Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 11
“Buku Jurnal”
Disebuah rumah dengan halaman yang
ditumbuhi rumput ilalang hampir setinggi lutut. Tembok yang awalnya putih
terlihat sedikit kehijauan karena lumut. Rumah itu gelap, kosong, dan tidak
terawat. Akan tetapi, didalamnya ada seseorang yang sedang duduk gelisah dalam
kegelapan. Gelisah menunggu panggilan teleponnya dijawab oleh seseorang.
“Ha..
halo Bos.”, Laki-laki itu berkata dengan nada sedikit bergetar sesaat setelah
panggilannya tersambung.
“Kau tau jam berapa sekarang?”, Terdengar
jawaban seseorang dengan nada suara yang dalam.
“Maaf bos telah mengganggu tidur anda. Ada
hal penting yang harus saya laporkan segera.”
“Ada apa? Apa kau berhasil mendapatkan
anak itu?”
“Tidak bos, Ada mobil bodoh yang
menggagalkan rencanaku.”
“Kau yang bodoh! Aku tidak mau tahu.
Bawa anak itu kehadapanku besok! Brengsek!”
Tut tut tut.....
Panggilan telepon itu terputus dengan
kasar.
“Sial! Kurang ajar! Gara-gara mobil sialan
itu rencanaku jadi gagal!”
Laki-laki itu melempar botol minuman
beralkohol yang sedang ia nikmati kearah ketembok. Suara pecahan botol kaca membuat
rumah kosong tersebut terlihat mengerikan bagi orang-orang yang kebetulan
sedang lewat didepannya.
****
8 Maret 2013 pukul 23.30 Aku
menulis catatan ini sembari duduk disamping jendela mengamati keadaan diluar.
Sangat sepi, seperti hari-hariku setelah kepergian orang-orang yang aku
sayangi. Hari ini adalah hari ulang tahunku, tidak ada yang spesial. Hanya pagi
tadi, bibi Asih memberiku sedikit kejutan dengan memasakkan makanan kesukaanku,
tapi tidak aku makan. Aku lebih memilih roti tawar yang biasa kunikmati setiap
pagi.
Hari ini aku mengalami banyak sekali
kejadian yang tidak terduga. Dari mulai mengejar pencuri, ditabrak mobil hingga
bertemu teman lamaku Roman Goran. Sudah lama sekali aku tidak bertemu
dengannya. Terakhir kali waktu kelas 6 SD aku bermain bola dengannya dilapangan
dekat sekolah. Tak kusangka itu menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Tapi
hari ini kita dipertemukan lagi. Dia tidak banyak berubah, masih sama seperti
dulu, kurus.
Aku juga bertemu dengan sosok wanita
cantik dan juga cerdas hari ini. Namanya adalah Dr. Mika Andita, sosok wanita
yang sangat menarik dan masih membuatku penasaran sampai sekarang. Ternyata ia
mengenaliku, dan mengatakan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya, tapi aku tak
ingat. Selain mengetahui namaku, ia juga mengenali ayahku. Ia memberikan kartu
nama dan menyuruhku untuk datang kelabolatoriumnya. Aku masih ragu untuk
menerima tawarannya itu. Tapi, ada sesuatu hal yang membuatku penasaran. Ia
berjanji akan menceritakan tentang kematian ayahku. Apa maksudnya? Sudah jelas
bahwa ayahku meninggal karena kecelakaan. Atau memang ada misteri dibalik
kematian ayahku? Aku harus mencari tau.
Aku berhenti menulis sejenak. Kulihat ada
seseorang sedang berdiri dibawah lampu pijar menghadap kearah rumahku. Kuamati
ia dari balik jendela, wajahnya tidak begitu jelas, samar.
“Siapa itu?”, kataku lirih.
Orang itu memakai topi dan jaket berwarna
hitam panjang sampai kelutut. Jalanan sudah sangat sepi, semua orang sudah terlelap
dalam mimpiya masing-masing. Sepertinya ia berdiri disitu sudah cukup lama. Apa
yang dilakukannya di jam malam seperti ini?, bisiku dalam hati. Aku curiga
dengan gerak gerik orang tersebut. Lalu aku memutuskan untuk menghampirinya.
Aku beranjak turun dari kamar. Saat aku
membuka pintu dan keluar rumah, kulihat orang itu berjalan pergi. Karena hari
sudah malam, aku memutuskan untuk tidak mengejarnya. Aku kembali masuk kedalam
rumah, mengunci semua pintu dengan rapat.
“Sepertinya aku harus berjaga-jaga
malam ini. Orang yang berdiri didepan rumah tadi sangat mencurigakan”,
gumamku dalam hati.
Aku menuju gudang penyimpanan,
mencari-cari alat yang sekiranya bisa kugunakan untuk membela diri. Dari
tumpukan kardus, kutemukan peti kayu berwarna coklat panjang. Aku buka peti
kayu itu, didalamnya berisikan senapan angin. Kubersihkan debu-debu yang
menempel disenapan itu lalu mengeceknya apakah masih berfungsi atau tidak.
“Baguslah, masih berfungsi. Sepertinya
senapan ini milik kak Maulana, dulu ia
sering sekali berburu dihutan”, gumamku lirih. Lalu aku berjalan perlahan naik
menuju kamar dengan membawa senapan dan peluru yang tersimpan didalam peti kayu
tersebut.
Sesampainya dikamar yang terletak dilantai
dua. Aku duduk kembali dimejaku, meraih pena lalu melanjutkan menulis lagi.
Baru saja, aku melihat seseorang berdiri
didepan rumah. Ia hanya berdiri terdiam mengamati dari bawah lampu pijar. Mengenakan
topi dan jaket panjang berwarna hitam. Memang tidak ada perilaku aneh darinya,
tapi sangat mencurigakan karena sekarang hampir tengah malam. Kuputuskan untuk
menghampirinya, tapi saat aku membuka pintu rumah, ia beranjak pergi. Lalu aku
kembali masuk kedalam rumah, tidak mengikutinya.
Untuk berjaga-jaga, aku mencari sesuatu
didalam gudang dan menemukan senapan angin milik kak Maulana. Aku langsung
teringat tentangnya. Dulu, ia pernah mengajakku berburu dihutan saat libur
sekolah. Usia kita memang sedikit terlampau jauh, kurang lebih 10 tahun. Ia sangat
menyukai sesuatu hal yang berbau militer. Akan tetapi, ia tidak berminat
menjadi prajurit. Kak Maulana sangat pemberani, sifatnya itulah yang mengalir
dalam diriku. Aku rindu padanya. Entah, dia masih hidup atau tidak, aku tak
tau.
*****
“Buku
ini bisa kita jadikan sebagai petunjuk.”, Kata Roman sembari menatap Elena dan
bibi Asih.
“Kau
benar Roman. Tidak terpikirkan olehku kalau seorang Bayu suka menulis buku
jurnal.”, Kata Elena yang sekarang sedikit terbiasa dengan sikap Roman.
“Orang
pendiam, lebih suka mencurahkan isi hatinya melalui tulisan.”, kata Roman
sembari mengankat buku itu.
“Lalu
apa yang akan kita lakukan sekarang?”, Kata bibi Asih.
“Aku
akan kekantor polisi untuk memberitahukan tentang ini. Lalu aku akan mencari
tahu dimana labolatorium Dr. Mika. Aku akan kesana.”, Kata Roman.
“Aku
akan menemanimu.”, Kata Elena dengan pasti.
“Keh
keh keh, kau yakin mau menemaniku Elena?”, kata Roman dengan sedikit terkekeh.
“Memangnya
kenapa? Ada yang salah kalau aku menemanimu untuk mencari Bayu? Aku hanya
memastikan bahwa yang kau lakukan sudah benar.”, Kata Elena dengan tampang
ketusnya seperti biasa.
“Keh
keh keh, baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi sekarang.”, Roman beranjak dari
duduknya sembari memasukan buku jurnal Bayu kedalam saku jaket bagian dalam.
*****
No comments:
Post a Comment