welcome

Friday, August 4, 2017

Pencuri Chapter 2: Hari Kehilangan


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 2
 “Hari Kehilangan”

            Aku bangkit dari posisi tidurku, duduk termangu dengan rambut berantakan. Beberapa detik berlalu dalam kondisi yang masih setengah sadar. Pikiranku melayang menuju alam bawah sadar, merenung memikirkan apa yang telah aku alami baru saja. Hanya suara detik jam yang terdengar menemani lamunanku.
“Mimpi buruk itu lagi.”, gumamku lirih.
Aku berdiri, berjalan menuju wastafel, memutar keran lalu membasuh wajahku dengan air. Setelah beberapa kali usapan, sejenak aku termenung kembali sembari menatap kosong sosok wajah didepan cermin.
“Ternyata diriku sudah sebesar ini.”, gumamku dalam hati.
Aku menundukan wajah dan menutup mata.  Kemudian saat aku membuka mata, seakan-akan tubuh ini telah berpindah ruang dan waktu. Aku bisa melihat potongan-potongan kejadian yang pernah kualami selama ini. Potongan demi potongan, semakin mengingatkanku tentang kejadian tiga belas tahun yang lalu.
Mimpi tentang kejadian itu begitu sangat menghantui. Ini bukan kali pertama aku memimpikan hal tersebut. Sejak kejadian itu, statusku berubah menjadi anak yatim piatu. Hari kehari kulalui dengan rasa cemas, tak bersemangat. Pasca ledakan besar itu, aku tak ingat apapun. Yang Aku ingat adalah, Aku tidak memiliki Ayah dan Ibu sekarang.
“Bayuuuu! Kau sudah bangun? cepat mandi dan sarapan!”, Suara teriakan wanita paruh baya membuyarkan lamunanku.
“Iya bibi Asih aku sudah bangun, ini mau mandi!”, kubalas teriakan itu sembari berjalan menuju kamar mandi dengan malas.
*****
            Beberapa menit berlalu, tubuh sudah terguyur oleh dinginnya air dipagi hari. Rasanya cukup membuat tubuh ini sedikit segar dan memancarkan aroma yang khas. Setelah selesai mandi, berpakaian dan menyisir rambut. Kuraih tas ransel dan bergegas berjalan menuruni tangga untuk menuju dapur. Bibi Asih sudah menyambutku di meja makan, menyiapkan sajian yang tidak seperti biasanya.
“Selamat ulang tahun.”, Ucap bibi Asih sembari tersenyum bahagia.
Aku masih berada diujung anak tangga. Berhenti sejenak menatap bibi Asih dengan wajah yang datar, lalu kemudian berjalan menghampirinya.
“Kenapa kamu berpakaian serba hitam?”, tanya Bibi Asih sambil menatapku dari balik kacamata bulatnya.
“Aku sedang ingin berpakaian seperti ini.”, jawabku seadanya dengan tangan meraih kursi dan menariknya keluar dari lorong meja makan, lalu duduk sembari meletakkan tas ditiang kursi sebelah kanan.
“Kamu tidak suka dengan kejutan ini?”, kata bibi Asih sembari menarik kursi lalu duduk berhadapan denganku yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.
“Hmmmm, kamu terlihat lesu sekali hari ini, ada apa?”, Bibi Asih menghela nafas, senyum ramahnya berubah menjadi biasa saja.
“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah, semalam lembur tugas kuliah.”, jawabku datar.
Kuamati makanan yang telah dimasak oleh bibi Asih pagi ini. Ada daging, sayur, buah, dan bermacam-macam. Akan tetapi, aku hanya meraih roti tawar diatas piring lalu mengolesinya dengan mentega.
“Seharusnya kamu bahagia dihari kelahiranmu ini. Bibi sudah memasak makan kesukaanmu.”, Kata bibi Asih dengan sedikit kecewa karena aku tidak tertarik dengan masakannya.
Aku hanya terdiam. Masih menyibukan tanganku dengan mengoleskan mentega dipermukaan roti. Mencoba menghiraukan kekecewaan bibi Asih.
“Bibi tau, kamu rindu Ayah dan Ibumukan?”, Bibi Asih meraih roti yang sedang aku olesi mentega, lalu menaburinya dengan cokelat.
Aku menghela nafas panjang sembari menundukkan kepala.
“Iya, aku rindu mereka.”
“Semua orang pasti akan merasakan yang namanya kehilangan. Begitu juga denganmu Bayu.  Orang tuamu pergi disaat usiamu sedang membutuhkan kasih sayang mereka, itu sangat berat sekali.”
Bibi memberikan roti yang telah ditaburinya cokelat kepadaku. Aku hanya terdiam sembari menerima roti pemberiannya. Sejenak suasana hening, dingin seperti es yang sedang mencair.
“Bibi Asih..., apakah Ayah dan Ibuku tenang disana?”, Aku bertanya dengan raut wajah seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Hemmm, tentu saja mereka sudah tenang di Surga, Ayah dan Ibumu adalah orang yang baik.”, jawab Bibi Asih.
“Benarkah?”
“Ya, mereka berdua bagaikan satu kesatuan yang memang telah ditakdirkan untuk bersama.”
“Maksud Bibi?”
“Em..., mereka berdua adalah sepasang pemimpi yang memimpikan untuk membuat seluruh jagad raya ini menjadi damai.”
“Tapi, mengapa Ayah dan Ibu harus pergi secepat itu, dan kak Maulana, sampai sekarang masih belum jelas apakah dia masih hidup atau sudah mati, jenazahnya bahkan tidak ditemukan.”, aku mencoba menenangkan diriku sendiri, menahan agar tidak menjatuhkan air mata. Bibi Asih hanya diam saja, sejenak suasana sunyi kembali.
“Kusno adalah ilmuan yang cerdas, dan Adinda ibumu adalah seorang dokter. Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi. Hari ini adalah tepat tiga belas tahun kepergian mereka. Wajar saja kalau dirimu terlihat berbeda hari ini, begitu tidak bersemangat, kamu pasti sangat sedih. Tapi sudahlah jangan bersedih lagi, masih ada Bibi disini.”, Bibi Asih mencoba menghiburku dengan kata-kata dan senyumannya yang menenangkan.
Aku terdiam sejenak mengusap mata, tak ada air mata yang jatuh. Benar kata Bibi Asih, tidak ada gunanya bersedih karena aku sudah terbiasa hidup sendiri. Tidak, masih ada Bibi Asih yang telah merawatku sampai sekarang.
“Iya, benar kata Bibi, tak ada gunanya aku bersedih, mereka pasti juga akan sedih apabila melihatku hanya murung meratapi kesendirian ini.”, kubalas senyuman Bibi Asih sambil meraih gelas berisi susu lalu meminumnya.
“Hei! kamu tidak menganggap Bibi yang telah lama merawatmu ini?”, Bibi Asih sedikit mengerutkan dahi sembari meletakan tangan dipinggang.
Aku hanya membalas dengan juluran lidah mengejek. Kulirik jam menunjukan pukul 07:50.
“Oh tidakaku ada kuliah pagi jam 8.30. Bibi Asih, Aku berangkat kuliah dulu ya.”, Aku beranjak dari kursi, meraih tas, berpamitan dan mencium tangannya dengan terburu-buru kemudian bergegas.
“Habiskan dulu sarapanmu!”
“Aku sudah kenyang, buat Bibi saja!”, Teriaku sembari sedikit berlari terburu-buru lalu lenyap dibalik pintu.
“Dasar anak itu! Siapa yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini?”, Bibi Asih menggerutu kesal sembari memandangi masakannya diatas meja.
******

Namaku Bayu Segara, seorang mahasiswa jurusan ilmu pengetahuan alam. Bagiku, mempelajari tentang alam tidak akan pernah ada habisnya. Alam selalu tidak terduga, misterius, dan memberikan kejutan. Begitu juga dengan namaku yang memiliki arti angin laut. Menurut cerita bibi Asih, Ayahku terinpirasi dari angin laut yang dimanfaatkan oleh nelayan untuk kembali kedarat. Laut yang sejatinya menyimpan berjuta misteri masih memiliki nilai manfaat bahkan banyak manfaat. Dengan nama tersebut ayah berharap kelak aku juga menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Sejak kecil aku tinggal bersama wanita paruh baya yang berkacamata itu, namanya Asih Ardhani. Beliau adalah orang tua kedua setelah orang tuaku. Kesibukan Ayah dan Ibulah yang memaksa aku harus tinggal bersama bibi Asih. Aku juga mempunyai seorang kakak laki-laki, namanya Maulana Donahue. Tapi, hingga hari ini aku masih belum mendapatkan kabar tentangnya. Ia seakan lenyap tanpa jejak.
 Setelah kejadian itu, aku menjadi anak yang pendiam, anak yang lebih suka menyendiri. Hidupku jauh dari teman, bahkan aku dijauhi karena mereka menganggap diriku aneh. Pada suatu hari, bibi Asih memarahiku karena berkelahi. Perkelahian itu mengakibatkan lawanku masuk rumah sakit. Saat itu, aku hanya mencoba menolong temanku yang dijahili oleh kakak kelas. Aku meninjunya tepat dihidung dan mengenai sedikit bibir hingga berdarah. Untung saja kondisinya tidak kritis, hanya meninggalkan dua jahitan dibibir. Walaupun teman-teman menjauhiku, aku tidak bisa membiarkan seseorang yang lemah disakiti. Sesama manusia tidak boleh saling menyakiti, itulah kata-kata yang selalu aku ingat dari Ibu.
Tepat tiga belas tahun kepergian Ayah dan Ibu, aku berjanji untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama. Akan aku lanjutkan mimpi mereka seperti yang Bibi Asih ceritakan. Tidak akan aku sia-siakan sedikitpun waktu ini untuk sesuatu hal yang tidak ada gunanya. Hari kehilangan ini menjadi awal bagiku untuk memulai sesuatu yang baru.
*****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...