"CINTA ANGKA 1 &
3"
Oleh : Aufklarung Nugroho
“ Nduk,.. hidup
itu pilihan. Apapun pilihanmu, itulah takdirmu”.
****
Sinar matahari
menggambarkan siluet benda – benda dari arah timur. Kantong – kantong air
diujung daun, mengisyaratkan bahwa hujan semalam masih membekas. Bau udara
dingin yang hanya bisa dirasakan oleh kulit. Suara kokok ayam dan kicauan
burung menandakan kehidupan dimulai kembali.
“Rin, Rina…, hey…, pagi – pagi sudah ngelamun!”.
“Eh….., kenapa mbak?”,
aku memperbaiki posisi dudukku dengan ekspresi kaget dan sedikit bingung.
“Kamu itu kenapa
pagi – pagi ngelamun?, nanti ada setan lewat kesurupan lho….”. kata kakakku
sedikit ketus.
“Gak kok mbak, mbak
Rani lagi ngapain?”,
aku sedikit tersenyum mencoba mengalihkan perhatian.
“Memangnya lagi
mikirin apaan dek? Cerita aja sama mbak.” Tanpa menghiraukan pertanyaanku. Dengan
nada bicaranya yang khas, membuat siapapun ingin membagi cerita tentang masalah
yang sedang dihadapi.
Aku diam, dengan
posisi duduk berhadapan dimeja makan. Seakan tak
menghiraukan pertanyaan darinya yang menatapku menunggu jawaban.
“Kok diam aja??”,
kak Rani semakin
menatapku dengan ekspresi penuh tanda Tanya.
“Eh.., gak papa kok mbak. Aku Cuma teringat
nasehat ibu waktu dirumah kemarin”. Aku mencoba memberi jawaban atas ekspresi
wajah kak Rani yang penuh Tanya.
“Oh…., tentang itu to. Sudahlah jangan terlalu dipikir berat – berat nanti cepat tua hlo.
Mending sekarang kita sarapan. Sudah mbak masakin bubur kacang hijau kesukaanmu.”
Dengan senyum meriahnya, kak Rani mencoba
mengalihkanku dari lamunan.
“Wah……, enak banget nih kelihatannya.” Dengan wajah
gembira, akupun tergoda untuk lebih memilih sarapan dari pada melamun.
****
Cerita ini
berawal ketika aku menginjak semester 3 Fakultas Ushulludin dan Dakwah disalah
satu PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di kota Solo. Setelah lulus
dari Sekolah Menengah Atas (SMA), aku dan kakakku Rani memutuskan
untuk melanjutkan program pendidikan Strata1 (S1) Bimbingan Konseling Islam
atau sering disingkat dengan BKI disalah satu PTAIN di kota Solo yang notabene
jauh dari tempat tinggalku.
Memang menjadi
keputusan yang berat ketika kita memilih untuk kuliah di Solo. Melihat kondisi
Ayah dan kakak lelaki
kami yang merantau ke kota
metropolitan, sehingga ibu harus sendirian dirumah ketika kita memenuhi
kewajiban sebagai seorang mahasiswi yaitu kuliah. Kita memilih kost untuk
menghemat anggaran dalam transportasi, dan jarak antara kampus dengan rumah
kita sekitar 2 jam sehingga setiap satu minggu sekali kita masih bisa pulang
kerumah untuk menemani ibu dirumah sekaligus mengobati rasa kangenku terhadap
seseorang. Tetapi itu satu tahun yang lalu sebelum kita sepakat untuk
mengakhiri semuanya.
“Hai Rina…”, Seorang lelaki
menyapa dan suaranya tak asing lagi bagiku.
“Hai mas…”, Balas aku menyapanya sembari melambaikan tangan.
Namanya mas Adi. Dia merupakan
senior dikampus yang sering membimbingku ketika aku sedang bingung tentang tugas kuliah. Dia merupakan pribadi yang
kritis menurutku, karena kita sering ngobrol bersama sampai berjam – jam. Kita
sering mengobrolkan banyak hal, dan yang paling sering dia ceritakan adalah
tentang masalah birokrasi kampus.
“Ada waktu gak
dek? Mas pengen cerita”. Dia bertanya sembari tersenyum manis
kepadaku.
“Em.., boleh mas.
Kebetulan aku juga baru aja selesai kuliah dan gak ada matakuliah lagi.”
Jawabku dengan senyum termanis tak mau kalah.
“Oke.., kalo gitu ngobrol disitu aja ya.” Ia melangkah sembari mengarahkan
jari telunjuknya kearah kursi panjang sebelah kiri tangga.
Aku sangat suka
sekali momen – momen seperti ini. Momen dimana kita mendengar dan berbicara
untuk berbagi cerita. Dan lebih senang lagi ketika bercerita dengannya. Setiap
kata yang keluar dari bibirnya merupakan vitamin bagi telingaku. Dia juga
merupakan salah satu mahasiswa berprestasi dikampusku, sehingga aku tak salah
kalau mengaguminya.
“Kamu tahu gak Rin?, Birokrasi di kampus kita ini rumit, sungguh rumit
sekali!” Dia berkata dengan tatapan serius.
“Rumit gimana mas??” tanyaku dengan nada dan raut wajah ingin
tau.
“Sungguh rumit, serumit perasaanku padamu.” Dia menatapku
dengan senyum yang sok manis.
Dasar laki –
laki, suka sekali menggoda wanita. Untung saja aku bukan wanita yang mudah
tergoda. Walaupun memang sedikit tersipu malu karena kata – katanya tersebut.
“Ah mas Adi, didengerin serius malah gombal. Gombalku sudah banyak mas
dikos.” Kataku dengan sedikit jengkel tapi suka.
Mas Adi hanya tersenyum dan melajutkan lagi
ceritanya tanpa menghiraukan gombalan tadi. Dia menceritakan tentang dirinya
yang akan wisuda tahun ini dan dia juga berjanji mengenalkanku dengan
keluarganya. Alangkah gembiranya hati ini ketika mendengarkan perkataannya itu.
dalam hatiku berkata, “aku akan diperkenalkan dengan orangtuanya.” Sungguh ini
tak terduga, itu akan menjadi momen yang sangat berharga bagiku. Juga merupakan
jawaban atas tunas – tunas perasaan yang tumbuh dihati ini. Tentang kedekatan
KITA.
****
Handphone ku berbunyi. Aku
sedikit kaget dan terbangun dari lamunanku, mencoba meraih handphone yang
berada di atas meja belajar. Kulihat jam menunjukkan pukul 14.30. “Aku telah
melamun selama 5 menit”, gumamku dalam hati.
Kulihat ada dua
pesan yang masuk, semuanya dari mbak Rani yang mengingatkanku untuk tidak terlambat datang
kepertemuan rutin.
Aku teringat kejadian pertemuan enam
bulan yang lalu. Tentang janji mas Adi yang entah dia lupa atau dia ingkari.
Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, walaupun dalam hati ini sungguh kecewa
sekali. Tetapi didalam kekecewaan ini juga tersiratkan jawaban atas
kegundahanku. Tentang sebuah pilihan yang begitu membebankan hati dan pikiran
ini. Tentang nasehat ibu mengenai sebuah hubungan yang tidak biasa.
Aku sering bercerita kepada ibu
tentang perasaanku, tentang kedekatanku dengan seseorang. Walaupun kakak laki –
lakiku selalu melarang aku dan kak Rani untuk berpacaran, tetapi tetap saja aku selalu menceritakan
perasaanku kepada Ibu. Karena Ibu tak pernah
mempermasalahkan hal itu. Ibu yang paling paham tentang apa yang sedang
dirasakan oleh anak – anaknya. Ibu bagiku adalah sosok pahlawan sejati. Cinta
dan kasih sayang kepada anak –
anaknya lebih dari cinta dan kasih sayang pahlawan Indonesia saat berjuang membela tanah air ini. Cerita pahlawan Indonesia bisa
dimanipulasi, tetapi cerita tentang cinta dan kasih sayang Ibu kepada anak –
anaknya tidak bisa dimanipulasi.
Aku
ceritakan semua tentang mas Adi kepada Ibu. Mulai dari kepribadiannya,
prestasinya di kampus, tentang pemikirannya yang kritis, dan masih banyak lagi.
Ibu hanya tersenyum mendengarkan ceritaku dan kadang sedikit berkomentar. Hanya
satu hal yang ditanyakan oleh ibu, “apakah dia an.......................?”.
Kriiiiiing......,
kriiiiiiing...........kriiiiiiiiiiiiiiiiing..................
Handphone
ku berdering kali ini. Telephone dari kak Rani. Segera aku bergegas
mengangkatnya.
“Halooo mbak”, jawabku.
“Kamu tidur Rin?. Kok smsnya mbak gak
dibales??”, katanya.
“Gak kok mbak, tadi lagi baca – baca buku
di kamar”, Jawabku.
“Oh..., yaudah. Kirain kamu tidur. Udah
sholat belum? Kalau belum, cepetan sholat terus segera kesini sudah ditungguin teman
- teman”, Perintah kak Rani.
“Iya mbak, ini mau wudhu.”, Jawabku
datar.
“Yaudah, hati – hati dijalan ya.”, ia
mengingatkan
Belum sempat ku jawab kalimatnya yang
terakhir, telephone sudah dimatikan oleh kak Rani.
Segera aku bergegas mengambil air untuk
wudhu. Kemudian menjalankan sholat Ashar dan setelah itu berdoa meminta
petunjuk kepada Allah.
******
Tidak ada kabar lagi dari mas Adi setelah
kelulusannya dua tahun yang lalu. Seperti gula yang larut dalam air, yang hanya
menyisakan rasa manis sementara sampai tetes terakhir. Rasa manis di akhir
perjumpaan kita saat dia mengatakan akan mengenalkanku kepada orang tuanya. Tapi
setelah itu rasa manisnya hilang, seperti hilangnya dia tanpa kabar sedikitpun.
Kucoba menyibukkan diriku dengan hal –
hal yang aku suka. Aktif organisasi kampus, bergabung dengan komunitas rebana,
dan belajar bersama teman – teman satu seperjuanganku supaya tak memikirkan
tentang hal itu lagi. Tetapi pada akhirnya ingatan itu selalu bisa mencuri
kesempatan untuk masuk dalam alam bawah sadarku. Sehingga, ketika lengah
sedikit saja ingatan itu langsung menyerang sampai kehati. Setiap ingatan itu
menyerang, aku selalu bertanya kepada kak Rani. Mencoba mencari obatnya.
“Mbak, apa yang dinasehatkan ibu itu benar ya? Apa mas Adi percaya dengan hal seperti
itu?”, tanyaku dengan rona muka yang sedih.
Kak Rani tidak pernah banyak berkomentar.
Ia hanya tersenyum penuh makna, “Dek, pikirkan masa depanmu, jangan memikirkan hal
yang sudah digariskan oleh Tuhan”.
Aku selalu diam ketika ia mengatakan hal
itu. Setelah itu aku selalu teringat nasehat ibu dan mencoba memahaminya.
“Nduk, Ibuk sudah sering cerita sama
kamu, kamu juga sudah tahu sendiri gimana nasib tetangga kita lik Sumirah
dan mbak Marni. Andaikan itu sebuah kebetulan, tidak mungkin terjadi dua kali.
Hal itu mungkin cuma menjadi lelucon saja di dunia yang masyarakatnya semakin
modern ini.”
Kisah percintaan anak pertama dengan anak
ketiga sampai kejenjang pernikahan, yang dimana akan berakhir dengan kesengsaraan,
bahkan harus kehilangan nyawa salah satunya. Memang sebuah hal yang tidak masuk
akal kalau kita percaya dengan Tuhan, itu sebuah hal yang takhayul.
“Tapi sekarang semuanya Ibuk serahkan
sama kamu nduk. Karena hidup itu pilihan, apapun pilihanmu, itulah takdir dari
pilihanmu. Ibuk Cuma berdoa semoga kamu diberikan jodoh yang tebaik”.
Cinta itu memang buta, sampai – sampai
aku lupa bahwa jodoh itu sudah ada yang mengatur. Dan jodoh tak akan tertukar. Setelah
sekian waktu berlalu, akhirnya aku paham nasehat ibu. Cinta tak perlu dicari,
bahkan cinta sebenarnya ada disekitar kita dan tidak perlu terburu – buru untuk
mengetahuinya. Karena aku tidak tahu siapa yang akan menjadi pendamping hidupku
sampai saat itu tiba. Entah itu angka 1,3, 4, 5 ataupun tujuh. Karena jodoh PASTI
BERSATU.
*****
No comments:
Post a Comment