Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 10
“Mencari Petunjuk”
“Bukankah kau Roman?”, kata Elena
sembari menunjuk seorang lelaki yang berdiri dihadapannya.
“Hai Elena, kamu masih ingat aku
rupanya, apakabar?”, Roman tersenyum sembari menyodorkan tangannya mengajak
bersalaman dan Elena menerima jabatan tangan itu.
“Kabarku baik. Ada apa kamu
kemari?”, Elena melepas jabatan tangannya.
“Apa kamu lupa?. Kemarin lusa saat
kita bertemu di klub berbagi, Aku berjanji kepada Bayu untuk datang kerumahnya
pada hari ini.”
“Oh.., Aku baru ingat sekarang.”,
jawab Elena dengan ekspresi datarnya.
“keh keh keh.., lucu sekali
ekspresimu Elena dan kamu juga terlihat cantik memakai sweeter merah
itu.”, Kata Roman dengan sedikit terkekeh.
“Ha..ha.., tertawamu juga lucu
sekali. Seperti Kakek tua.”, Elena tertawa hanya dengan dua kata membalas Roman
yang menyinggung ekspresinya.
Roman hanya tertawa mendengar Elena mencemooh
gaya tertawanya. Karena dia sadar, memang seperti itulah kedengarannya.
Walaupun tertawanya seperti kakek tua, usia Roman masih seumuran dengan Bayu.
Gaya tertawanya itu mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat.
“Dimana Bayu? Benarkan ini
rumahnya?”, Kata Roman sembari mengamati keadaan disekitar rumah tersebut.
“Siapa Elena?, kudengar ada yang
mencari Bayu.”, bibi Asih keluar menghampiri mereka berdua yang berdiri didepan
pintu.
“Bibi Asih, perkenalkan saya Roman
Goran, teman bermain Bayu waktu kecil.”, Roman menjabat tangan bibi Asih
sembari mencium tangan itu.
“Roman Goran?”, bibi Asih berpikir
sejenak.
“Bibi Asih tidak mengenalinya?”,
tanya Elena.
“Kalau tidak salah dulu Bayu pernah
bercerita kepadaku bahwa dia punya teman bernama Roman, tapi Aku belum pernah
bertemu dengannya sama sekali.”, kata Bibi Asih sembari menatap Roman.
“Memang benar, karena saya dan Bayu
hanyalah teman bermain. Kita berbeda sekolah saat itu dan kita biasa bertemu di
lapangan yang terletak diantara sekolah kami. Saya berjanji kepada Bayu untuk
berkunjung kerumahnya pada hari ini. Apakah Bayu ada didalam?”, kata Roman
sembari tersenyum menatap bibi Asih dan Elena secara bergantian.
Mendengar pertanyaan Roman tersebut,
raut wajah bibi Asih kembali berubah menjadi pilu. Matanya mulai berkaca-kaca
mengeluarkan air mata. Melihat kondisi tersebut, Elena langsung merangkul bibi
Asih memberikan pelukan hangat. Roman terlihat bingung dengan keadaan yang
sedang terjadi didepan matanya tersebut.
“Ada apa bibi Asih?”, Roman mencoba
mencari tahu apa yang sedang terjadi kepada bibi Asih.
Bibi Asih menghela nafas panjang,
mencoba menenangkan diri lalu berkata, “Hmmm..., Sepertinya udara diluar terasa
dingin. Masuklah kedalam.”
“Tunggu sebentar! Bibi Asih baru
saja mengenalnya. Apakah bibi tidak curiga?”, kata Elena dengan mengernyitkan
mata melirik kearah Roman.
“Tidak apa-apa Elena. Bayu adalah
anak yang baik. Kalau dia memang teman Bayu, pasti dia juga anak yang baik. Masuklah
kalian berdua kedalam.”, bibi Asih berjalan terlebih dahulu membimbing mereka
masuk kedalam rumah menuju ruang tamu.
Sesampainya diruang tamu, bibi Asih
mempersilahkan Roman untuk duduk. Roman duduk disebelah kiri Elena dan mereka
berdua duduk berhadapan dengan bibi Asih. Elena sedikit memberi jarak posisi
duduknya menggunakan bantal. Melihat sikap Elena yang dingin, Roman hanya
tersenyum tipis. Senyumnya tidak bertahan lama saat bibi Asih mulai berbicara.
“Roman, kamu kesini mencari Bayu?”,
kata bibi Asih dengan tatapan datar dan kosong.
“Iya bibi Asih. Saya sudah berjanji
kepada Bayu untuk menemuinya pada hari ini. Tapi kalau dilihat dari raut wajah
bibi Asih, sepertinya terjadi sesuatu hal buruk terhadap Bayu. Apa yang sebenarnya
terjadi?”, kata Roman dengan tatapan menyelidik.
“Sudah dua hari ini Bayu tidak
pulang kerumah, dia tidak mengabariku sama sekali. Aku bingung Roman, tidak
biasanya dia seperti ini, dan baru saja kami melaporkan kejadian ini kepada polisi.
Sedang berada dimana dan bagaimana kondisinya pun aku tidak tahu Roman.”, Bibi
Asih kembali menitihkan air matanya. Ia terlihat sangat sedih dan kacau.
Kemudian Elena beranjak berpindah posisi duduk disamping bibi Asih sembari memeluknya.
“Jadi, mobil Polisi yang kulihat baru
saja, memang dari ini? Lalu apa yang akan mereka lakukan?”, kata Roman sembari
memposisikan duduknya sedikit lebih tegap.
“Polisi belum dapat menyimpulkan
kalau kepergian Bayu adalah tindakan kriminal. Mereka berkata akan menyebarkan
informasi tentang orang hilang kepada masyarakat dan kami hanya bisa menunggu
kabar selanjutnya.”, Kata Elena masih memeluk dan sesekali mengusap punggung
bibi Asih yang masih menangis.
Roman termenung sejenak dengan
posisi menyilangkan kedua tangannya didada dan menyandarkan punggungnya dikursi.
Ia tertunduk memejamkan matanya, tenggelam dalam pikiran untuk beberapa saat.
Bibi Asih masih menangis pilu dan Elena hanya mengamati Roman dengan tatapan
curiga.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”,
kata Elena membuyarkan konsentrasi Roman.
“Aku sedang memikirkan usaha apa
yang telah kamu lakukan sebelum kedatangan polisi.”, kata Roman sembari
memperbaiki posisi duduknya dan menatap mata Elena tajam.
Melihat tatapan Roman seperti itu,
Elena sedikit kesal, “Aku benci sekali tatapanmu itu. Memang apa yang telah aku
lakukan sebelum kedatangan polisi?”
Roman terkekeh lirih dan ia meminta
maaf atas sikap matanya yang kurang mengenakkan lalu ia berkata, “Sebelum
kedatangan polisi, kamu sudah mencoba untuk mencari tahu keberadaan Bayu dengan
menanyakannya kepada teman-teman kampusmu. Kamu juga sudah mencoba bertanya
kepada bibi Asih tentang kemungkinan Bayu pergi ketempat saudaranya. Akan
tetapi semua itu nihil dan pilihan terakhirnya adalah melaporkan kepada polisi.
Benarkan?”
Elena dan bibi Asih sedikit kaget
mendengar apa yang telah dikatakan oleh Roman. Bibi Asih berhenti menangis, mereka
saling pandang. Mereka merasa belum menceritakan hal itu kepada Roman.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”, kata
Elena dengan sedikit tidak percaya.
“Aku hanya menduga Elena. Karena
ketika seseorang melapor kepada polisi, mereka sudah tidak memiliki jalan lain.
Kamu berharap dengan bantuan polisi akan lebih cepat dan mudah untuk menemukan
Bayu. Ya itu memang benar. Akan tetapi, kasus orang hilang belum tentu sebuah
tindakan kriminal. Seperti kasus-kasus lainnya, kita harus memiliki bukti yang
kuat agar polisi segera bertindak cepat untuk menangani kasus ini.”, kata Roman
dengan raut wajah serius yang membuat pipinya semakin tirus.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”,
kata Elena.
“Yang harus kita lakukan adalah
mencari petunjuk. Mencari motif kepergian Bayu untuk menjadikannya sebuah bukti
tindakan kriminal.”
*****
Penasaran, kemana perginya Roman?...
ReplyDeleteCeritanya bagus...:)
Terimakasih kak Elin. ditunggu lanjutannya ya. :)
Delete