“Drug”
Oleh : Aufklarung Nugroho
Disebuah kamar berukuran dua kali
dua, terlihat Toni sedang terkapar. Wajahnya pucat dan ia terlihat lemah tak
berdaya. Sebentar-sebentar ia merubah posisinya dengan tengkurap, terlentang,
dan memiringkan tubuhnya yang terbaring diatas tempat tidur. Sesekali ia
merintih saat menggerakkan tubuhnya itu.
Beberapa menit ia terdiam dengan tatapan
kosong, lalu ia mengamati setiap sudut kamar kosnya. Tatapannya terhenti pada
sebuah ponsel yang terletak diatas meja sebelah kanan posisinya saat ini. Perlahan
ia mencoba meraih ponsel tersebut, tapi jangkauan tangannya tidak sampai. Dengan
sekuat tenaga ia sedikit menggeser tubuhnya yang terlentang untuk dapat meraih
ponsel itu.
Saat ponsel itu sudah berada digenggaman
tangannya. Ia kembali terdiam beberapa menit. Termenung sembari menatap layar
ponsel berukuran 5 inci tanpa keypad, kemudian membentukkan sebuah pola
pada layar ponsel tersebut untuk membuka kuncinya. Setelah kunci layar ponsel
itu terbuka, jempolnya memencet sebuah icon bergambar gagang telepon. Ia mencoba
mencari sebuah nama dalam daftar buku teleponnya. Lalu tiba-tiba termenung
lagi.
“Minta tolong sama siapa ya? Susah nih
punya temen sedikit”, gumamnya lirih.
Jempol Toni bergerak-gerak keatas
dan akhirnya terhenti pada sebuah nama.
“Ah iya, minta tolong Joni aja. Diakan
orangnya baik, pasti mau bantu”, jempol Toni memencet sebuah icon bergambar
telepon berwarna hijau, kemudian muncul sebuah tulisan sedang menghubungkan dari
layar ponselnya.
*****
Ditempat yang berbeda, Joni sedang
mengendarai motor kesayangannya. Motor Honda S90Z keluaran tahun tujuh puluhan warisan
dari sang kakek. Sembari mendengarkan musik rock n roll yang melantun dari earphone
ditelinganya, ia mengangguk-anggukan kepala. Saat sedang asik menikmati,
tiba-tiba musik yang ia dengarkan berhenti dan berganti dengan nada dering
panggilan masuk.
“Siapa sih yang telpon? Ganggu aja!”,
Gerutu Joni sembari perlahan mengurangi laju kendaraannya dan berhenti
disebelah kiri jalan yang sepi. Lalu ia meraih ponsel dari dalam saku
kemejanya. Layar ponsel Joni menunjukan sebuah nomer yang tidak dikenal.
“Halo!Siapa ya? Ada yang bisa dibanting?
Eh.., maksud saya dibantu?”, katanya dengan sedikit ketus menerima panggilan
telepon tersebut.
“Halo Jon, ini aku, Toni temen
OSPEK dulu”, Kata Toni dari balik telepon dengan sedikit gugup.
“Oh kamu bro, ada apa? Tumben-tumbenan
nih telepon?”, Kata Joni sembari mematikan mesin motornya.
“Begini Jon, gimana ya ngomongnya? Duh..”,
Kata Toni semakin gugup.
“Udah ngomong aja, gak usah sungkan
bro”
“Begini Jon, Aku mau minta tolong”
“Minta tolong apa bro?”
Toni terdiam sejenak.
“Halo? Minta tolong apa Ton?”, Joni
mengulang pertanyaannya.
“Begini Jon, Nganu, Aku
minta tolong cariin Drug”, kata Toni dengan sedikit berbisik di kata
terakhir.
Mendengar itu, Joni sedikit
terkejut dan spontan berkata, “Astaghfirullah”.
“Eh..., Kenapa Jon”, Kata Toni tak
kalah kaget mendengar Joni Istighfar.
“Eling Ton, dosa!”, kata Joni.
“Kok dosa sih?”, Kata Toni sedikit
bingung.
“Dosa Ton!, kamu juga bisa
ditangkap Polisi nanti!”
“Hah? Kok bisa sampai Polisi segala
sih Jon?”, Toni semakin bingung.
“Iya bro! Bisa di buru BNN juga
nanti!”
“Hah? BNN? Badan Narkotika Nasional
maksudmu?”
“Iya bro!!!”
“Astagfirullah..., bukan drug
yang itu maksudku Joni, aduh.”, Kata Toni sembari mengusap peluh dingin
yang keluar dari pori-pori kulitnya.
“Drug itu narkobakan bro?”
“Duh.., aku tuh minta tolong cariin
drug, obat diare Jon, Aku lemes ini tidak bisa kemana-mana”, kata Toni
sembari terburu-buru lari menuju WC.
“Oalah..., bilang dong bro kalau
minta tolong dicarikan obat diare, jangan Cuma ngomong drug, Kan gak
jelas. Tak kirakan narkoba! Yaudah tunggu bro, aku o...”
Tut tut tut
“Kok dimatiin sih?!”, Kata Joni
sewot sembari menatap layar ponselnya.
“Yah..., Hpku kecemplung ember.
Tidakkkkk...!”, Teriak Toni.
*****
#OneDayOnePost #ODOPBatch5
ahahaha, kena karma si Toni. udah bikin panik aja :D
ReplyDeletehahaha
ReplyDelete