welcome

Friday, January 11, 2019

Pencuri Chapter 11: Buku Jurnal


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 11
“Buku Jurnal”

Disebuah rumah dengan halaman yang ditumbuhi rumput ilalang hampir setinggi lutut. Tembok yang awalnya putih terlihat sedikit kehijauan karena lumut. Rumah itu gelap, kosong, dan tidak terawat. Akan tetapi, didalamnya ada seseorang yang sedang duduk gelisah dalam kegelapan. Gelisah menunggu panggilan teleponnya dijawab oleh seseorang.
 “Ha.. halo Bos.”, Laki-laki itu berkata dengan nada sedikit bergetar sesaat setelah panggilannya tersambung.
Kau tau jam berapa sekarang?”, Terdengar jawaban seseorang dengan nada suara yang dalam.
“Maaf bos telah mengganggu tidur anda. Ada hal penting yang harus saya laporkan segera.”
Ada apa? Apa kau berhasil mendapatkan anak itu?”
“Tidak bos, Ada mobil bodoh yang menggagalkan rencanaku.”
Kau yang bodoh! Aku tidak mau tahu. Bawa anak itu kehadapanku besok! Brengsek!”
Tut tut tut.....
Panggilan telepon itu terputus dengan kasar.
“Sial! Kurang ajar! Gara-gara mobil sialan itu rencanaku jadi gagal!”
Laki-laki itu melempar botol minuman beralkohol yang sedang ia nikmati kearah ketembok. Suara pecahan botol kaca membuat rumah kosong tersebut terlihat mengerikan bagi orang-orang yang kebetulan sedang lewat didepannya.
****

            8 Maret 2013 pukul 23.30 Aku menulis catatan ini sembari duduk disamping jendela mengamati keadaan diluar. Sangat sepi, seperti hari-hariku setelah kepergian orang-orang yang aku sayangi. Hari ini adalah hari ulang tahunku, tidak ada yang spesial. Hanya pagi tadi, bibi Asih memberiku sedikit kejutan dengan memasakkan makanan kesukaanku, tapi tidak aku makan. Aku lebih memilih roti tawar yang biasa kunikmati setiap pagi.
Hari ini aku mengalami banyak sekali kejadian yang tidak terduga. Dari mulai mengejar pencuri, ditabrak mobil hingga bertemu teman lamaku Roman Goran. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Terakhir kali waktu kelas 6 SD aku bermain bola dengannya dilapangan dekat sekolah. Tak kusangka itu menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Tapi hari ini kita dipertemukan lagi. Dia tidak banyak berubah, masih sama seperti dulu, kurus.
Aku juga bertemu dengan sosok wanita cantik dan juga cerdas hari ini. Namanya adalah Dr. Mika Andita, sosok wanita yang sangat menarik dan masih membuatku penasaran sampai sekarang. Ternyata ia mengenaliku, dan mengatakan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya, tapi aku tak ingat. Selain mengetahui namaku, ia juga mengenali ayahku. Ia memberikan kartu nama dan menyuruhku untuk datang kelabolatoriumnya. Aku masih ragu untuk menerima tawarannya itu. Tapi, ada sesuatu hal yang membuatku penasaran. Ia berjanji akan menceritakan tentang kematian ayahku. Apa maksudnya? Sudah jelas bahwa ayahku meninggal karena kecelakaan. Atau memang ada misteri dibalik kematian ayahku? Aku harus mencari tau.

Aku berhenti menulis sejenak. Kulihat ada seseorang sedang berdiri dibawah lampu pijar menghadap kearah rumahku. Kuamati ia dari balik jendela, wajahnya tidak begitu jelas, samar.
“Siapa itu?”, kataku lirih.
Orang itu memakai topi dan jaket berwarna hitam panjang sampai kelutut. Jalanan sudah sangat sepi, semua orang sudah terlelap dalam mimpiya masing-masing. Sepertinya ia berdiri disitu sudah cukup lama. Apa yang dilakukannya di jam malam seperti ini?, bisiku dalam hati. Aku curiga dengan gerak gerik orang tersebut. Lalu aku memutuskan untuk menghampirinya.
Aku beranjak turun dari kamar. Saat aku membuka pintu dan keluar rumah, kulihat orang itu berjalan pergi. Karena hari sudah malam, aku memutuskan untuk tidak mengejarnya. Aku kembali masuk kedalam rumah, mengunci semua pintu dengan rapat.
Sepertinya aku harus berjaga-jaga malam ini. Orang yang berdiri didepan rumah tadi sangat mencurigakan”, gumamku dalam hati.
Aku menuju gudang penyimpanan, mencari-cari alat yang sekiranya bisa kugunakan untuk membela diri. Dari tumpukan kardus, kutemukan peti kayu berwarna coklat panjang. Aku buka peti kayu itu, didalamnya berisikan senapan angin. Kubersihkan debu-debu yang menempel disenapan itu lalu mengeceknya apakah masih berfungsi atau tidak.
“Baguslah, masih berfungsi. Sepertinya senapan ini milik kak Maulana,  dulu ia sering sekali berburu dihutan”, gumamku lirih. Lalu aku berjalan perlahan naik menuju kamar dengan membawa senapan dan peluru yang tersimpan didalam peti kayu tersebut.
Sesampainya dikamar yang terletak dilantai dua. Aku duduk kembali dimejaku, meraih pena lalu melanjutkan menulis lagi.

Baru saja, aku melihat seseorang berdiri didepan rumah. Ia hanya berdiri terdiam mengamati dari bawah lampu pijar. Mengenakan topi dan jaket panjang berwarna hitam. Memang tidak ada perilaku aneh darinya, tapi sangat mencurigakan karena sekarang hampir tengah malam. Kuputuskan untuk menghampirinya, tapi saat aku membuka pintu rumah, ia beranjak pergi. Lalu aku kembali masuk kedalam rumah, tidak mengikutinya.
Untuk berjaga-jaga, aku mencari sesuatu didalam gudang dan menemukan senapan angin milik kak Maulana. Aku langsung teringat tentangnya. Dulu, ia pernah mengajakku berburu dihutan saat libur sekolah. Usia kita memang sedikit terlampau jauh, kurang lebih 10 tahun. Ia sangat menyukai sesuatu hal yang berbau militer. Akan tetapi, ia tidak berminat menjadi prajurit. Kak Maulana sangat pemberani, sifatnya itulah yang mengalir dalam diriku. Aku rindu padanya. Entah, dia masih hidup atau tidak, aku tak tau.
*****

“Buku ini bisa kita jadikan sebagai petunjuk.”, Kata Roman sembari menatap Elena dan bibi Asih.
“Kau benar Roman. Tidak terpikirkan olehku kalau seorang Bayu suka menulis buku jurnal.”, Kata Elena yang sekarang sedikit terbiasa dengan sikap Roman.
“Orang pendiam, lebih suka mencurahkan isi hatinya melalui tulisan.”, kata Roman sembari mengankat buku itu.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”, Kata bibi Asih.
“Aku akan kekantor polisi untuk memberitahukan tentang ini. Lalu aku akan mencari tahu dimana labolatorium Dr. Mika. Aku akan kesana.”, Kata Roman.
“Aku akan menemanimu.”, Kata Elena dengan pasti.
“Keh keh keh, kau yakin mau menemaniku Elena?”, kata Roman dengan sedikit terkekeh.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah kalau aku menemanimu untuk mencari Bayu? Aku hanya memastikan bahwa yang kau lakukan sudah benar.”, Kata Elena dengan tampang ketusnya seperti biasa.
“Keh keh keh, baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi sekarang.”, Roman beranjak dari duduknya sembari memasukan buku jurnal Bayu kedalam saku jaket bagian dalam.
*****


No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...