welcome

Friday, December 1, 2017

Pencuri Chapter 10: Mencari Petunjuk


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 10
“Mencari Petunjuk”

            “Bukankah kau Roman?”, kata Elena sembari menunjuk seorang lelaki yang berdiri dihadapannya.
            “Hai Elena, kamu masih ingat aku rupanya, apakabar?”, Roman tersenyum sembari menyodorkan tangannya mengajak bersalaman dan Elena menerima jabatan tangan itu.
            “Kabarku baik. Ada apa kamu kemari?”, Elena melepas jabatan tangannya.
            “Apa kamu lupa?. Kemarin lusa saat kita bertemu di klub berbagi, Aku berjanji kepada Bayu untuk datang kerumahnya pada hari ini.”
            “Oh.., Aku baru ingat sekarang.”, jawab Elena dengan ekspresi datarnya.
            “keh keh keh.., lucu sekali ekspresimu Elena dan kamu juga terlihat cantik memakai sweeter merah itu.”, Kata Roman dengan sedikit terkekeh.
            “Ha..ha.., tertawamu juga lucu sekali. Seperti Kakek tua.”, Elena tertawa hanya dengan dua kata membalas Roman yang menyinggung ekspresinya.
Roman hanya tertawa mendengar Elena mencemooh gaya tertawanya. Karena dia sadar, memang seperti itulah kedengarannya. Walaupun tertawanya seperti kakek tua, usia Roman masih seumuran dengan Bayu. Gaya tertawanya itu mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat.
            “Dimana Bayu? Benarkan ini rumahnya?”, Kata Roman sembari mengamati keadaan disekitar rumah tersebut.
            “Siapa Elena?, kudengar ada yang mencari Bayu.”, bibi Asih keluar menghampiri mereka berdua yang berdiri didepan pintu.
            “Bibi Asih, perkenalkan saya Roman Goran, teman bermain Bayu waktu kecil.”, Roman menjabat tangan bibi Asih sembari mencium tangan itu.
            “Roman Goran?”, bibi Asih berpikir sejenak.
            “Bibi Asih tidak mengenalinya?”, tanya Elena.
            “Kalau tidak salah dulu Bayu pernah bercerita kepadaku bahwa dia punya teman bernama Roman, tapi Aku belum pernah bertemu dengannya sama sekali.”, kata Bibi Asih sembari menatap Roman.
            “Memang benar, karena saya dan Bayu hanyalah teman bermain. Kita berbeda sekolah saat itu dan kita biasa bertemu di lapangan yang terletak diantara sekolah kami. Saya berjanji kepada Bayu untuk berkunjung kerumahnya pada hari ini. Apakah Bayu ada didalam?”, kata Roman sembari tersenyum menatap bibi Asih dan Elena secara bergantian.
            Mendengar pertanyaan Roman tersebut, raut wajah bibi Asih kembali berubah menjadi pilu. Matanya mulai berkaca-kaca mengeluarkan air mata. Melihat kondisi tersebut, Elena langsung merangkul bibi Asih memberikan pelukan hangat. Roman terlihat bingung dengan keadaan yang sedang terjadi didepan matanya tersebut.
            “Ada apa bibi Asih?”, Roman mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi kepada bibi Asih.
            Bibi Asih menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri lalu berkata, “Hmmm..., Sepertinya udara diluar terasa dingin. Masuklah kedalam.”
            “Tunggu sebentar! Bibi Asih baru saja mengenalnya. Apakah bibi tidak curiga?”, kata Elena dengan mengernyitkan mata melirik kearah Roman.
            “Tidak apa-apa Elena. Bayu adalah anak yang baik. Kalau dia memang teman Bayu, pasti dia juga anak yang baik. Masuklah kalian berdua kedalam.”, bibi Asih berjalan terlebih dahulu membimbing mereka masuk kedalam rumah menuju ruang tamu.
            Sesampainya diruang tamu, bibi Asih mempersilahkan Roman untuk duduk. Roman duduk disebelah kiri Elena dan mereka berdua duduk berhadapan dengan bibi Asih. Elena sedikit memberi jarak posisi duduknya menggunakan bantal. Melihat sikap Elena yang dingin, Roman hanya tersenyum tipis. Senyumnya tidak bertahan lama saat bibi Asih mulai berbicara.
            “Roman, kamu kesini mencari Bayu?”, kata bibi Asih dengan tatapan datar dan kosong.
            “Iya bibi Asih. Saya sudah berjanji kepada Bayu untuk menemuinya pada hari ini. Tapi kalau dilihat dari raut wajah bibi Asih, sepertinya terjadi sesuatu hal buruk terhadap Bayu. Apa yang sebenarnya terjadi?”, kata Roman dengan tatapan menyelidik.
            “Sudah dua hari ini Bayu tidak pulang kerumah, dia tidak mengabariku sama sekali. Aku bingung Roman, tidak biasanya dia seperti ini, dan baru saja kami melaporkan kejadian ini kepada polisi. Sedang berada dimana dan bagaimana kondisinya pun aku tidak tahu Roman.”, Bibi Asih kembali menitihkan air matanya. Ia terlihat sangat sedih dan kacau. Kemudian Elena beranjak berpindah posisi duduk disamping bibi Asih sembari memeluknya.
            “Jadi, mobil Polisi yang kulihat baru saja, memang dari ini? Lalu apa yang akan mereka lakukan?”, kata Roman sembari memposisikan duduknya sedikit lebih tegap.
            “Polisi belum dapat menyimpulkan kalau kepergian Bayu adalah tindakan kriminal. Mereka berkata akan menyebarkan informasi tentang orang hilang kepada masyarakat dan kami hanya bisa menunggu kabar selanjutnya.”, Kata Elena masih memeluk dan sesekali mengusap punggung bibi Asih yang masih menangis.
            Roman termenung sejenak dengan posisi menyilangkan kedua tangannya didada dan menyandarkan punggungnya dikursi. Ia tertunduk memejamkan matanya, tenggelam dalam pikiran untuk beberapa saat. Bibi Asih masih menangis pilu dan Elena hanya mengamati Roman dengan tatapan curiga.
            “Apa yang sedang kamu pikirkan?”, kata Elena membuyarkan konsentrasi Roman.
            “Aku sedang memikirkan usaha apa yang telah kamu lakukan sebelum kedatangan polisi.”, kata Roman sembari memperbaiki posisi duduknya dan menatap mata Elena tajam.
            Melihat tatapan Roman seperti itu, Elena sedikit kesal, “Aku benci sekali tatapanmu itu. Memang apa yang telah aku lakukan sebelum kedatangan polisi?”
            Roman terkekeh lirih dan ia meminta maaf atas sikap matanya yang kurang mengenakkan lalu ia berkata, “Sebelum kedatangan polisi, kamu sudah mencoba untuk mencari tahu keberadaan Bayu dengan menanyakannya kepada teman-teman kampusmu. Kamu juga sudah mencoba bertanya kepada bibi Asih tentang kemungkinan Bayu pergi ketempat saudaranya. Akan tetapi semua itu nihil dan pilihan terakhirnya adalah melaporkan kepada polisi. Benarkan?”
            Elena dan bibi Asih sedikit kaget mendengar apa yang telah dikatakan oleh Roman. Bibi Asih berhenti menangis, mereka saling pandang. Mereka merasa belum menceritakan hal itu kepada Roman.
            “Bagaimana kamu bisa tahu?”, kata Elena dengan sedikit tidak percaya.
            “Aku hanya menduga Elena. Karena ketika seseorang melapor kepada polisi, mereka sudah tidak memiliki jalan lain. Kamu berharap dengan bantuan polisi akan lebih cepat dan mudah untuk menemukan Bayu. Ya itu memang benar. Akan tetapi, kasus orang hilang belum tentu sebuah tindakan kriminal. Seperti kasus-kasus lainnya, kita harus memiliki bukti yang kuat agar polisi segera bertindak cepat untuk menangani kasus ini.”, kata Roman dengan raut wajah serius yang membuat pipinya semakin tirus.
            “Lalu apa yang harus kita lakukan?”, kata Elena.
            “Yang harus kita lakukan adalah mencari petunjuk. Mencari motif kepergian Bayu untuk menjadikannya sebuah bukti tindakan kriminal.”
*****

2 comments:

  1. Penasaran, kemana perginya Roman?...
    Ceritanya bagus...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Elin. ditunggu lanjutannya ya. :)

      Delete

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...