welcome

Friday, August 25, 2017

Pencuri Chapter 5: Klub Berbagi


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 5
“Klub Berbagi”
           
Kemana kamu hari ini?
Tadi ada Kuis dan yang tidak mengikuti harus mengumpulkan tugas.
Kutunggu kamu di tempat biasa!

Kubaca sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku.
“Ah! Sial!”, gerutuku sembari mengacak-acak rambut.
Insiden tadi pagi membuatku harus bolos kuliah dan juga tidak mengikuti kuis. Sungguh tidak beruntung sekali hari ini. 
“Semua ini gara-gara pencuri itu, Sial!”, gerutuku lagi.
Selang beberapa menit menikmati perjalanan dengan menggerutu, gerbang kampusku sudah terlihat dari kejauhan. Aku berdiri menghampiri kernet.
“Turun depan kampus bang.”
Lalu kernet tersebut berteriak sembari mengetuk kaca dengan uang koin.
 “Depan kampus kiri!”
Perlahan bus berhenti dan perlahan aku turun melangkah menggunakan kaki kiri terlebih dahulu.
Saat masih kecil aku sempat bertanya-tanya, kenapa ketika turun dari bus harus menggunakan kaki kiri terlebih dahulu. Ketika itu juga aku mencari jawaban dengan bertanya pada kernet. Lalu kernet itu menjawab.
“Kalau kamu turun dari bus dengan kaki kanan terlebih dahulu, kamu bisa jatuh.”
Aku yang dulu masih kecil dan polos penasaran dengan jawaban si kernet, maka suatu ketika aku mencoba turun menggunakan kaki kanan, alhasil aku jatuh tersungkur dan ditertawakan oleh anak-anak lain yang kebetulan melintas. Untung saja aku tidak terlindas roda bus.
Saat SMA aku baru mengetahui jawaban ilmiah tentang misteri turun dari bus harus menggunakan kaki kiri. Menurut ilmu Fisika, setiap benda bermasa memiliki kelembaman atau kemalasan. Benda yang diam akan sulit untuk bergerak, dan benda yang bergerak akan sulit untuk berhenti. Ketika kita berada dalam bus yang bergerak dan kemudian turun keaspal yang diam maka tubuh kita cenderung tetap bergerak sehingga bisa terjatuh karena tidak seimbang. Gunanya menggunakan kaki kiri terlebih dahulu adalah agar kita bisa mengikuti gerak untuk menjaga keseimbangan, karena posisi trotoar disebelah kiri dan bus di sebelah kanan. Begitulah kiranya jawaban ilmiah yang bisa aku tangkap dari ilmu Fisika.
*****

Kampus terlihat ramai hari ini. Ya, karena hari ini adalah hari senin, semua kesibukan diawali pada hari senin. Sejenak aku mengamati jam tanganku, sudah setengah hari lewat satu jam. Bergegas aku menuju ketempat yang sudah dijanjikan. Tempat biasa kami bertemu, yaitu Perpustakaan.
Aku berjalan perlahan memasuki pintu kaca besar, perpustakaan terlihat cukup ramai siang ini. Kuamati setiap sudut ruangan yang penuh dengan rak buku tersebut. Terlihat dari kejauhan seorang wanita berambut lurus sebahu sedang duduk membaca buku dimeja pojok. Kulitnya yang putih selalu memudahkanku menemukannya, karena memang kulitnyalah yang paling putih di seluruh penghuni kampus ini. Warna putih pada kulitnya tersebut alami keturunan dari orang tuanya.
Kudekati iya perlahan dengan tidak menimbulkan suara dan kecurigaan sedikitpun. Pelan-pelan mendekatinya dari belakang dan kemudian kudekati kupingnya lalu berbisik.
“Hai gadis.”
Mendengar bisikan itu ia terperangah kaget dan berteriak.
“Kurang Ajar!”, Ia memukulkan buku kearah kepalaku.
“Aduhh!”, Aku berteriak dan melangkah mundur sembari mengusap-usap kepala. Semua mata menatap kami dengan penuh kebencian. Mereka merasa terusik dengan suara teriakan kami.
“Sssstttttts!, Jangan berisik!”, Tegur petugas perpustakaan.
Aku hanya tersenyum membalas teguran itu lalu meraih kursi duduk berhadapan dengan wanita yang kukageti tadi.
Namanya Elena Eleanor, teman baikku dikampus ini. Ia merupakan seorang wanita keturunan Eropa, tetapi sejak lahir ia dibesarkan di sini. Ayahnya adalah orang jawa dan Ibunya asli Eropa, mungkin itulah warisan kulit putih Elena. Rambutnya berwarna hitam lurus, begitu indah. Hidung mancung tak lupa melengkapi kecantikannya yang merupakan khas Bangsanya.
Elena adalah seorang wanita yang sangat menyukai buku dan hampir setiap hari ia selalu sarapan dengan membaca buku. Seorang kutu buku yang tidak memakai kacamata. Ada satu resep yang aku dapat dari Elena untuk menjaga kesehatan mata yaitu selalu mengkonsumsi wortel setiap hari. Ya, hampir setiap hari ia mengkonsumsi wortel. Pagi hari jus wortel, siang hari memakan wortel mentah atau terkadang dimasak, dan malam hari ditutup dengan jus wortel lagi. Walaupun begitu, ia tidak mirip dengan binatang pengerat seperti kelinci. Giginya putih, sangat indah melengkapi senyum dan tawanya setiap hari.
“Kemana saja kamu pagi ini?”, kata Elena sembari meletakkan buku yang ia pergunakan untuk memukulku tadi diatas meja.
“Tadi aku sedikit mengalami musibah saat perjalanan menuju kampus. Aku mengejar pencuri dan tertabrak mobil, lalu dibawa kerumah sakit. Ini masih ada bekasnya”, aku menceritakan kejadian tadi pagi kepadanya dan menunjukkan bekas infuse yang masih tersisa.
“Apa katamu? Pencuri? Tertabrak mobil dan masuk rumah sakit?”, ia menatapku seakan tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan.
“Iya, lihat saja bekas luka-luka ini?”, Aku menunjukan bekas luka dilengan dan lututku. Saat mengamati luka itu, Aku baru sadar bahwa luka-luka ditubuhku telah sembuh.
“Benarkah? Tidak ada tanda-tanda luka parah ditubuhmu, dan bahkan kamu terlihat baik-baik saja seperti tidak mengalami sebuah kecelakaan seperti yang kamu katakan barusan.”, Setelah melihat bekas luka yang aku tunjukan ia memalingkan pandangan dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Sudah lupakan saja soal lukamu. Bagiku, kamu sudah sampai disini menandakan bahwa dirimu baik-baik saja. Kamu sudah membaca pesan ku? Nah, ini tugas yang harus kamu kerjakan pengganti kuis tadi pagi.”, ia mengeluarkan beberapa tumpukan kertas dan memberikannya kepadaku.
“Wah, terimakasih banyak Elena, kamu memang teman paling baik dan perhatian kepadaku.”, Kuraih kertas tugas pemberiaannya sembari tersenyum.
Aku baca kertas pemberiaannya dan diantara kumpulan kertas tugas tersebut ada sebuah pamflet yang bertuliskan “Klub Berbagi : Perkembangan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat manusia”.
“Apa ini?”, Aku menunjukan pamflet itu kepada Elena.
“Oh.., itu acara klub berbagi.”, Katanya setelah melirik pamflet yang Aku tunjukan lalu fokus kembali membaca buku diatas mejanya.
“Apa itu klub berbagi?”
“Kamu yakin ingin mendengarkan penjelasanku? tidak biasanya kamu tertarik dengan hal seperti itu.”, Jawabnya dengan tatapan ragu.
“Hei, memangnya ada yang salah dari pertanyaanku? Sudahlah jelaskan saja.”
“Huhft.., baiklah akan aku jelaskan. Klub berbagi itu adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang ingin berbagi dengan orang lain tentang apa saja secara gratis.”
“Berbagi apa saja secara gratis? Maksudnya?”
“Iya, berbagi apa saja secara gratis. Maksudnya adalah bukan sekedar berbagi materi untuk orang yang membutuhkan, tapi bisa berbagi ilmu, berbagi pengalaman, atau apa saja yang penting bermanfaat untuk orang lain. Contoh seperti acara dipamflet yang kamu pegang, itu adalah contoh berbagi ilmu. Pengurus klub berbagi menyediakan tempat bagi siapa saja yang ingin berbagi dengan orang lain secara gratis, dan bagi peserta yang ingin mengikuti acara tersebut juga tidak dipungut biaya, cukup memberikan uang seiklasnya. Uang dari peserta tersebut nantinya akan disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan.”
“Kalau semuanya gratis, lalu bagaimana pengurus klub tersebut membiayai acara seperti ini?”, tanyaku ragu sembari menunjuk pamflet diatas meja.
“Aku kurang paham sih. Tapi namanya niat baik pasti menghasilkan sesuatu yang baik pula. Mendengar cerita dari salah satu pengurus klub tersebut bahwa dalam mengadakan sebuah acara berbagi seperti itu, awalnya mereka menggunakan biaya dari iuran anggota. Acara yang mereka selenggarakan selalu rame dan orang-orang sangat antusias. Lambat laun semakin banyak orang yang ingin berbagi, ada yang berbagi tempat seperti meminjamkan gedung untuk penyelenggaraan acara, ada yang berbagi menyediakan konsumsi, ada yang berbagi menyediakan perlengkapan seperti sound system, dan lain-lain. Jadi klub tersebut bisa bertahan karena kekuatan dari berbagi itu sendiri, ya seperti Sedekah kalau dalam ajaran agama Islam, begitu.”
“Wah.., keren. Aku baru tahu ternyata ada perkumpulan sekeren ini.”
“Makanya jangan cuma kumpul kebo. Kumpul-kumpul itu yang bermanfaat.”
“Enak saja kumpul kebo! mending kumpulin nih tugas kuliah!”, jawabku ketus sembari melemparkan kertas tugas yang Elena berikan tadi keatas meja.
“Gimana? Tertarik untuk datang ke acara klub itu? Acaranya hari ini, dimulai jam 4 sore di gedung aula kampus.”
“Boleh, sepertinya ini acara yang menarik, tapi bantu menyelesaikan tugasku dulu.”
“Hem..., baiklah.”, Jawab Elena setengah malas.
*****



No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...