welcome

Friday, September 15, 2017

Pencuri Chapter 7: Roman Goran


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 7
“ROMAN GORAN”

            Suatu sore, disaat aku melangkah menyusuri persimpangan jalan yang sepi. Tiba-tiba, dua orang dewasa datang menghampiriku. Mereka berpakaian kusut, dengan celana jeans yang berlubang dibagian lutut. Berjalan dengan langkah yang tidak tegap, terhuyung-huyung seakan hampir jatuh.
            “Hei bocah! berikan uangmu!”, salah satu dari mereka yang berambut panjang menghadangku, menggertak dengan nafas berbau alkohol.
            “Siapa yang kau panggil bocah, hah?”, Aku menatap wajah merah orang itu dengan tatapan datar.
Memang aku masih kecil saat itu, masih duduk dibangku sekolah dasar. Saat itu aku sedang jalan-jalan mencari hiburan. Aku sudah terbiasa pergi sendirian, walaupun bibi Asih khawatir, ia tidak pernah melarangku.
“Berani juga kau rupanya, sini berikan uangmu!”, laki-laki itu menggeledah seluruh saku celana dan jaketku.
“Singkirkan tanganmu!”, teriakku dengan menepis tangan laki-laki yang menggerayangiku itu.
“Bocah sialan! kemari kau biar kuberi pelajaran!”
 BUKKKK!
Pandanganku berkunang-kunang dan rahangku terasa sakit. Kulihat samar-samar seorang berambut cepak, teman dari laki-laki berambut panjang itu datang menghampiriku. Tatapannya sangat tajam dan dalam, tanpa basa-basi ia menendangku tepat diperut dan membuatku terkapar dengan rasa sakit yang luar biasa.
“Akh...!”, erangku dengan tangan memegangi perut.
Kurasai mulutku terasa asin dan sepertinya mengeluarkan darah. Orang berambut cepak itu kembali menendangku, kali ini tepat diwajah dengan posisiku yang masih terkapar. Pandanganku mulai tidak jelas, dan rasanya wajahku seperti hancur dengan rasa sakit yang luar biasa.
“Hei! jangan berlebihan. Dia hanya anak kecil. Bisa gawat kalau dia sampai mati.”
Kudengar suara laki-laki berambut panjang memperingatkan temannya.
“Biarkan saja. Bocah tengik seperti dia memang pantas dihajar.”, kata orang berambut cepak itu dengan nada yang datar.
“Sudahlah kita pergi saja, dia tidak mempunyai uang.”
“Sebentar, biar aku hajar bocah bermulut besar ini sekali lagi.”, laki-laki berambut cepak itu kembali mengayunkan kakinya kearahku. Tapi sebelum kaki itu mengenaiku, terdengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan.
Wiu....wiu...wiu......
“Sudah! Ayo kita pergi sekarang! Ada Polisi!”
Kulihat laki-laki berambut panjang menarik temannya, kemudian mereka lari meninggalkanku yang terkapar penuh memar dan darah. Aku mengerang kesakitan tak berdaya. Lalu beberapa saat kudengar langkah kaki datang mendekat kearahku.
“Kau tidak apa-apa?”, suara anak laki-laki terdengar ditelingaku.
Aku mencoba membuka mata, menoleh memandangi sekitar. Tidak ada mobil polisi.
“Aku tidak apa-apa, kau siapa? Kudengar tadi ada sirine mobil polisi?”, Aku mencoba bangkit untuk duduk dengan merintih sakit dan ia membantuku.
“Tidak ada polisi yang datang. Akulah yang membunyikan sirine tadi.”, katanya sembari membantuku untuk duduk.
“Hah? Bagaimana kau melakukannya?”, kataku dengan mencoba bangkit berdiri dibantu olehnya.
“Aku melihatmu dihajar dua orang tadi. Karena aku tidak bisa berkelahi, maka aku mencari cara untuk menakut-nakuti mereka. Aku memandangi setiap sudut jalan dan menemukan tumpukan botol plastik bekas di tempat sampah. Lalu aku membuat botol plastik itu menjadi pengeras suara sirine mobil polisi yang berasal dari ponselku. Syukurlah cara itu berhasil membuat mereka pergi. Bagaimana keadaanmu?”, katanya dengan masih membantuku untuk berdiri.
“Jadi begitu? Terima kasih banyak telah menolongku. Sepertinya aku tidak apa-apa, hanya wajah dan perutku terasa sedikit nyeri.”, tangan kiriku memegangi perut dan tangan kanan mengusap mulutku yang berdarah.
“Pakailah ini, pakaianmu bisa kotor terkena darah. Kebetulan aku baru saja dari supermarket”, ia memberikan seplastik tisue kemasan kecil kepadaku.
“Ah.., terimakasih banyak”, aku meraih tisue pemberiannya, kemudian membersihkan bekas darah yang tersisa diwajah dan pakaianku.
“Ngomong-ngomong aku tidak pernah melihatmu, kau tinggal dimana?”, katanya.
“Aku tinggal di perumahan sedikit jauh dari sini”, jawabku sembari tetap membersihkan sisa darah dengan tisue.
“Oh.., pantas saja. Dikomplek ini kau terlihat asing. Lebih baik kau cepat pulang, hari sudah semakin gelap. Didaerah sini memang sedikit sepi, berhati-hatilah.”, katanya memperingatkanku.
“Iya.., sekali lagi terimakasih telah menolongku. Ngomong-ngomong, kenapa kau mau menolongku? Padahal kau tidak mengenaliku.”, tanyaku sembari membersihkan jaket yang terkena debu jalanan.
“Kata ibuku, berbuat baiklah kepada semua orang terutama teman-temanmu. Kau terlihat seumuran denganku berarti kau adalah temanku.”, ia mengucapkan itu sembari tersenyum kepadaku.
Baru kali itu ada seseorang yang mengatakan bahwa aku adalah temannya. Aku kira semua orang menganggap bahwa diriku aneh. Tidak ada orang yang ingin dekat denganku apalagi menjadi temanku. Aku sedikit kaget dan juga senang mendengar ia berkata seperti itu.
“Ah, aku harus segera pergi. Ibu sudah menungguku dirumah.” Ia sedikit terburu-buru dengan plastik kresek dikedua tangannya.
“Siapa namamu? Namaku Bayu, Bayu Segara.”, Sebelum ia beranjak pergi, aku mengulurkan tangan kananku kepadanya.
“Oh, Namaku Roman, Roman Goran.”, ia menerima jabatan tanganku dengan sedikit kerepotan membawa plastik kresek ditangan kirinya.
“Senang bertemu denganmu Roman.”, Aku tersenyum berjabatan tangan dengannya.
“Senang juga berkenalan denganmu Bayu. Kau anak yang pemberani dan sepertinya juga keras. Kau cocok dijuluki batu, Terbukti pukulan dan tendangan orang tadi tidak membuatmu luka parah. Mungkin kalau aku yang menerima pukulan dan tendangan tadi, aku sudah tidak sadarkan diri. Ah, lain waktu mungkin kita bisa berbicara lebih banyak lagi, aku harus segera pergi sekarang.”, ia melepaskan jabatan tanganku kemudian berbalik dan mengucapkan selamat tinggal lalu pergi.
“Lebih baik kau segera pulang Batu, dan hati-hati, tidak semua orang itu baik.”, ia memperingatkan aku dengan melambaikan tangan kirinya.
“Oke Roman, sampai jumpa.”, aku melambaikan tangan kepadanya yang berjalan sedikit terburu-buru meninggalkanku.
“Batu?, ia tidak tau rasanya menerima pukulan dan tendangan dari orang berambut cepak tadi, serasa membuatku hampir pingsan.”, gumamku lirih.
Itulah sedikit cerita masa lalu pertemuanku dengannya.
*****

“Apa kabarmu batu?”, orang itu menyapaku lagi sembari tersenyum.
            “Kau..., Roman? Roman Goran?”, tanyaku dengan sedikit terkejut tidak percaya.
            “Ya..., ini aku. Apa kabarmu teman?”, ia mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.
            “Kabarku baik, bagaimana denganmu? Lama sekali kita tidak berjumpa. Kau tidak banyak berubah teman.”, kuraih tangannya dan sedikit memberi pelukan persahabatan.
            “Aku juga baik, kau juga terlihat berbeda sekarang, terlihat lebih berotot tidak sepertiku yang tetap konsisten dengan tubuh cungkring ini.”, katanya dengan sedikit terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
            “Sedang apa kau disini?”, tanyaku sembari melepaskan pelukan.
            “Aku sedang melakukan penelitian untuk tugasku”
            “Penelitian tentang apa?”
            “Tentang Alter Ego
*****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...