Oleh : Aufklarung Nugroho
Matahari terlihat
sangat terik sekali diluar. Membakar daun-daun yang berwarna hijau menjadi
coklat. Aku yang sedang berada di ruang kelas, membaringkan separuh tubuhku
diatas meja. Memainkan bolpoin sembari melihat jam terus menerus. Angkanya
masih dikisaran jam setengah satu siang.
“Bosannn......”,
gumamku lirih.
Sembari tetap memainkan bolpoin,
kali ini pandanganku berpindah kesosok wanita berambut sebahu yang memakai kaca
mata. Wanita tersebut adalah Nala teman semejaku, ia terlihat sedang konsentrasi
mencoret-coret bukunya.
“La....”, aku memanggilnya lirih,
dan ia tidak menoleh.
“La....”, kali ini aku memanggilnya
dengan suara sedikit lebih keras dari sebelumnya dan ia masih tetap tidak
menoleh.
“Laaaaa....”, diusaha yang ketiga,
aku memanggil sembari menarik lengan kirinya.
“Apasih Tin?! Ganggu aja!”,
akhirnya ia menoleh kearahku, tapi dengan mengernyitkan dahi.
“Bosan La..”, kataku sembari
menarik-narik lengannya karena ia kembali fokus dengan bolpoin dan buku.
“Bosan ya bosan aja, tapi jangan
ganggu orang lain dong!”, katanya tanpa melirik sedikitpun kearahku.
Aku sebal kalau temanku sudah
seperti itu. Ia jadi tidak peduli kepadaku. Tapi aku masih tetap berusaha untuk
mendapatkan perhatiannya.
“Kamu gak capek La nulis terus?”
“Gak”, jawabnya singkat.
“Lagian buat apasih kita nulis
banyak kayak gini?”, kataku masih dengan kepala diatas meja, tangan tetap
memainkan bolpoint dan menatap temanku Nala.
“Biar gak lupa”, katanya sembari
tetap fokus menulis.
“Biar gak lupa katamu? Buktinya aku
gak.”, kataku dengan yakin.
“Iya kamu memang gak lupa, tapi gak
lupa buat ngerepotin temanmu. Aku kasih tahu ya Tin, menulis itu salah satu
cara untuk mencegah penyakit alzheimer”. Katanya sembari melirik
kearahku.
Aku langsung duduk tegap mendengar
kata penyakit,
“Hah? Penyakit apa itu La?”.
Nala tiba-tiba menghentikan
kegiatan menulisnya, lalu ia menatapku tajam.
“Kamu yakin ingin tahu tentang
penyakit alzheimer? Saranku lebih baik jangan, karena penyakit ini
sering menyerang orang-orang malas sepertimu Tina”, katanya dengan raut wajah seperti
nenek sihir yang sedang menakut-nakuti anak kecil.
“Hah? Apasih La? Ditanyain beneran
juga. Jangan nakut-nakutin gitu.”
“Siapa yang nakut-nakutin? Ini beneran.”
“Memangnya penyakit apaan sih itu?”,
kataku sangat penasaran.
“Alzheimer itu penyakit yang
membuat seseorang menjadi susah untuk mengingat.”
“Maksudmu seperti pikun gitu?”
“Yup, tepat sekali. Kalau sudah
terlanjur parah, nama sendiripun bisa lupa. Maka dari itu sebelum terlanjur
terkena alzheimer akut, kita harus mencegahnya. Karena penyakit ini
tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dicegah, salah satunya dengan menantang
otak dengan membaca, menulis, atau kegiatan merangsang otak lainnya.”
Saat Tina dan Nala asik bercengkrama,
Bu Esti, Guru bahasa inggris mereka berteriak didepan kelas.
“Yang sebelah kiri sudah anak-anak?”
“Sudah Bu...”, murid-murid di kelas
berteriak serentak, lalu bu Esti menghapus tulisan dipapan tulis.
“Ehhh..., belum Bu..., Yah..,
jangan dihapus dulu. Gara-gara kamu ngajakin ngobrol terus nih Tin!”
“Hehehe.., maaf ya La. Nanti pinjem
catatannya Dea aja, ya gak De?”, kataku sembari mencolek lengan Dea yang duduk
dimeja kiri sebelahku.
“Ogah!!”, kata Dea.
“Yah.., kok gitu De. Jahat.”,
kataku dengan ekspresi senyum kebawah.
*****
Alhamdulillah ikutan ODOP. Alzheimer? Hush sana!
ReplyDeleteiya nih. ODOP emang mantab. :D
Deletewhoaa kek aku dlu males nyatet
ReplyDeleteSekarang Masih malas kak AQILA? :)
DeleteMenyuratkan tentang alzheimer....
ReplyDeleteGood...
Terimakasih kak Dian. :)
DeleteTerus gimana? Jadinya kamu nulis liat catatan temenmu ya? Hahaha... (Inget masa sekolah)
ReplyDeletehahaha.., foto kopi lebih praktis.
DeleteHayo ngga boleh dicontoh ya si Tina... Hehe
ReplyDeletelalu contoh yang mana kak Enika? :)
DeleteTernyata menulis membantu mencegah penyakit alzheimer~
ReplyDeleteYa kak Dita. Blogmu Bagus. saya suka
DeleteBermanfaat sekali kak👍👍
ReplyDeleteTerimaksih kak Amelia.
Deleteceritanya sederhana namun syarat akan makna
ReplyDeleteTerimakasih kak Rahma
Deletewah, ada alzheimernya. tapi menulis itu memang membuat kita abadi sih
ReplyDeleteYup. menulis adalah bekerja untuk keabadian. begitu kiranya kata Om Pramoedya. :)
DeletePesan tersurat yang tersirat.. ehh :) Suka kak.
ReplyDeleteTerima Kasih mas Nugroho. sama2 Nugroho. :D
Delete