welcome

Friday, January 5, 2018

Cerpen: Menulis


 “Menulis”
Oleh : Aufklarung Nugroho

            Matahari terlihat sangat terik sekali diluar. Membakar daun-daun yang berwarna hijau menjadi coklat. Aku yang sedang berada di ruang kelas, membaringkan separuh tubuhku diatas meja. Memainkan bolpoin sembari melihat jam terus menerus. Angkanya masih dikisaran jam setengah satu siang.
            “Bosannn......”, gumamku lirih.
Sembari tetap memainkan bolpoin, kali ini pandanganku berpindah kesosok wanita berambut sebahu yang memakai kaca mata. Wanita tersebut adalah Nala teman semejaku, ia terlihat sedang konsentrasi mencoret-coret bukunya.
“La....”, aku memanggilnya lirih, dan ia tidak menoleh.
“La....”, kali ini aku memanggilnya dengan suara sedikit lebih keras dari sebelumnya dan ia masih tetap tidak menoleh.
“Laaaaa....”, diusaha yang ketiga, aku memanggil sembari menarik lengan kirinya.
“Apasih Tin?! Ganggu aja!”, akhirnya ia menoleh kearahku, tapi dengan mengernyitkan dahi.
“Bosan La..”, kataku sembari menarik-narik lengannya karena ia kembali fokus dengan bolpoin dan buku.
“Bosan ya bosan aja, tapi jangan ganggu orang lain dong!”, katanya tanpa melirik sedikitpun kearahku.
Aku sebal kalau temanku sudah seperti itu. Ia jadi tidak peduli kepadaku. Tapi aku masih tetap berusaha untuk mendapatkan perhatiannya.
“Kamu gak capek La nulis terus?”
“Gak”, jawabnya singkat.
“Lagian buat apasih kita nulis banyak kayak gini?”, kataku masih dengan kepala diatas meja, tangan tetap memainkan bolpoint dan menatap temanku Nala.
“Biar gak lupa”, katanya sembari tetap fokus menulis.
“Biar gak lupa katamu? Buktinya aku gak.”, kataku dengan yakin.
“Iya kamu memang gak lupa, tapi gak lupa buat ngerepotin temanmu. Aku kasih tahu ya Tin, menulis itu salah satu cara untuk mencegah penyakit alzheimer”. Katanya sembari melirik kearahku.
Aku langsung duduk tegap mendengar kata penyakit,
“Hah? Penyakit apa itu La?”.
Nala tiba-tiba menghentikan kegiatan menulisnya, lalu ia menatapku tajam.
“Kamu yakin ingin tahu tentang penyakit alzheimer? Saranku lebih baik jangan, karena penyakit ini sering menyerang orang-orang malas sepertimu Tina”, katanya dengan raut wajah seperti nenek sihir yang sedang menakut-nakuti anak kecil.
“Hah? Apasih La? Ditanyain beneran juga. Jangan nakut-nakutin gitu.”
“Siapa yang nakut-nakutin? Ini beneran.”
“Memangnya penyakit apaan sih itu?”, kataku sangat penasaran.
Alzheimer itu penyakit yang membuat seseorang menjadi susah untuk mengingat.”
“Maksudmu seperti pikun gitu?”
“Yup, tepat sekali. Kalau sudah terlanjur parah, nama sendiripun bisa lupa. Maka dari itu sebelum terlanjur terkena alzheimer akut, kita harus mencegahnya. Karena penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dicegah, salah satunya dengan menantang otak dengan membaca, menulis, atau kegiatan merangsang otak lainnya.”
Saat Tina dan Nala asik bercengkrama, Bu Esti, Guru bahasa inggris mereka berteriak didepan kelas.
“Yang sebelah kiri sudah anak-anak?”
“Sudah Bu...”, murid-murid di kelas berteriak serentak, lalu bu Esti menghapus tulisan dipapan tulis.
“Ehhh..., belum Bu..., Yah.., jangan dihapus dulu. Gara-gara kamu ngajakin ngobrol terus nih Tin!”
“Hehehe.., maaf ya La. Nanti pinjem catatannya Dea aja, ya gak De?”, kataku sembari mencolek lengan Dea yang duduk dimeja kiri sebelahku.
“Ogah!!”, kata Dea.
“Yah.., kok gitu De. Jahat.”, kataku dengan ekspresi senyum kebawah.

*****

20 comments:

  1. Alhamdulillah ikutan ODOP. Alzheimer? Hush sana!

    ReplyDelete
  2. Menyuratkan tentang alzheimer....
    Good...

    ReplyDelete
  3. Terus gimana? Jadinya kamu nulis liat catatan temenmu ya? Hahaha... (Inget masa sekolah)

    ReplyDelete
  4. Hayo ngga boleh dicontoh ya si Tina... Hehe

    ReplyDelete
  5. Ternyata menulis membantu mencegah penyakit alzheimer~

    ReplyDelete
  6. ceritanya sederhana namun syarat akan makna

    ReplyDelete
  7. wah, ada alzheimernya. tapi menulis itu memang membuat kita abadi sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. menulis adalah bekerja untuk keabadian. begitu kiranya kata Om Pramoedya. :)

      Delete
  8. Pesan tersurat yang tersirat.. ehh :) Suka kak.

    ReplyDelete

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...