Janji Pertemuan”
“Apa itu Alter Ego?”, kataku penuh
dengan tanda tanya.
“Em..., bagaimana ya menjelaskannya.
Begini, Alter Ego itu seperti kepribadian ganda.”
“Kepribadian ganda? Maksudnya?”
“Maksudnya, Alter Ego adalah
kondisi dimana seseorang menciptakan karakter baru dalam dirinya. Tetapi yang
membedakan dengan kepribadian ganda adalah seseorang menciptakan karakter itu
secara sadar.”, kata Roman sembari memperbaiki posisi duduknya.
“Aku masih belum mengerti...”, kataku
dengan ekspresi wajah bingung.
“keh keh.., wajar kau tidak mengerti. Akan
aku beri contoh, kau tahu Peter Parker?”, katanya dengan sedikit tertawa.
“Ya, dia tokoh dalam film Spiderman”.
“Siapa dia?”
“Kalau tidak salah diperankan oleh Tobey
Maguire”
“keh keh keh.., Ya, itu salah satu nama
pemeran Peter Parker. Tapi bukan itu maksudku, maksudku adalah bagaimana Peter
Parker dalam film Spiderman?”, dia bertanya lagi dengan tertawa cukup lepas
kali ini, yang membuat orang disekitar kita sedikit terganggu. Melihat kondisi
itu, Roman sedikit mengecilkan suara tawanya yang aneh.
“Em.., dia seseorang yang culun, pemalu,
dan sedikit dikucilkan. Tapi setelah digigit serangga laba-laba ia berubah
menjadi spiderman dan menjadi super hero.”
“Tepat sekali. Peter Parker merupakan
karakter yang culun, pemalu dan dikucilkan oleh teman-temannya. Akan tetapi
disisi lain ia merupakan spiderman sang super hero, semua orang menyukai
karakter Spiderman dalam film tersebut karena kekuatan dan keberaniannya
membasmi kejahatan. Walapun sama-sama Peter Parker, terlihat jelas perbedaan
karakter sebelum dan sesudah berubah mejadi spiderman. Ia tetap culun dan
pemalu saat menjadi Peter Parker. Kemudian kuat dan pemberani saat menjadi spiderman.”,
katanya sembari menggerakan tangan seakan menggambarkan apa yang sedang ia
jelaskan.
“Oh.., aku mengerti sekarang. Padahal
sejak kecil aku ingin sekali menjadi seperti spiderman.”
“keh keh.., berarti kau juga mempunyai Alter
Ego.”, katanya sembari tertawa lagi.
“Hah?, apa Maksudmu?”, kataku dengan
sedikit mengernyitkan dahi.
“Sebenarnya setiap orang berpotensi
memiliki Alter Ego. Akan tetapi banyak yang tidak menyadarinya karena
tidak paham akan hal itu. Wajar-wajar saja seseorang memiliki Alter Ego,
tetapi akan menjadi berbahaya ketika karakter asli seseorang tidak bisa
mengendalikan Alter Ego yang dia miliki dan yang ia ciptakan adalah
karakter jahat.”, katanya dengan ekspresi wajah yang serius.
“Menurutku, setiap orang pasti memiliki
sisi jahat dalam dirinya. Dan kedua sisi yang berlawanan itu saling berebut
untuk menduduki posisi pada diri seseorang.”, kataku dengan ekspresi wajah tak
kalah serius, yang membuat dahi semakin berkerut.
“Em.., tidak salah juga pendapatmu. Untuk
itulah aku menelitinya. Mengetahui seberapa sering seseorang memposisikan
dirinya menjadi Alter Ego baik atau jahat.” Katanya dengan mata sipit
saat tersenyum.
Beberapa saat telah berlalu dengan
percakapan yang menarik bersama teman lamaku itu. Aku sudah tidak memperhatikan
cendekiawan muda yang sedang berbicara diatas panggung tersebut. Kami membuat
forum di dalam forum.
*****
Tanpa sadar dua jam telah berlalu. Acara
klub berbagi sore ini telah usai dan kami berjalan keluar dari gedung aula. Terlihat
awan menampakkan lazuardinya. Sebentar lagi langit akan menjadi gelap.
“Oh iya, Elena, Perkenalkan ini teman masa
kecilku namanya Roman.”, kami menghentikan langkah di depan gedung aula. Mereka
berdua berjabat tangan sembari memperkenalkan diri masing-masing.
“Senang berkenalan denganmu Elena, kamu
cantik sekali.”, kata Roman dengan sedikit salah tingkah menjabat tangan Elena.
“Terimakasih, Kamu seperti laki-laki pada
umumnya, salam kenal juga Roman.”, Elena sedikit tersenyum saat menjabat tangan
Roman, kemudian ekspresinya berubah menjadi biasa saja setelah melepaskan jabatan
tangan.
“Ah.., Sepertinya aku harus segera pergi Bayu,
aku ada janji bertemu seseorang.”, kata Roman sembari melihat jam tangan.
“Kenapa terburu-buru Roman? Kita sudah
lama tidak bertemu.”, kataku sedikit kecewa.
“Sebenarnya aku juga masih ingin berbicara
banyak denganmu. Em..., begini saja, beri aku alamat rumahmu, esok lusa aku
akan datang, jadi luangkan waktumu.”, katanya sembari mengeluarkan ponsel.
“Baiklah kalau begitu, cepat kau catat.”,
Kataku lalu ia dengan cekatan mengetik alamat yang aku katakan diponsel
pintarnya.
“Oke, sudah. Sampai jumpa besok teman”, ia
tersenyum sembari menjabat tanganku dan juga Elena. Kemudian pergi meninggalkan
kami berdua.
“Hati-hati Roman”, kataku mengakhiri
pertemuan dengannya pada hari ini.
“Kau bilang tidak memiliki teman
saat masih kecil?”, kata Elena dengan ekspresi datarnya.
“Memang, tapi dia adalah seseorang yang
menganggapku sebagai teman saat itu, dan tentu saja aku sangat senang sekali.”,
jawabku dengan tersenyum. Lalu aku menceritakan awal pertemuanku dengan Roman
kepadanya.
Saat bercerita sembari berjalan
meninggalkan gedung aula kampus, tepat diparkiran, aku melihat sosok wanita
yang membuat seluruh orang didalam gedung tadi terpana. Ya, dia adalah
cendekiawan muda Doctor Mika Andita. Ia terlihat berjalan sedikit tergesa-gesa.
Melihat kesempatan ini, aku langsung menghampirinya dan menyudahi ceritaku
kepada Elena.
“Sebentar Elena, aku ada urusan.”
“Hey, mau kemana kau?”, Elena mengikutiku
dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal.
“Hey Elena”, teriak seorang perempuan
menyapa Elena. Lalu Elena berhenti dan terlibat percakapan dengannya. Aku hanya
melirik sekilas perempuan itu. “Mungkin dia teman Elena”, batinku dalam
hati dan aku tetap berjalan menghampiri Doctor Mika Andita.
“Selamat sore Dr.Mika Andita”, aku
menyapanya yang sedang berdiri dan terlihat sibuk mencari sesuatu didalam tas.
“Selamat sore, hai.., kamu rupanya.
Bagaimana kondisimu?”, ia menjawab salamku sembari menatap dengan senyum
manisnya.
“Aku baik-baik saja, ini semua berkat
pertolonganmu, terima kasih sekali lagi.”
“Pertolongan?, Apa maksudmu?, Aku belum
sempat mengucapkan permintaan maaf kepadamu. Akulah yang menyebabkan kamu masuk
kerumah sakit tadi pagi. Maafkan aku terlambat untuk meminta maaf.”, katanya
dengan ekspresi wajah sedikit menyesal.
“Jadi yang menabrakku tadi pagi adalah Dr.
Mika? Berarti mobil merah ini adalah milikmu?”, kataku dengan sedikit tak
percaya.
“Iya, ternyata kamu masih mengingat mobil
yang menabrakmu. Tapi sukurlah kalau tidak terjadi apa-apa kepadamu, aku merasa
lega.”, jawabnya dengan tersenyum kemudian mulai mencari sesuatu dari dalam
tasnya lagi.
“Apakah
Dr.Mika sedang terburu-buru?”, tanyaku mengganggu kesibukannya.
“Iya, aku harus segera bergegas, tapi
kunci mobilku tidak ada.”, ia masih sibuk mengaduk-aduk tasnya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”, kataku
dengan nada serius.
“Ah...ini dia kunciku. Apa yang ingin kamu
tanyakan? Katakan saja.”, ia menatapku dengan senyuman manisnya yang membuat
obesitas.
“Aku ingin bertanya tentang sesuatu.
Maksudku tentang kartu dan pesan dalam kertas yang Dr.Mika titipkan kepetugas
administrasi rumah sakit tadi pagi. Apa maksud semua ini?”, kataku sembari
mengeluarkan kedua benda tersebut dari dalam tas, lalu menunjukan kepadanya.
“Hahaha.., aku kira kamu ingin bertanya
tentang apa yang aku sampaikan diacara klub berbagi tadi.”, ia tertawa sembari
menutup mulutnya menggunakan tangan. Seakan tidak ingin giginya terlihat.
“Oh tuhan.., ia terlihat semakin cantik
ketika seperti itu.”, Batinku dalam hati.
“Kartu ini adalah electronic money dan
yang tertulis dikertas ini adalah identitas untuk menggunakannya.”, katanya
sembari menunjuk kedua benda tersebut dengan telunjuknya.
“Ah.., aku kira apa, setahuku electronic
money tidak memerlukan PIN untuk menggunakannya.”
“Kartu itu dibuat khusus untukku, demi
keamanan dan mengetahui laporan selama aku menggunakannya. Semua itu
berhubungan dengan perusahaan.”, katanya sembari tersenyum.
“Em.., begitu. Lalu pesan terakhir dalam
kertas ini, apa yang ingin Dr.Mika tanyakan kepadaku?”, kataku sembari
menunjukan tulisan dikertas pemberiannya.
“Begini Bayu...,”
“Dari mana kamu tahu namaku?”, Aku
memotong perkataannya. Sejak awal pertemuanku dengannya. Aku merasa belum
memperkenalkan diri sama sekali.
“Kenapa ia mengetahui namaku?”,
kataku dalam hati.
“Saat awal bertemu denganmu, sebenarnya
aku masih sedikit ragu. Apakah kamu memang benar Bayu, putra dari almarhum
Profesor Kusno Niscala.”, ia menatapku dengan tatapan dalam. Dan aku sedikit
terkejut, ternyata dia juga mengetahui nama ayahku.
“Dari mana kamu mengetahui nama ayahku?”
“Mungkin kamu lupa. Saat kamu masih kecil,
kita pernah bertemu.”
“Bertemu? Aku tidak ingat sama sekali,
mana mungkin aku bisa lupa. Apa yang kamu ketahui lagi?”, kataku sembari
berpikir mencoba mengingat sesuatu.
“Aku tidak memiliki banyak waktu
sekarang.”, ia meraih sesuatu dari dalam tasnya. kemudian memberikan kartu nama
kepadaku.
“Datanglah ke labolatoriumku, aku akan
menceritakan sebuah rahasia yang menarik untukmu.”
“Sebuah rahasia? Rahasia apa?”, kataku
dengan penuh antusias.
“Tentang kematian ayahmu.”
*****
No comments:
Post a Comment