welcome

Friday, October 6, 2017

Cerpen: Teman Bermain


“Teman Bermain”
Oleh : Aufklarung Nugroho

            Namaku Lauren. Aku adalah wanita berusia dua puluh delapan tahun. Enam tahun yang lalu seorang laki-laki yang telah aku kenal cukup lama datang kerumah menemui orang tuaku. Namanya Irvanda, ia datang bertujuan untuk melamarku. Aku sangat gembira sekali saat itu, dan akhirnya kami menikah.
Diusia lima tahun pernikahan, kami telah diberi karunia seorang anak perempuan. Seperti pasangan suami istri pada umumnya, anak adalah kado terindah dari sebuah pernikahan. Anak kami sudah berusia empat tahun saat ini, dan kami memberinya nama Beby. Ia sangat mirip dengan diriku, hidungnya mancung, bermata sedikit sipit, dengan rambut lurus berwarna seperti jagung. Berbeda dengan ayahnya yang berhidung besar, bermata lebar, dan berambut ikal.
Beby tumbuh dengan normal. Akan tetapi aku merasakan sesuatu hal yang tidak biasa pada dirinya. Ia tidak ceria seperti anak-anak lain seusianya. Ia terlihat sedikit pendiam, bahkan suatu hari aku mengajaknya bermain di taman dan ia tidak terlihat senang. Ia tidak mau bergaul dengan teman-teman seusianya, ia tidak mau berlari-lari sembari tertawa riang, dan ia lebih memilih duduk diam dikursi mengamati keadaan sekitar. Melihat hal tersebut aku mencoba menghiburnya.
“Sayang, kamu mau es krim?”, kataku sembari berjongkok didepannya yang sedang duduk dikursi taman dibawah pohon besar. Ia hanya menganggukan kepala sembari menatapku dengan ekspresi datar.
“Tunggu sebentar ya, mamah mau beli es krim dulu disitu. Jangan kemana-mana.”, kataku sembari menunjuk penjual es krim yang berjarak sekitar 20 meter dari posisi kami sekarang. Kemudian aku berjalan menuju kearah penjual es krim dan meninggalkan Beby sendirian. Aku memesankan es krim kesukaannya.
“Es krim coklatnya satu ya mas.?”, kataku kepada penjual es krim.
“Iya, mohon tunggu sebentar nyonya.”, sang penjual es krim berkata dengan tersenyum.
Sembari menunggu pesananku dibuat, aku mengamati Beby dari kejauhan. Terlihat Beby masih dalam posisinya, duduk dikursi taman dibawah pohon. Akan tetapi ada yang sedikit aneh dari gerak geriknya. Aku memicingkan mata mencoba melihatnya dengan lebih jelas. Ia terlihat seperti sedang berbicara sendirian. Dari artikel yang pernah aku baca, itu merupakan hal wajar yang dilakukan seorang anak seusianya. Anak diusia seperti Beby memiliki imajinasi yang sangat tinggi, dan mungkin yang Beby lakukan adalah sedang berbicara dengan teman imajinasinya.
“Ini es krim pesanan anda nyonya, silahkan.”, fokusku terbuyarkan oleh penjual es krim yang memberitahukan bahwa pesananku sudah siap.
“Eh iya, terima kasih mas. Ini uangnya.”, kataku sembari memberikan uang lalu menerima es krim coklat pesananku.
Aku masih memperhatikan Beby sembari berjalan mendekatinya. Ia masih terlihat berbicara sendiri, dan tiba-tiba terdiam saat melihatku datang menghampirinya.
“Coba tebak. Mamah bawa es krim apa?”, aku jongkok lagi didepannya sembari menyembunyikan tanganku yang menggenggam es krim di balik punggung.
“Tara..., es krim coklat kesukaanmu.”, aku menyodorkan es krim coklat kepadanya dan ia sedikit tersenyum menerima es krim itu lalu memakannya.
Dihari yang lain, aku melihat Beby melakukan hal aneh lagi. Kali ini terjadi dirumah saat aku sedang memasak di dapur dan Beby bermain diruang tengah. Ruang tengah adalah tempat berkumpul keluarga. Jaraknya sangat dekat dengan dapur dan tanpa sekat, sehingga aku bisa melihat Beby dengan jelas. Saat aku sedang fokus memasak, samar-samar aku mendengar suara Beby seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
“Nama kamu siapa?, kenapa kamu terlihat seperti itu?, kamu sakit?”
Mendengar apa yang sedang Beby katakan aku berhenti sejenak, kemudia mengamati Beby. Ia terlihat duduk dilantai sedang memegang dua buah boneka barbie.
“Dia sedang bermain dengan bonekanya Lauren. Tenang saja, tidak usah khawatir, itu wajar.”, kataku dalam hati mencoba menenangkan diri sendiri.
“Sayang, kamu pengen makan siang sama apa?”, kataku kepada Beby.
“Aku pengen makan sayur bayam sama tahu goreng mah.”, anak itu menatapku sembari tersenyum dan senyumannya sedikit meredakan kekhawatiranku.
Sayur bayam adalah makanan kesukaannya, dan memang aku sedang memasak itu tanpa kebetulan.
*****
Disuatu malam, kekhawatiranku telah mencapai puncaknya. Malam ini adalah malam jumat. Udara terasa lebih dingin karena diguyur hujan sejak sore tadi.  Aku masih terjaga membaca buku dimeja ruang tengah dan suamiku sudah tertidur lelap dikamar. Kulihat jam menunjukan pukul dua belas malam. Kututup buku yang ada digenggamanku kemudian mengembalikannya kedalam rak. Aku beranjak menuju kekamar untuk tidur. Tapi seperti biasa, sebelum tidur aku mengecek kamar Beby yang berada didepan kamarku.
Aku sudah berada didepan pintu kamar Beby, akan tetapi gerakku tertahan karena mendengar suara dari balik pintu itu. Kucoba membukanya secara perlahan sampai aku bisa mengintipnya dari celah pintu. Terlihat Beby belum tidur, ia kembali berbicara sendiri. Aku mencoba mendengarkan apa yang sedang ia katakan.
“Kamu kesepian ya?, yasudah tidak apa-apa, kamu tinggal disini saja bersamaku, besok kita main lagi”, Beby berbicara sendiri sembari berbaring ditempat tidur dan melepaskan pandangannya kesebelah kiri.
Mendengar apa yang ia katakan membuatku menjadi sangat khawatir. Sebagai orang tua, aku harus memastikan bahwa ia baik-baik saja. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara. Mencari tahu apa yang sedang diimajinasikannya. Kemudia perlahan aku masuk, berdiri tepat berada dibawah kakinya dan ia belum menyadari kehadiranku.
“Kamu belum tidur sayang?”, kataku membuatnya sedikit kaget.
“Eh.., belum mah.”, ia mengarahkan pandangan kepadaku.
“Kamu sedang berbicara dengan siapa?, sejak kemarin mamah lihat kamu berbicara sendiri.”, kataku sembari duduk disebelah kirinya.
“Aku berbicara sama temanku mah.” Katanya.
“Teman? Namanya siapa sayang?”, kataku sembari mengelus rambutnya.
“Namanya Karina”.
“Nama yang bagus. Apakah dia ada disini?”, kataku sembari tersenyum.
“Iya mah”
Mendengar jawaban itu senyumku meredup. “Apakah ini juga bagian dari imajinasinya?”, kataku dalam hati.
“Benarkah sayang? Lalu sekarang dia dimana?”, aku mencoba tersenyum lagi dan meyakinkan bahwa apa yang dikatakan Beby tidak benar.
“Dia sedang berdiri disamping meja itu dan melihat kearah kita.”, katanya sembari menunjuk meja di sebelah kiri kami.
Mendengar jawabannya hatiku menjadi sangat was-was dan kali ini senyumku benar-benar hilang. Padanganku mengarah pada meja itu. Kosong, tidak ada apa-apa kecuali pensil warna dan boneka barbie yang biasa ia mainkan tergeletak diatas meja.
“Maksud kamu boneka barbie itukan sayang?”, kataku mencoba memastikan apa maksud perkataannya tadi.
“Bukan mah, tapi disamping meja itu. Dia sedang berdiri dan tersenyum kepada mamah.”, katanya dengan nada yang sangat polos.
Bulu kuduk ku berdiri kali ini. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Beby. Jelas sekali disamping meja itu kosong, tidak ada apa-apa. Untuk memastikannya aku mencoba mendekat. Aku berdiri tepat didepan posisi yang ia maksud.
“Dia disini sayang?”, aku menunjuknya dengan telunjukku dan Beby hanya menganggukkan kepala mengiyakan.
Kurasai hawa yang aneh didepan posisiku berdiri saat ini. Aku mencoba menengok kearah cermin tepat disebelah kananku secara perlahan. Lalu kudapati dari bayangan dicermin itu, sosok anak kecil berdiri tepat didepanku sembari tersenyum lebar. Wajahnya sangat pucat mengenakan baju berwarna putih. Melihat hal tersebut sepontan aku berteriak dan terperangan kebelakang.

Sejak saat itu, aku baru sadar bahwa Beby berteman dengan hantu.
*****

2 comments:

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...