Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter
2
“Hari
Kehilangan”
Aku bangkit dari posisi tidurku, duduk termangu dengan rambut berantakan.
Beberapa detik berlalu dalam kondisi yang masih setengah sadar. Pikiranku
melayang menuju alam bawah sadar, merenung memikirkan apa yang telah aku alami
baru saja. Hanya suara detik jam yang terdengar menemani lamunanku.
“Mimpi buruk itu lagi.”,
gumamku lirih.
Aku berdiri, berjalan
menuju wastafel, memutar keran lalu membasuh wajahku dengan air. Setelah
beberapa kali usapan, sejenak aku termenung kembali sembari menatap kosong
sosok wajah didepan cermin.
“Ternyata diriku sudah
sebesar ini.”, gumamku dalam hati.
Aku menundukan wajah dan
menutup mata. Kemudian saat aku membuka
mata, seakan-akan tubuh ini telah berpindah ruang dan waktu. Aku bisa melihat
potongan-potongan kejadian yang pernah kualami selama ini. Potongan demi
potongan, semakin mengingatkanku tentang kejadian tiga belas tahun yang lalu.
Mimpi tentang kejadian
itu begitu sangat menghantui. Ini bukan kali pertama aku memimpikan hal
tersebut. Sejak kejadian itu, statusku berubah menjadi anak yatim piatu. Hari
kehari kulalui dengan rasa cemas, tak bersemangat. Pasca ledakan besar itu, aku
tak ingat apapun. Yang Aku ingat adalah, Aku tidak memiliki Ayah dan Ibu
sekarang.
“Bayuuuu! Kau sudah
bangun? cepat mandi dan sarapan!”, Suara teriakan wanita paruh baya membuyarkan
lamunanku.
“Iya bibi Asih aku sudah
bangun, ini mau mandi!”, kubalas teriakan itu sembari berjalan menuju kamar
mandi dengan malas.
*****
Beberapa menit berlalu, tubuh sudah terguyur oleh dinginnya air dipagi hari.
Rasanya cukup membuat tubuh ini sedikit segar dan memancarkan aroma yang khas.
Setelah selesai mandi, berpakaian dan menyisir rambut. Kuraih tas ransel dan
bergegas berjalan menuruni tangga untuk menuju dapur. Bibi Asih sudah
menyambutku di meja makan, menyiapkan sajian yang tidak seperti biasanya.
“Selamat ulang tahun.”,
Ucap bibi Asih sembari tersenyum bahagia.
Aku masih berada diujung
anak tangga. Berhenti sejenak menatap bibi Asih dengan wajah yang datar, lalu
kemudian berjalan menghampirinya.
“Kenapa kamu berpakaian
serba hitam?”, tanya Bibi Asih sambil menatapku dari balik kacamata bulatnya.
“Aku sedang ingin
berpakaian seperti ini.”, jawabku seadanya dengan tangan meraih kursi dan
menariknya keluar dari lorong meja makan, lalu duduk sembari meletakkan tas
ditiang kursi sebelah kanan.
“Kamu tidak suka dengan
kejutan ini?”, kata bibi Asih sembari menarik kursi lalu duduk berhadapan
denganku yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
“Hmmmm, kamu terlihat
lesu sekali hari ini, ada apa?”, Bibi Asih menghela nafas, senyum ramahnya
berubah menjadi biasa saja.
“Tidak apa-apa, aku hanya
sedikit lelah, semalam lembur tugas kuliah.”, jawabku datar.
Kuamati makanan yang
telah dimasak oleh bibi Asih pagi ini. Ada daging, sayur, buah, dan
bermacam-macam. Akan tetapi, aku hanya meraih roti tawar diatas piring lalu
mengolesinya dengan mentega.
“Seharusnya kamu bahagia
dihari kelahiranmu ini. Bibi sudah memasak makan kesukaanmu.”, Kata bibi Asih
dengan sedikit kecewa karena aku tidak tertarik dengan masakannya.
Aku hanya terdiam. Masih
menyibukan tanganku dengan mengoleskan mentega dipermukaan roti. Mencoba menghiraukan
kekecewaan bibi Asih.
“Bibi tau, kamu rindu
Ayah dan Ibumukan?”, Bibi Asih meraih roti yang sedang aku olesi mentega, lalu
menaburinya dengan cokelat.
Aku menghela nafas panjang
sembari menundukkan kepala.
“Iya, aku rindu mereka.”
“Semua orang pasti akan
merasakan yang namanya kehilangan. Begitu juga denganmu Bayu. Orang tuamu
pergi disaat usiamu sedang membutuhkan kasih sayang mereka, itu sangat berat
sekali.”
Bibi memberikan roti
yang telah ditaburinya cokelat kepadaku. Aku hanya terdiam sembari menerima
roti pemberiannya. Sejenak suasana hening, dingin seperti es yang sedang
mencair.
“Bibi Asih..., apakah
Ayah dan Ibuku tenang disana?”, Aku bertanya dengan raut wajah seperti anak
kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Hemmm, tentu saja
mereka sudah tenang di Surga, Ayah dan Ibumu adalah orang yang baik.”, jawab
Bibi Asih.
“Benarkah?”
“Ya, mereka berdua
bagaikan satu kesatuan yang memang telah ditakdirkan untuk bersama.”
“Maksud Bibi?”
“Em..., mereka berdua
adalah sepasang pemimpi yang memimpikan untuk membuat seluruh jagad raya ini
menjadi damai.”
“Tapi, mengapa Ayah dan
Ibu harus pergi secepat itu, dan kak Maulana, sampai sekarang masih belum jelas
apakah dia masih hidup atau sudah mati, jenazahnya bahkan tidak ditemukan.”,
aku mencoba menenangkan diriku sendiri, menahan agar tidak menjatuhkan air
mata. Bibi Asih hanya diam saja, sejenak suasana sunyi kembali.
“Kusno adalah ilmuan
yang cerdas, dan Adinda ibumu adalah seorang dokter. Mereka adalah pasangan
yang saling melengkapi. Hari ini adalah tepat tiga belas tahun kepergian
mereka. Wajar saja kalau dirimu terlihat berbeda hari ini, begitu tidak
bersemangat, kamu pasti sangat sedih. Tapi sudahlah jangan bersedih lagi, masih
ada Bibi disini.”, Bibi Asih mencoba menghiburku dengan kata-kata dan
senyumannya yang menenangkan.
Aku terdiam sejenak
mengusap mata, tak ada air mata yang jatuh. Benar kata Bibi Asih, tidak ada
gunanya bersedih karena aku sudah terbiasa hidup sendiri. Tidak, masih ada Bibi
Asih yang telah merawatku sampai sekarang.
“Iya, benar kata Bibi,
tak ada gunanya aku bersedih, mereka pasti juga akan sedih apabila melihatku
hanya murung meratapi kesendirian ini.”, kubalas senyuman Bibi Asih sambil
meraih gelas berisi susu lalu meminumnya.
“Hei! kamu tidak
menganggap Bibi yang telah lama merawatmu ini?”, Bibi Asih sedikit mengerutkan
dahi sembari meletakan tangan dipinggang.
Aku hanya membalas
dengan juluran lidah mengejek. Kulirik jam menunjukan pukul 07:50.
“Oh tidak, aku
ada kuliah pagi jam 8.30. Bibi Asih, Aku berangkat kuliah dulu ya.”, Aku
beranjak dari kursi, meraih tas, berpamitan dan mencium tangannya dengan
terburu-buru kemudian bergegas.
“Habiskan dulu sarapanmu!”
“Aku sudah kenyang, buat
Bibi saja!”, Teriaku sembari sedikit berlari terburu-buru lalu lenyap dibalik
pintu.
“Dasar anak itu! Siapa
yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini?”, Bibi Asih menggerutu kesal
sembari memandangi masakannya diatas meja.
******
Namaku Bayu Segara,
seorang mahasiswa jurusan ilmu pengetahuan alam. Bagiku, mempelajari tentang
alam tidak akan pernah ada habisnya. Alam selalu tidak terduga, misterius, dan
memberikan kejutan. Begitu juga dengan namaku yang memiliki arti angin laut.
Menurut cerita bibi Asih, Ayahku terinpirasi dari angin laut yang dimanfaatkan
oleh nelayan untuk kembali kedarat. Laut yang sejatinya menyimpan berjuta
misteri masih memiliki nilai manfaat bahkan banyak manfaat. Dengan nama
tersebut ayah berharap kelak aku juga menjadi manusia yang bermanfaat bagi
sesama.
Sejak kecil aku tinggal
bersama wanita paruh baya yang berkacamata itu, namanya Asih Ardhani. Beliau
adalah orang tua kedua setelah orang tuaku. Kesibukan Ayah dan Ibulah yang
memaksa aku harus tinggal bersama bibi Asih. Aku juga mempunyai seorang kakak
laki-laki, namanya Maulana Donahue. Tapi, hingga hari ini aku masih belum
mendapatkan kabar tentangnya. Ia seakan lenyap tanpa jejak.
Setelah kejadian
itu, aku menjadi anak yang pendiam, anak yang lebih suka menyendiri. Hidupku
jauh dari teman, bahkan aku dijauhi karena mereka menganggap diriku aneh. Pada
suatu hari, bibi Asih memarahiku karena berkelahi. Perkelahian itu
mengakibatkan lawanku masuk rumah sakit. Saat itu, aku hanya mencoba menolong
temanku yang dijahili oleh kakak kelas. Aku meninjunya tepat dihidung dan
mengenai sedikit bibir hingga berdarah. Untung saja kondisinya tidak kritis,
hanya meninggalkan dua jahitan dibibir. Walaupun teman-teman menjauhiku, aku
tidak bisa membiarkan seseorang yang lemah disakiti. Sesama manusia tidak
boleh saling menyakiti, itulah kata-kata yang selalu aku ingat dari Ibu.
Tepat tiga belas tahun
kepergian Ayah dan Ibu, aku berjanji untuk menjadi manusia yang lebih
bermanfaat bagi sesama. Akan aku lanjutkan mimpi mereka seperti yang Bibi Asih
ceritakan. Tidak akan aku sia-siakan sedikitpun waktu ini untuk sesuatu hal
yang tidak ada gunanya. Hari kehilangan ini menjadi awal bagiku untuk memulai
sesuatu yang baru.
*****
No comments:
Post a Comment