Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 6
“Wanita Karismatik”
Jam 4 sore setelah menyelesaikan tugas,
Aku dan Elena bergegas menuju gedung aula kampus. Berjalan dengan Elena selalu
menjadi pusat perhatian. Tentu saja karena kecantikan dan kecerdasanlah yang
menjadi alasan. Ia merupakan salah satu mahasiswa berprestasi di kampus ini. Beruntung
sekali aku memiliki teman dan dia mau berteman dengan orang sepertiku.
“Hey Elena, sejak kapan kamu tahu
soal klub itu?”, tanyaku yang berjalan berdampingan disebelah kanannya.
“Em..., kira-kira enam bulan yang
lalu saat masih semester 3. Waktu itu aku sedang membaca mading di depan
perpustakaan dan ada pamflet dari klub berbagi. Aku baca dan sepertinya
terlihat menarik, lalu aku datang keacaranya.”, jawab Elena sembari berjalan
membawa buku didekapannya.
“Kamu tahu klub itu sejak semester 3?
Kenapa tidak memberi tahu aku?”, Kataku protes kepadanya.
“Hey! Siapa suruh kamu sibuk dengan
teman-teman barumu dan melupakanku?”, jawabnya sembari meletakkan tangan kanan
dipinggang dan tetap mendekap buku dengan tangan kiri.
Saat memasuki jenjang kuliah memang
berbeda dengan saat berada dibangku sekolah sebelumnya. Setiap anak dituntut
untuk dapat lebih mandiri dalam segala hal. Tak ada yang namanya mengerjakan
pekerjaan rumah dadakan dikelas. Tak akan sempat, karena tugas yang diberikan
oleh dosen seputar membuat makalah. Dalam lingkungan kampus, kita harus lebih
bisa memprioritaskan segala sesuatu. Mulai dari kuliah, teman, ataupun
organisasi. Dan dibangku kuliah ini, aku sudah tidak terlalu merasa kesepian
karena memiliki teman seperti Elena dan teman-teman yang lain. Tidak ada yang
memperdulikan masalaluku.
“Siapa yang sibuk dengan teman-teman
baru? Kamu yang selalu sibuk dengan dirimu sendiri, sampai-sampai tidak sempat bertemu
denganku.”, jawabku tak kalah ketus.
“Apa kamu bilang? Siapa yang waktu
itu minta bertemu di tempat biasa? Aku
menunggu sampai perpustakaan tutup dan ternyata kamu malah pergi bersama
teman-temanmu!”, Kata Elena dengan nada suara yang geram.
“Waktu itukan aku sudah menjelaskan
kalau aku lupa dan benar-benar lupa. Aku juga sudah minta maaf.”, jawabku mencoba
menjelaskan lagi kepadanya.
“Ah..., sudahlah lupakan.”, Elena
mencoba menenangkan diri dengan ekspresi datarnya seakan mengacuhkan penjelasanku.
Kita sampai di halaman gedung aula
kampus yang sudah ramai. Saat melewati tempat parkir, aku melihat sebuah mobil
yang terlihat tidak asing. Perlahan kuamati mobil tersebut, tidak salah lagi,
itu adalah mobil yang menabrakku tadi pagi. Mobil warna merah, lebih tepatnya
mobil Mercedes Benz warna merah.
“Siapa kira-kira pemilik mobil itu?”,
Aku bergumam dalam hati penasaran. Akan kucari tahu nanti setelah acara selesai.
Aku dan Elena masuk kedalam gedung aula
kampus setelah mengurus registrasi dan memasukan uang sedekah ketempat yang
sudah disediakan.
“Wow...”, Aku berdecak kagum saat berada
didalam ruang aula, ruangan ini penuh.
“Hei Elena, ramai sekali, banyak sekali
yang datang ke acara ini.”
“Kan sudah kukatakan sejak awal,
acara klub berbagi ini semakin lama semakin banyak peminatnya. Untung kita
masih mendapatkan tempat duduk, kita duduk disitu saja”, katanya sembari menunjuk
kursi kosong di posisi pojok kanan, lalu kita bergegas sebelum kursi itu
dipakai orang lain.
“Kenapa sih kamu senang sekali cari
tempat duduk di pojokkan?”, tanyaku sembari duduk dan menaruh tas dipangkuan.
“Bukannya aku suka duduk di pojokan,
ini karena kita datang terlambat dan hanya inilah kursi yang tersisa. Semua ini
salahmu karena lama sekali mengerjakan kuis susulan tadi, kita jadi tidak bisa
melihat dari dekat!”, jawabnya ketus.
“Salahmu juga tidak mau membantuku
mengerjakan soal-soal tadi.”, protesku.
“Hey! Aku hanya mau mengajarimu,
bukan membantumu mengerjakan! Bagaimana kamu bisa paham dan mengerti matakuliah
itu kalau aku yang mengerjakan soalnya! Pantas saja tadi kamu tidak mengikuti
kuis, sudah tau kalau tidak akan lulus dan lebih memilih susulan, pakai
kecelakaan sebagai alasan segala!”, katanya ketus sembari memukulkan buku yang
ia bawa tadi kepundakku.
“Aku serius soal kecelakaan tadi!”,
aku mencoba membela diri atas tuduhan emosionalnya itu.
“Bodo amat, aku tidak mau
mengajarimu lagi!”, kata Elena sembari mengeluarkan catatan kecil dari dalam
tasnya.
“Jangan begitulah Elena, kamukan
teman baikku.”, Aku mencoba merayunya dengan senyuman termanisku.
“Tampang macam apa itu?, seperti
kucing minta diberi ikan. Sudah! Lebih baik kamu diam. Perhatikan baik-baik
acara ini sampai selesai”, katanya sembari menatapku sinis dan masih dengan
nada yang sedikit ketus.
“Baiklah...”, jawabku dengan ekpresi
seperti kucing yang gagal mendapatkan ikan karena majikannya sedang PMS.
Acara klub berbagi ini begitu
sederhana, dekorasinya pun tidak terlihat mewah. Hanya menggunakan background
kain hitam besar dengan MMT bergambar dan bertuliskan logo klub berbagi
ditempelkan dibagian tengah. Tidak ada kursi ataupun meja di atas panggung. Hanya
ada hiasan pohon disamping kanan dan kiri panggung tersebut.
Master of ceremony sudah
membacakan susunan acara dan membuka acara pada sore hari ini.
”...
Untuk acara pada sore hari ini hanya ada satu pembicara. Beliau adalah salah
satu cendekiawan muda berbakat di Negara ini. Beliau juga merupakan anak dari President
Directur perusahaan Imagine People. Marilah kita sambut dengan tepuk
tangan yang meriah, Dr. Mika Andita”.
Riuh suara tepuk tangan menghiasi
ruangan ini. Seorang wanita berjalan perlahan naik keatas panggung membelakangi
penonton. Aku mencoba mengingat sesuatu.
“Mika..., nama itu sepertinya tidak asing.”,
gumamku lirih.
Saat
wanita tersebut menghadap kearah penonton, kuamati wajahnya dari kejauhan.
“Ah wanita itu.., benar sekali.
Mika, wanita yang menolongku. Rupanya dia seorang cendekiawan muda. Doktor Mika
Andita, hebat sekali.”, batinku kagum.
“Selamat sore semuanya. Perkenalkan
nama saya Mika Andita, seperti yang sudah disampaikan oleh pembawa acara tadi.
Saya putri sekaligus pewaris perusahaan Imagine People. Saya sangat
senang dan bangga sekali bisa berada disini untuk berbagi bersama teman-teman
semua. Sudah sejak lama saya ingin sekali mengisi acara di klub berbagi ini. Sebuah
wadah yang sangat bermanfaat didunia pendidikan. Berbagi ilmu dengan gratis dan
mengajarkan setiap hadirin yang datang kemari untuk saling berbagi juga. Beri applause
yang meriah untuk klub berbagi.”, Semua penonton tepuk tangan seperti yang
di instruksikannya.
Kuperhatikan Elena, ia juga sangat
fokus memperhatikan setiap perkatan dari wanita di atas panggung tersebut.
Wanita itu seperti memancarkan aura yang membuat seseorang menjadi fokus
memperhatikannya. Begitu juga denganku, disaat pertama kali berjumpa dengannya.
“Sebelum kita memasuki pembahasan tema
dari acara kita pada sore hari ini. Saya akan menjelaskan sedikit tentang
perusahaan Imagine People. Imagine People adalah sebuah
perusahaan yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan sumberdaya alam.
Jadi, perusahaan kami meneliti dan mencari potensi kekayaan alam yang ada di
dunia ini, supaya dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, tentu saja manfaat
jangka panjang. Saat ini kita sedang fokus mencari potensi alam yang dapat
dimanfaatkan untuk dunia kedokteran....”, perhatian penonton tersedot oleh
karisma Doktor Mika Andita. Seisi ruangan senyap, hanya suara sosok
dipanggunglah yang terdengar.
“Imagine People sedang membuat
formula yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia medis. Formula yang memberikan
harapan baru bagi, mohon maaf, penyandang cacat. Jika formula ini dapat segera
diciptakan, maka, kita tidak akan lagi melihat orang dengan bagian tubuh yang
tidak lengkap. Ini akan menjadi penemuan yang sangat luar biasa.”, kata Doktor
Mika dengan penuh antusias.
“Hei Elena.”, Konsentrasi Elena
terbuyarkan dengan bisikan lirihku.
“Sssttssss..., diamlah jangan mengganggu
konsentrasiku!”, Elena mendekatkan jari telunjuknya didepan bibir sembari
berkata sedikit ketus dan menatapku dengan tatapan geram.
“Dasar kutu buku. Kau selalu asik dengan
duniamu sendiri.”, gerutuku dalam hati menanggapi
kebiasaanya yang tidak bisa diganggu ketika sedang konsentrasi memperhatikan
sesuatu.
“Aku selalu tergila-gila dengan
penelitian. Hari-hariku selalu dipenuhi dengan kegiatan di labolatorium.
Kecuali hari ini, aku menyempatkan waktuku untuk bisa hadir dalam acara ini.
Aku ingin berbagi tentang impian ini kepada kalian semua. Impian untuk
menciptakan formula regenerasi bagi tubuh manusia.”, kata sang Doktor dengan
nada yang dalam dan pasti, penuh antusias.
Semua penonton bergeming kagum,
bertanya-tanya tentang formula regenerasi yang Doktor Mika katakan. Mereka
saling menatap satu sama lain, berbisik-bisik lirih. “Formula Regenerasi?...,
Regenerasi bagi tubuh manusia?...., tidak akan ada lagi orang cacat?....,
benarkah?, benarkah?.....”, itu kiranya pertanya-pertanyaan yang keluar
dari mulut para penonton.
Aku masih belum paham apa yang sedang
Doktor muda itu katakan. Kulihat Elena sedang serius mencatat dibukunya. Aku
hanya mengamati dan tidak ingin mengganggunya dengan satu pertanyaanpun. Mencoba
memahami sendiri kata-kata yang telah diucapkan oleh Doktor Mika.
Bukan soal regenerasilah yang aku pikirkan
tentang Doktor muda itu. Tetapi tentang pesonanya yang membuat seluruh penonton
terpana. Semua tatapan, perhatian dan pikiran terfokus padanya. Sungguh, ia
seperti memiliki energi yang keluar dari dalam tubuhnya.
“Wanita karismatik”,
gumamku dalam hati sembari menyilangkan tangan didada.
Saat diri ini terbenam dalam pemikiran
tentang Dr. Mika Andita. Ada seseorang datang dan duduk dikursi sebelah kiriku.
Kuamati wajahnya dan ia menatapku.
“Halo batu.”, katanya sembari tersenyum.
“Batu?”, aku mencoba mengingat-ingat.
Hanya satu orang yang memanggilku dengan sapaan itu.
“Kau...”
*****
No comments:
Post a Comment