“Teman Bermain”
Oleh : Aufklarung Nugroho
Namaku Lauren.
Aku adalah wanita berusia dua puluh delapan tahun. Enam tahun yang lalu seorang
laki-laki yang telah aku kenal cukup lama datang kerumah menemui orang tuaku.
Namanya Irvanda, ia datang bertujuan untuk melamarku. Aku sangat gembira sekali
saat itu, dan akhirnya kami menikah.
Diusia lima tahun pernikahan, kami telah
diberi karunia seorang anak perempuan. Seperti pasangan suami istri pada
umumnya, anak adalah kado terindah dari sebuah pernikahan. Anak kami sudah
berusia empat tahun saat ini, dan kami memberinya nama Beby. Ia sangat mirip
dengan diriku, hidungnya mancung, bermata sedikit sipit, dengan rambut lurus
berwarna seperti jagung. Berbeda dengan ayahnya yang berhidung besar, bermata
lebar, dan berambut ikal.
Beby tumbuh dengan normal. Akan
tetapi aku merasakan sesuatu hal yang tidak biasa pada dirinya. Ia tidak ceria
seperti anak-anak lain seusianya. Ia terlihat sedikit pendiam, bahkan suatu
hari aku mengajaknya bermain di taman dan ia tidak terlihat senang. Ia tidak
mau bergaul dengan teman-teman seusianya, ia tidak mau berlari-lari sembari
tertawa riang, dan ia lebih memilih duduk diam dikursi mengamati keadaan
sekitar. Melihat hal tersebut aku mencoba menghiburnya.
“Sayang, kamu mau es krim?”, kataku
sembari berjongkok didepannya yang sedang duduk dikursi taman dibawah pohon
besar. Ia hanya menganggukan kepala sembari menatapku dengan ekspresi datar.
“Tunggu sebentar ya, mamah mau beli
es krim dulu disitu. Jangan kemana-mana.”, kataku sembari menunjuk penjual es
krim yang berjarak sekitar 20 meter dari posisi kami sekarang. Kemudian aku
berjalan menuju kearah penjual es krim dan meninggalkan Beby sendirian. Aku
memesankan es krim kesukaannya.
“Es krim coklatnya satu ya mas.?”,
kataku kepada penjual es krim.
“Iya, mohon tunggu sebentar
nyonya.”, sang penjual es krim berkata dengan tersenyum.
Sembari menunggu pesananku dibuat,
aku mengamati Beby dari kejauhan. Terlihat Beby masih dalam posisinya, duduk
dikursi taman dibawah pohon. Akan tetapi ada yang sedikit aneh dari gerak
geriknya. Aku memicingkan mata mencoba melihatnya dengan lebih jelas. Ia terlihat
seperti sedang berbicara sendirian. Dari artikel yang pernah aku baca, itu
merupakan hal wajar yang dilakukan seorang anak seusianya. Anak diusia seperti
Beby memiliki imajinasi yang sangat tinggi, dan mungkin yang Beby lakukan
adalah sedang berbicara dengan teman imajinasinya.
“Ini es krim pesanan anda nyonya,
silahkan.”, fokusku terbuyarkan oleh penjual es krim yang memberitahukan bahwa
pesananku sudah siap.
“Eh iya, terima kasih mas. Ini uangnya.”,
kataku sembari memberikan uang lalu menerima es krim coklat pesananku.
Aku masih memperhatikan Beby
sembari berjalan mendekatinya. Ia masih terlihat berbicara sendiri, dan
tiba-tiba terdiam saat melihatku datang menghampirinya.
“Coba tebak. Mamah bawa es krim
apa?”, aku jongkok lagi didepannya sembari menyembunyikan tanganku yang
menggenggam es krim di balik punggung.
“Tara..., es krim coklat
kesukaanmu.”, aku menyodorkan es krim coklat kepadanya dan ia sedikit tersenyum
menerima es krim itu lalu memakannya.
Dihari yang lain, aku melihat Beby
melakukan hal aneh lagi. Kali ini terjadi dirumah saat aku sedang memasak di
dapur dan Beby bermain diruang tengah. Ruang tengah adalah tempat berkumpul
keluarga. Jaraknya sangat dekat dengan dapur dan tanpa sekat, sehingga aku bisa
melihat Beby dengan jelas. Saat aku sedang fokus memasak, samar-samar aku
mendengar suara Beby seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
“Nama kamu siapa?, kenapa kamu
terlihat seperti itu?, kamu sakit?”
Mendengar apa yang sedang Beby katakan
aku berhenti sejenak, kemudia mengamati Beby. Ia terlihat duduk dilantai sedang
memegang dua buah boneka barbie.
“Dia sedang bermain dengan
bonekanya Lauren. Tenang saja, tidak usah khawatir, itu wajar.”, kataku dalam
hati mencoba menenangkan diri sendiri.
“Sayang, kamu pengen makan siang
sama apa?”, kataku kepada Beby.
“Aku pengen makan sayur bayam sama
tahu goreng mah.”, anak itu menatapku sembari tersenyum dan senyumannya sedikit
meredakan kekhawatiranku.
Sayur bayam adalah makanan
kesukaannya, dan memang aku sedang memasak itu tanpa kebetulan.
*****
Disuatu malam, kekhawatiranku telah
mencapai puncaknya. Malam ini adalah malam jumat. Udara terasa lebih dingin karena
diguyur hujan sejak sore tadi. Aku masih
terjaga membaca buku dimeja ruang tengah dan suamiku sudah tertidur lelap
dikamar. Kulihat jam menunjukan pukul dua belas malam. Kututup buku yang ada
digenggamanku kemudian mengembalikannya kedalam rak. Aku beranjak menuju
kekamar untuk tidur. Tapi seperti biasa, sebelum tidur aku mengecek kamar Beby
yang berada didepan kamarku.
Aku sudah berada didepan pintu
kamar Beby, akan tetapi gerakku tertahan karena mendengar suara dari balik
pintu itu. Kucoba membukanya secara perlahan sampai aku bisa mengintipnya dari
celah pintu. Terlihat Beby belum tidur, ia kembali berbicara sendiri. Aku
mencoba mendengarkan apa yang sedang ia katakan.
“Kamu kesepian ya?, yasudah tidak
apa-apa, kamu tinggal disini saja bersamaku, besok kita main lagi”, Beby
berbicara sendiri sembari berbaring ditempat tidur dan melepaskan pandangannya
kesebelah kiri.
Mendengar apa yang ia katakan
membuatku menjadi sangat khawatir. Sebagai orang tua, aku harus memastikan
bahwa ia baik-baik saja. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengajaknya
berbicara. Mencari tahu apa yang sedang diimajinasikannya. Kemudia perlahan aku
masuk, berdiri tepat berada dibawah kakinya dan ia belum menyadari kehadiranku.
“Kamu belum tidur sayang?”, kataku
membuatnya sedikit kaget.
“Eh.., belum mah.”, ia mengarahkan
pandangan kepadaku.
“Kamu sedang berbicara dengan
siapa?, sejak kemarin mamah lihat kamu berbicara sendiri.”, kataku sembari
duduk disebelah kirinya.
“Aku berbicara sama temanku mah.” Katanya.
“Teman? Namanya siapa sayang?”,
kataku sembari mengelus rambutnya.
“Namanya Karina”.
“Nama yang bagus. Apakah dia ada
disini?”, kataku sembari tersenyum.
“Iya mah”
Mendengar jawaban itu senyumku
meredup. “Apakah ini juga bagian dari imajinasinya?”, kataku dalam hati.
“Benarkah sayang? Lalu sekarang dia
dimana?”, aku mencoba tersenyum lagi dan meyakinkan bahwa apa yang dikatakan
Beby tidak benar.
“Dia sedang berdiri disamping meja
itu dan melihat kearah kita.”, katanya sembari menunjuk meja di sebelah kiri
kami.
Mendengar jawabannya hatiku menjadi
sangat was-was dan kali ini senyumku benar-benar hilang. Padanganku mengarah
pada meja itu. Kosong, tidak ada apa-apa kecuali pensil warna dan boneka barbie
yang biasa ia mainkan tergeletak diatas meja.
“Maksud kamu boneka barbie itukan
sayang?”, kataku mencoba memastikan apa maksud perkataannya tadi.
“Bukan mah, tapi disamping meja
itu. Dia sedang berdiri dan tersenyum kepada mamah.”, katanya dengan nada yang
sangat polos.
Bulu kuduk ku berdiri kali
ini. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Beby. Jelas sekali disamping
meja itu kosong, tidak ada apa-apa. Untuk memastikannya aku mencoba mendekat. Aku
berdiri tepat didepan posisi yang ia maksud.
“Dia disini sayang?”, aku
menunjuknya dengan telunjukku dan Beby hanya menganggukkan kepala mengiyakan.
Kurasai hawa yang aneh didepan
posisiku berdiri saat ini. Aku mencoba menengok kearah cermin tepat disebelah
kananku secara perlahan. Lalu kudapati dari bayangan dicermin itu, sosok anak
kecil berdiri tepat didepanku sembari tersenyum lebar. Wajahnya sangat pucat
mengenakan baju berwarna putih. Melihat hal tersebut sepontan aku berteriak dan
terperangan kebelakang.
Sejak saat itu, aku baru sadar
bahwa Beby berteman dengan hantu.
*****
Nice
ReplyDeleteTHXs.. :)
Delete