Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 7
“ROMAN GORAN”
Suatu sore, disaat aku melangkah
menyusuri persimpangan jalan yang sepi. Tiba-tiba, dua orang dewasa datang
menghampiriku. Mereka berpakaian kusut, dengan celana jeans yang berlubang
dibagian lutut. Berjalan dengan langkah yang tidak tegap, terhuyung-huyung
seakan hampir jatuh.
“Hei bocah! berikan uangmu!”, salah satu
dari mereka yang berambut panjang menghadangku, menggertak dengan nafas berbau
alkohol.
“Siapa yang kau panggil bocah, hah?”,
Aku menatap wajah merah orang itu dengan tatapan datar.
Memang aku masih kecil saat itu, masih
duduk dibangku sekolah dasar. Saat itu aku sedang jalan-jalan mencari hiburan. Aku
sudah terbiasa pergi sendirian, walaupun bibi Asih khawatir, ia tidak pernah
melarangku.
“Berani juga kau rupanya, sini berikan
uangmu!”, laki-laki itu menggeledah seluruh saku celana dan jaketku.
“Singkirkan tanganmu!”, teriakku dengan
menepis tangan laki-laki yang menggerayangiku itu.
“Bocah sialan! kemari kau biar kuberi
pelajaran!”
BUKKKK!
Pandanganku berkunang-kunang dan rahangku
terasa sakit. Kulihat samar-samar seorang berambut cepak, teman dari laki-laki
berambut panjang itu datang menghampiriku. Tatapannya sangat tajam dan dalam,
tanpa basa-basi ia menendangku tepat diperut dan membuatku terkapar dengan rasa
sakit yang luar biasa.
“Akh...!”, erangku dengan tangan memegangi
perut.
Kurasai mulutku terasa asin dan sepertinya
mengeluarkan darah. Orang berambut cepak itu kembali menendangku, kali ini
tepat diwajah dengan posisiku yang masih terkapar. Pandanganku mulai tidak
jelas, dan rasanya wajahku seperti hancur dengan rasa sakit yang luar biasa.
“Hei! jangan berlebihan. Dia hanya anak
kecil. Bisa gawat kalau dia sampai mati.”
Kudengar suara laki-laki berambut panjang
memperingatkan temannya.
“Biarkan saja. Bocah tengik seperti dia
memang pantas dihajar.”, kata orang berambut cepak itu dengan nada yang datar.
“Sudahlah kita pergi saja, dia tidak
mempunyai uang.”
“Sebentar, biar aku hajar bocah bermulut
besar ini sekali lagi.”, laki-laki berambut cepak itu kembali mengayunkan
kakinya kearahku. Tapi sebelum kaki itu mengenaiku, terdengar suara sirine
mobil polisi dari kejauhan.
Wiu....wiu...wiu......
“Sudah! Ayo kita pergi sekarang! Ada
Polisi!”
Kulihat laki-laki berambut panjang menarik
temannya, kemudian mereka lari meninggalkanku yang terkapar penuh memar dan
darah. Aku mengerang kesakitan tak berdaya. Lalu beberapa saat kudengar langkah
kaki datang mendekat kearahku.
“Kau tidak apa-apa?”, suara anak laki-laki
terdengar ditelingaku.
Aku mencoba membuka mata, menoleh
memandangi sekitar. Tidak ada mobil polisi.
“Aku tidak apa-apa, kau siapa? Kudengar
tadi ada sirine mobil polisi?”, Aku mencoba bangkit untuk duduk dengan merintih
sakit dan ia membantuku.
“Tidak ada polisi yang datang. Akulah yang
membunyikan sirine tadi.”, katanya sembari membantuku untuk duduk.
“Hah? Bagaimana kau melakukannya?”, kataku
dengan mencoba bangkit berdiri dibantu olehnya.
“Aku melihatmu dihajar dua orang tadi.
Karena aku tidak bisa berkelahi, maka aku mencari cara untuk menakut-nakuti
mereka. Aku memandangi setiap sudut jalan dan menemukan tumpukan botol plastik
bekas di tempat sampah. Lalu aku membuat botol plastik itu menjadi pengeras
suara sirine mobil polisi yang berasal dari ponselku. Syukurlah cara itu
berhasil membuat mereka pergi. Bagaimana keadaanmu?”, katanya dengan masih
membantuku untuk berdiri.
“Jadi begitu? Terima kasih banyak telah
menolongku. Sepertinya aku tidak apa-apa, hanya wajah dan perutku terasa
sedikit nyeri.”, tangan kiriku memegangi perut dan tangan kanan mengusap
mulutku yang berdarah.
“Pakailah ini, pakaianmu bisa kotor
terkena darah. Kebetulan aku baru saja dari supermarket”, ia memberikan
seplastik tisue kemasan kecil kepadaku.
“Ah.., terimakasih banyak”, aku meraih
tisue pemberiannya, kemudian membersihkan bekas darah yang tersisa diwajah dan
pakaianku.
“Ngomong-ngomong aku tidak pernah
melihatmu, kau tinggal dimana?”, katanya.
“Aku tinggal di perumahan sedikit jauh
dari sini”, jawabku sembari tetap membersihkan sisa darah dengan tisue.
“Oh.., pantas saja. Dikomplek ini kau
terlihat asing. Lebih baik kau cepat pulang, hari sudah semakin gelap. Didaerah
sini memang sedikit sepi, berhati-hatilah.”, katanya memperingatkanku.
“Iya.., sekali lagi terimakasih telah
menolongku. Ngomong-ngomong, kenapa kau mau menolongku? Padahal kau tidak
mengenaliku.”, tanyaku sembari membersihkan jaket yang terkena debu jalanan.
“Kata ibuku, berbuat baiklah kepada semua
orang terutama teman-temanmu. Kau terlihat seumuran denganku berarti kau adalah
temanku.”, ia mengucapkan itu sembari tersenyum kepadaku.
Baru kali itu ada seseorang yang
mengatakan bahwa aku adalah temannya. Aku kira semua orang menganggap bahwa
diriku aneh. Tidak ada orang yang ingin dekat denganku apalagi menjadi temanku.
Aku sedikit kaget dan juga senang mendengar ia berkata seperti itu.
“Ah, aku harus segera pergi. Ibu sudah
menungguku dirumah.” Ia sedikit terburu-buru dengan plastik kresek dikedua
tangannya.
“Siapa namamu? Namaku Bayu, Bayu Segara.”,
Sebelum ia beranjak pergi, aku mengulurkan tangan kananku kepadanya.
“Oh, Namaku Roman, Roman Goran.”, ia
menerima jabatan tanganku dengan sedikit kerepotan membawa plastik kresek ditangan
kirinya.
“Senang bertemu denganmu Roman.”, Aku
tersenyum berjabatan tangan dengannya.
“Senang juga berkenalan denganmu Bayu. Kau
anak yang pemberani dan sepertinya juga keras. Kau cocok dijuluki batu, Terbukti
pukulan dan tendangan orang tadi tidak membuatmu luka parah. Mungkin kalau aku
yang menerima pukulan dan tendangan tadi, aku sudah tidak sadarkan diri. Ah,
lain waktu mungkin kita bisa berbicara lebih banyak lagi, aku harus segera
pergi sekarang.”, ia melepaskan jabatan tanganku kemudian berbalik dan
mengucapkan selamat tinggal lalu pergi.
“Lebih baik kau segera pulang Batu, dan
hati-hati, tidak semua orang itu baik.”, ia memperingatkan aku dengan melambaikan
tangan kirinya.
“Oke Roman, sampai jumpa.”, aku melambaikan
tangan kepadanya yang berjalan sedikit terburu-buru meninggalkanku.
“Batu?, ia tidak tau rasanya menerima pukulan
dan tendangan dari orang berambut cepak tadi, serasa membuatku hampir pingsan.”,
gumamku lirih.
Itulah sedikit cerita masa lalu pertemuanku
dengannya.
*****
“Apa kabarmu batu?”, orang itu menyapaku
lagi sembari tersenyum.
“Kau..., Roman? Roman Goran?”,
tanyaku dengan sedikit terkejut tidak percaya.
“Ya..., ini aku. Apa kabarmu
teman?”, ia mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.
“Kabarku baik, bagaimana denganmu?
Lama sekali kita tidak berjumpa. Kau tidak banyak berubah teman.”, kuraih
tangannya dan sedikit memberi pelukan persahabatan.
“Aku juga baik, kau juga terlihat
berbeda sekarang, terlihat lebih berotot tidak sepertiku yang tetap konsisten
dengan tubuh cungkring ini.”, katanya dengan sedikit terkekeh menertawakan
dirinya sendiri.
“Sedang apa kau disini?”, tanyaku
sembari melepaskan pelukan.
“Aku sedang melakukan penelitian
untuk tugasku”
“Penelitian tentang apa?”
“Tentang Alter Ego”
*****
No comments:
Post a Comment