welcome

Friday, October 13, 2017

Cerpen: Cinta Angka 1 & 3



"CINTA ANGKA 1 & 3"
Oleh : Aufklarung Nugroho


“ Nduk,.. hidup itu pilihan. Apapun pilihanmu, itulah takdirmu”.

 ****

Sinar matahari menggambarkan siluet benda – benda dari arah timur. Kantong – kantong air diujung daun, mengisyaratkan bahwa hujan semalam masih membekas. Bau udara dingin yang hanya bisa dirasakan oleh kulit. Suara kokok ayam dan kicauan burung menandakan kehidupan dimulai kembali.
Rin, Rina…,   hey…, pagi – pagi sudah ngelamun!”.
Eh….., kenapa mbak?”, aku memperbaiki posisi dudukku dengan ekspresi kaget dan sedikit bingung.
Kamu itu kenapa pagi – pagi ngelamun?, nanti ada setan lewat kesurupan lho….”. kata kakakku sedikit ketus.
Gak kok mbak, mbak Rani lagi ngapain?”, aku sedikit tersenyum mencoba mengalihkan perhatian.
Memangnya lagi mikirin apaan dek? Cerita aja sama mbak.” Tanpa menghiraukan pertanyaanku. Dengan nada bicaranya yang khas, membuat siapapun ingin membagi cerita tentang masalah yang sedang dihadapi.
Aku diam, dengan posisi duduk berhadapan dimeja makan. Seakan tak menghiraukan pertanyaan darinya yang menatapku menunggu jawaban.
Kok diam aja??”, kak Rani semakin menatapku dengan ekspresi penuh tanda Tanya.
Eh..,    gak papa kok mbak. Aku Cuma teringat nasehat ibu waktu dirumah kemarin”. Aku mencoba memberi jawaban atas ekspresi wajah kak Rani yang penuh Tanya.
Oh….,  tentang itu to.  Sudahlah jangan terlalu dipikir berat – berat nanti cepat tua hlo. Mending sekarang kita sarapan. Sudah mbak masakin bubur kacang hijau kesukaanmu.” Dengan senyum meriahnya, kak Rani mencoba mengalihkanku dari lamunan.
Wah……,  enak banget nih kelihatannya.” Dengan wajah gembira, akupun tergoda untuk lebih memilih sarapan dari pada melamun.

                                                                        ****

Cerita ini berawal ketika aku menginjak semester 3 Fakultas Ushulludin dan Dakwah disalah satu PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di kota Solo. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), aku dan kakakku Rani memutuskan untuk melanjutkan program pendidikan Strata1 (S1) Bimbingan Konseling Islam atau sering disingkat dengan BKI disalah satu PTAIN di kota Solo yang notabene jauh dari tempat tinggalku.
Memang menjadi keputusan yang berat ketika kita memilih untuk kuliah di Solo. Melihat kondisi Ayah dan kakak lelaki kami yang merantau ke kota metropolitan, sehingga ibu harus sendirian dirumah ketika kita memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswi yaitu kuliah. Kita memilih kost untuk menghemat anggaran dalam transportasi, dan jarak antara kampus dengan rumah kita sekitar 2 jam sehingga setiap satu minggu sekali kita masih bisa pulang kerumah untuk menemani ibu dirumah sekaligus mengobati rasa kangenku terhadap seseorang. Tetapi itu satu tahun yang lalu sebelum kita sepakat untuk mengakhiri semuanya.

Hai Rina…”, Seorang lelaki menyapa dan suaranya tak asing lagi bagiku.
            “Hai mas…”, Balas aku menyapanya sembari melambaikan tangan.

            Namanya mas Adi. Dia merupakan senior dikampus yang sering membimbingku ketika aku sedang bingung tentang tugas kuliah. Dia merupakan pribadi yang kritis menurutku, karena kita sering ngobrol bersama sampai berjam – jam. Kita sering mengobrolkan banyak hal, dan yang paling sering dia ceritakan adalah tentang masalah birokrasi kampus.
            “Ada waktu gak dek? Mas pengen cerita”. Dia bertanya sembari tersenyum manis kepadaku.
            “Em.., boleh mas. Kebetulan aku juga baru aja selesai kuliah dan gak ada matakuliah lagi.” Jawabku dengan senyum termanis tak mau kalah.
            “Oke..,  kalo gitu ngobrol disitu aja ya.” Ia melangkah sembari mengarahkan jari telunjuknya kearah kursi panjang sebelah kiri tangga.
            Aku sangat suka sekali momen – momen seperti ini. Momen dimana kita mendengar dan berbicara untuk berbagi cerita. Dan lebih senang lagi ketika bercerita dengannya. Setiap kata yang keluar dari bibirnya merupakan vitamin bagi telingaku. Dia juga merupakan salah satu mahasiswa berprestasi dikampusku, sehingga aku tak salah kalau mengaguminya.
            “Kamu tahu gak Rin?, Birokrasi di kampus kita ini rumit, sungguh rumit sekali!” Dia berkata dengan tatapan serius.
            “Rumit gimana mas??” tanyaku dengan nada dan raut wajah ingin tau.
            “Sungguh rumit, serumit perasaanku padamu.” Dia menatapku dengan senyum yang sok manis.
Dasar laki – laki, suka sekali menggoda wanita. Untung saja aku bukan wanita yang mudah tergoda. Walaupun memang sedikit tersipu malu karena kata – katanya tersebut.
            “Ah mas Adi, didengerin serius malah gombal. Gombalku sudah banyak mas dikos.” Kataku dengan sedikit jengkel tapi suka.
            Mas Adi hanya tersenyum dan melajutkan lagi ceritanya tanpa menghiraukan gombalan tadi. Dia menceritakan tentang dirinya yang akan wisuda tahun ini dan dia juga berjanji mengenalkanku dengan keluarganya. Alangkah gembiranya hati ini ketika mendengarkan perkataannya itu. dalam hatiku berkata, “aku akan diperkenalkan dengan orangtuanya.” Sungguh ini tak terduga, itu akan menjadi momen yang sangat berharga bagiku. Juga merupakan jawaban atas tunas – tunas perasaan yang tumbuh dihati ini. Tentang kedekatan KITA.
                                                                        ****

            Handphone ku berbunyi. Aku sedikit kaget dan terbangun dari lamunanku, mencoba meraih handphone yang berada di atas meja belajar. Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. “Aku telah melamun selama 5 menit”, gumamku dalam hati.
Kulihat ada dua pesan yang masuk, semuanya dari mbak Rani yang mengingatkanku untuk tidak terlambat datang kepertemuan rutin.
            Aku teringat kejadian pertemuan enam bulan yang lalu. Tentang janji mas Adi yang entah dia lupa atau dia ingkari. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, walaupun dalam hati ini sungguh kecewa sekali. Tetapi didalam kekecewaan ini juga tersiratkan jawaban atas kegundahanku. Tentang sebuah pilihan yang begitu membebankan hati dan pikiran ini. Tentang nasehat ibu mengenai sebuah hubungan yang tidak biasa.
            Aku sering bercerita kepada ibu tentang perasaanku, tentang kedekatanku dengan seseorang. Walaupun kakak laki – lakiku selalu melarang aku dan kak Rani untuk berpacaran, tetapi tetap saja aku selalu menceritakan perasaanku kepada Ibu. Karena Ibu tak pernah mempermasalahkan hal itu. Ibu yang paling paham tentang apa yang sedang dirasakan oleh anak – anaknya. Ibu bagiku adalah sosok pahlawan sejati. Cinta dan kasih sayang kepada anak – anaknya lebih dari cinta dan kasih sayang pahlawan Indonesia saat berjuang membela tanah air ini. Cerita pahlawan Indonesia bisa dimanipulasi, tetapi cerita tentang cinta dan kasih sayang Ibu kepada anak – anaknya tidak bisa dimanipulasi.
            Aku ceritakan semua tentang mas Adi kepada Ibu. Mulai dari kepribadiannya, prestasinya di kampus, tentang pemikirannya yang kritis, dan masih banyak lagi. Ibu hanya tersenyum mendengarkan ceritaku dan kadang sedikit berkomentar. Hanya satu hal yang ditanyakan oleh ibu, “apakah dia an.......................?”.

Kriiiiiing......, kriiiiiiing...........kriiiiiiiiiiiiiiiiing..................
            Handphone ku berdering kali ini. Telephone dari kak Rani. Segera aku bergegas mengangkatnya.
“Halooo mbak”, jawabku.
“Kamu tidur Rin?. Kok smsnya mbak gak dibales??”, katanya.
“Gak kok mbak, tadi lagi baca – baca buku di kamar”, Jawabku.
“Oh..., yaudah. Kirain kamu tidur. Udah sholat belum? Kalau belum, cepetan sholat terus segera kesini sudah ditungguin teman - teman”, Perintah kak Rani.
“Iya mbak, ini mau wudhu.”, Jawabku datar.
“Yaudah, hati – hati dijalan ya.”, ia mengingatkan
Belum sempat ku jawab kalimatnya yang terakhir, telephone sudah dimatikan oleh kak Rani.
Segera aku bergegas mengambil air untuk wudhu. Kemudian menjalankan sholat Ashar dan setelah itu berdoa meminta petunjuk kepada Allah.

******
Tidak ada kabar lagi dari mas Adi setelah kelulusannya dua tahun yang lalu. Seperti gula yang larut dalam air, yang hanya menyisakan rasa manis sementara sampai tetes terakhir. Rasa manis di akhir perjumpaan kita saat dia mengatakan akan mengenalkanku kepada orang tuanya. Tapi setelah itu rasa manisnya hilang, seperti hilangnya dia tanpa kabar sedikitpun.
Kucoba menyibukkan diriku dengan hal – hal yang aku suka. Aktif organisasi kampus, bergabung dengan komunitas rebana, dan belajar bersama teman – teman satu seperjuanganku supaya tak memikirkan tentang hal itu lagi. Tetapi pada akhirnya ingatan itu selalu bisa mencuri kesempatan untuk masuk dalam alam bawah sadarku. Sehingga, ketika lengah sedikit saja ingatan itu langsung menyerang sampai kehati. Setiap ingatan itu menyerang, aku selalu bertanya kepada kak Rani. Mencoba mencari obatnya.
“Mbak, apa yang dinasehatkan ibu itu benar ya? Apa mas Adi percaya dengan hal seperti itu?”, tanyaku dengan rona muka yang sedih.
Kak Rani tidak pernah banyak berkomentar. Ia hanya tersenyum penuh makna, “Dek, pikirkan masa depanmu, jangan memikirkan hal yang sudah digariskan oleh Tuhan”.
Aku selalu diam ketika ia mengatakan hal itu. Setelah itu aku selalu teringat nasehat ibu dan mencoba memahaminya.
“Nduk, Ibuk sudah sering cerita sama kamu, kamu juga sudah tahu sendiri gimana nasib tetangga kita lik Sumirah dan mbak Marni. Andaikan itu sebuah kebetulan, tidak mungkin terjadi dua kali. Hal itu mungkin cuma menjadi lelucon saja di dunia yang masyarakatnya semakin modern ini.”
Kisah percintaan anak pertama dengan anak ketiga sampai kejenjang pernikahan, yang dimana akan berakhir dengan kesengsaraan, bahkan harus kehilangan nyawa salah satunya. Memang sebuah hal yang tidak masuk akal kalau kita percaya dengan Tuhan, itu sebuah hal yang takhayul.
“Tapi sekarang semuanya Ibuk serahkan sama kamu nduk. Karena hidup itu pilihan, apapun pilihanmu, itulah takdir dari pilihanmu. Ibuk Cuma berdoa semoga kamu diberikan jodoh yang tebaik”.
Cinta itu memang buta, sampai – sampai aku lupa bahwa jodoh itu sudah ada yang mengatur. Dan jodoh tak akan tertukar. Setelah sekian waktu berlalu, akhirnya aku paham nasehat ibu. Cinta tak perlu dicari, bahkan cinta sebenarnya ada disekitar kita dan tidak perlu terburu – buru untuk mengetahuinya. Karena aku tidak tahu siapa yang akan menjadi pendamping hidupku sampai saat itu tiba. Entah itu angka 1,3, 4, 5 ataupun tujuh. Karena jodoh PASTI BERSATU.

*****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...