welcome

Friday, September 22, 2017

Pencuri Chapter 8: Janji Pertemuan


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 8
“Janji Pertemuan”

“Apa itu Alter Ego?”, kataku penuh dengan tanda tanya.
“Em..., bagaimana ya menjelaskannya. Begini, Alter Ego itu seperti kepribadian ganda.”
“Kepribadian ganda? Maksudnya?”
“Maksudnya, Alter Ego adalah kondisi dimana seseorang menciptakan karakter baru dalam dirinya. Tetapi yang membedakan dengan kepribadian ganda adalah seseorang menciptakan karakter itu secara sadar.”, kata Roman sembari memperbaiki posisi duduknya.
“Aku masih belum mengerti...”, kataku dengan ekspresi wajah bingung.
“keh keh.., wajar kau tidak mengerti. Akan aku beri contoh, kau tahu Peter Parker?”, katanya dengan sedikit tertawa.
“Ya, dia tokoh dalam film Spiderman”.
“Siapa dia?”
“Kalau tidak salah diperankan oleh Tobey Maguire”
“keh keh keh.., Ya, itu salah satu nama pemeran Peter Parker. Tapi bukan itu maksudku, maksudku adalah bagaimana Peter Parker dalam film Spiderman?”, dia bertanya lagi dengan tertawa cukup lepas kali ini, yang membuat orang disekitar kita sedikit terganggu. Melihat kondisi itu, Roman sedikit mengecilkan suara tawanya yang aneh.
“Em.., dia seseorang yang culun, pemalu, dan sedikit dikucilkan. Tapi setelah digigit serangga laba-laba ia berubah menjadi spiderman dan menjadi super hero.
“Tepat sekali. Peter Parker merupakan karakter yang culun, pemalu dan dikucilkan oleh teman-temannya. Akan tetapi disisi lain ia merupakan spiderman sang super hero, semua orang menyukai karakter Spiderman dalam film tersebut karena kekuatan dan keberaniannya membasmi kejahatan. Walapun sama-sama Peter Parker, terlihat jelas perbedaan karakter sebelum dan sesudah berubah mejadi spiderman. Ia tetap culun dan pemalu saat menjadi Peter Parker. Kemudian kuat dan pemberani saat menjadi spiderman.”, katanya sembari menggerakan tangan seakan menggambarkan apa yang sedang ia jelaskan.
“Oh.., aku mengerti sekarang. Padahal sejak kecil aku ingin sekali menjadi seperti spiderman.”
“keh keh.., berarti kau juga mempunyai Alter Ego.”, katanya sembari tertawa lagi.
“Hah?, apa Maksudmu?”, kataku dengan sedikit mengernyitkan dahi.
“Sebenarnya setiap orang berpotensi memiliki Alter Ego. Akan tetapi banyak yang tidak menyadarinya karena tidak paham akan hal itu. Wajar-wajar saja seseorang memiliki Alter Ego, tetapi akan menjadi berbahaya ketika karakter asli seseorang tidak bisa mengendalikan Alter Ego yang dia miliki dan yang ia ciptakan adalah karakter jahat.”, katanya dengan ekspresi wajah yang serius.
“Menurutku, setiap orang pasti memiliki sisi jahat dalam dirinya. Dan kedua sisi yang berlawanan itu saling berebut untuk menduduki posisi pada diri seseorang.”, kataku dengan ekspresi wajah tak kalah serius, yang membuat dahi semakin berkerut.
“Em.., tidak salah juga pendapatmu. Untuk itulah aku menelitinya. Mengetahui seberapa sering seseorang memposisikan dirinya menjadi Alter Ego baik atau jahat.” Katanya dengan mata sipit saat tersenyum.
Beberapa saat telah berlalu dengan percakapan yang menarik bersama teman lamaku itu. Aku sudah tidak memperhatikan cendekiawan muda yang sedang berbicara diatas panggung tersebut. Kami membuat forum di dalam forum.
*****
Tanpa sadar dua jam telah berlalu. Acara klub berbagi sore ini telah usai dan kami berjalan keluar dari gedung aula. Terlihat awan menampakkan lazuardinya. Sebentar lagi langit akan menjadi gelap.
“Oh iya, Elena, Perkenalkan ini teman masa kecilku namanya Roman.”, kami menghentikan langkah di depan gedung aula. Mereka berdua berjabat tangan sembari memperkenalkan diri masing-masing.
“Senang berkenalan denganmu Elena, kamu cantik sekali.”, kata Roman dengan sedikit salah tingkah menjabat tangan Elena.
“Terimakasih, Kamu seperti laki-laki pada umumnya, salam kenal juga Roman.”, Elena sedikit tersenyum saat menjabat tangan Roman, kemudian ekspresinya berubah menjadi biasa saja setelah melepaskan jabatan tangan.
“Ah.., Sepertinya aku harus segera pergi Bayu, aku ada janji bertemu seseorang.”, kata Roman sembari melihat jam tangan.
“Kenapa terburu-buru Roman? Kita sudah lama tidak bertemu.”, kataku sedikit kecewa.
“Sebenarnya aku juga masih ingin berbicara banyak denganmu. Em..., begini saja, beri aku alamat rumahmu, esok lusa aku akan datang, jadi luangkan waktumu.”, katanya sembari mengeluarkan ponsel.
“Baiklah kalau begitu, cepat kau catat.”, Kataku lalu ia dengan cekatan mengetik alamat yang aku katakan diponsel pintarnya.
“Oke, sudah. Sampai jumpa besok teman”, ia tersenyum sembari menjabat tanganku dan juga Elena. Kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
“Hati-hati Roman”, kataku mengakhiri pertemuan dengannya pada hari ini.
            “Kau bilang tidak memiliki teman saat masih kecil?”, kata Elena dengan ekspresi datarnya.
            “Memang, tapi dia adalah seseorang yang menganggapku sebagai teman saat itu, dan tentu saja aku sangat senang sekali.”, jawabku dengan tersenyum. Lalu aku menceritakan awal pertemuanku dengan Roman kepadanya.
Saat bercerita sembari berjalan meninggalkan gedung aula kampus, tepat diparkiran, aku melihat sosok wanita yang membuat seluruh orang didalam gedung tadi terpana. Ya, dia adalah cendekiawan muda Doctor Mika Andita. Ia terlihat berjalan sedikit tergesa-gesa. Melihat kesempatan ini, aku langsung menghampirinya dan menyudahi ceritaku kepada Elena.
“Sebentar Elena, aku ada urusan.”
“Hey, mau kemana kau?”, Elena mengikutiku dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal.
“Hey Elena”, teriak seorang perempuan menyapa Elena. Lalu Elena berhenti dan terlibat percakapan dengannya. Aku hanya melirik sekilas perempuan itu. “Mungkin dia teman Elena”, batinku dalam hati dan aku tetap berjalan menghampiri Doctor Mika Andita.
“Selamat sore Dr.Mika Andita”, aku menyapanya yang sedang berdiri dan terlihat sibuk mencari sesuatu didalam tas.
“Selamat sore, hai.., kamu rupanya. Bagaimana kondisimu?”, ia menjawab salamku sembari menatap dengan senyum manisnya.
“Aku baik-baik saja, ini semua berkat pertolonganmu, terima kasih sekali lagi.”
“Pertolongan?, Apa maksudmu?, Aku belum sempat mengucapkan permintaan maaf kepadamu. Akulah yang menyebabkan kamu masuk kerumah sakit tadi pagi. Maafkan aku terlambat untuk meminta maaf.”, katanya dengan ekspresi wajah sedikit menyesal.
“Jadi yang menabrakku tadi pagi adalah Dr. Mika? Berarti mobil merah ini adalah milikmu?”, kataku dengan sedikit tak percaya.
“Iya, ternyata kamu masih mengingat mobil yang menabrakmu. Tapi sukurlah kalau tidak terjadi apa-apa kepadamu, aku merasa lega.”, jawabnya dengan tersenyum kemudian mulai mencari sesuatu dari dalam tasnya lagi.
“Apakah  Dr.Mika sedang terburu-buru?”, tanyaku mengganggu kesibukannya.
“Iya, aku harus segera bergegas, tapi kunci mobilku tidak ada.”, ia masih sibuk mengaduk-aduk tasnya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”, kataku dengan nada serius.
“Ah...ini dia kunciku. Apa yang ingin kamu tanyakan? Katakan saja.”, ia menatapku dengan senyuman manisnya yang membuat obesitas.
“Aku ingin bertanya tentang sesuatu. Maksudku tentang kartu dan pesan dalam kertas yang Dr.Mika titipkan kepetugas administrasi rumah sakit tadi pagi. Apa maksud semua ini?”, kataku sembari mengeluarkan kedua benda tersebut dari dalam tas, lalu menunjukan kepadanya.
“Hahaha.., aku kira kamu ingin bertanya tentang apa yang aku sampaikan diacara klub berbagi tadi.”, ia tertawa sembari menutup mulutnya menggunakan tangan. Seakan tidak ingin giginya terlihat.
“Oh tuhan.., ia terlihat semakin cantik ketika seperti itu.”, Batinku dalam hati.
“Kartu ini adalah electronic money dan yang tertulis dikertas ini adalah identitas untuk menggunakannya.”, katanya sembari menunjuk kedua benda tersebut dengan telunjuknya.
“Ah.., aku kira apa, setahuku electronic money tidak memerlukan PIN untuk menggunakannya.”
“Kartu itu dibuat khusus untukku, demi keamanan dan mengetahui laporan selama aku menggunakannya. Semua itu berhubungan dengan perusahaan.”, katanya sembari tersenyum.
“Em.., begitu. Lalu pesan terakhir dalam kertas ini, apa yang ingin Dr.Mika tanyakan kepadaku?”, kataku sembari menunjukan tulisan dikertas pemberiannya.
“Begini Bayu...,”
“Dari mana kamu tahu namaku?”, Aku memotong perkataannya. Sejak awal pertemuanku dengannya. Aku merasa belum memperkenalkan diri sama sekali.
Kenapa ia mengetahui namaku?”, kataku dalam hati.
“Saat awal bertemu denganmu, sebenarnya aku masih sedikit ragu. Apakah kamu memang benar Bayu, putra dari almarhum Profesor Kusno Niscala.”, ia menatapku dengan tatapan dalam. Dan aku sedikit terkejut, ternyata dia juga mengetahui nama ayahku.
“Dari mana kamu mengetahui nama ayahku?”
“Mungkin kamu lupa. Saat kamu masih kecil, kita pernah bertemu.”
“Bertemu? Aku tidak ingat sama sekali, mana mungkin aku bisa lupa. Apa yang kamu ketahui lagi?”, kataku sembari berpikir mencoba mengingat sesuatu.
“Aku tidak memiliki banyak waktu sekarang.”, ia meraih sesuatu dari dalam tasnya. kemudian memberikan kartu nama kepadaku.
“Datanglah ke labolatoriumku, aku akan menceritakan sebuah rahasia yang menarik untukmu.”
“Sebuah rahasia? Rahasia apa?”, kataku dengan penuh antusias.
“Tentang kematian ayahmu.”
*****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...