Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter
5
“Klub Berbagi”
Kemana kamu hari ini?
Tadi ada Kuis dan yang tidak mengikuti harus mengumpulkan tugas.
Kutunggu kamu di tempat biasa!
Kubaca sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku.
“Ah! Sial!”, gerutuku sembari mengacak-acak rambut.
Insiden tadi pagi membuatku harus bolos kuliah dan juga tidak mengikuti
kuis. Sungguh tidak beruntung sekali hari ini.
“Semua ini gara-gara pencuri itu, Sial!”, gerutuku lagi.
Selang beberapa menit menikmati perjalanan dengan menggerutu, gerbang
kampusku sudah terlihat dari kejauhan. Aku berdiri menghampiri kernet.
“Turun depan kampus bang.”
Lalu kernet tersebut berteriak sembari mengetuk kaca dengan uang koin.
“Depan kampus kiri!”
Perlahan bus berhenti dan perlahan aku turun melangkah menggunakan kaki
kiri terlebih dahulu.
Saat masih kecil aku sempat bertanya-tanya, kenapa ketika turun dari bus
harus menggunakan kaki kiri terlebih dahulu. Ketika itu juga aku mencari
jawaban dengan bertanya pada kernet. Lalu kernet itu menjawab.
“Kalau kamu turun dari bus dengan kaki kanan terlebih dahulu, kamu bisa
jatuh.”
Aku yang dulu masih kecil dan polos penasaran dengan jawaban si kernet,
maka suatu ketika aku mencoba turun menggunakan kaki kanan, alhasil aku jatuh
tersungkur dan ditertawakan oleh anak-anak lain yang kebetulan melintas. Untung
saja aku tidak terlindas roda bus.
Saat SMA aku baru mengetahui jawaban ilmiah tentang misteri turun dari bus
harus menggunakan kaki kiri. Menurut ilmu Fisika, setiap benda bermasa memiliki
kelembaman atau kemalasan. Benda yang diam akan sulit untuk bergerak, dan benda
yang bergerak akan sulit untuk berhenti. Ketika kita berada dalam bus yang
bergerak dan kemudian turun keaspal yang diam maka tubuh kita cenderung tetap
bergerak sehingga bisa terjatuh karena tidak seimbang. Gunanya menggunakan kaki
kiri terlebih dahulu adalah agar kita bisa mengikuti gerak untuk menjaga
keseimbangan, karena posisi trotoar disebelah kiri dan bus di sebelah kanan.
Begitulah kiranya jawaban ilmiah yang bisa aku tangkap dari ilmu Fisika.
*****
Kampus terlihat ramai hari ini. Ya, karena hari ini adalah hari senin,
semua kesibukan diawali pada hari senin. Sejenak aku mengamati jam tanganku,
sudah setengah hari lewat satu jam. Bergegas aku menuju ketempat yang sudah
dijanjikan. Tempat biasa kami bertemu, yaitu Perpustakaan.
Aku berjalan perlahan memasuki pintu kaca besar, perpustakaan terlihat
cukup ramai siang ini. Kuamati setiap sudut ruangan yang penuh dengan rak buku
tersebut. Terlihat dari kejauhan seorang wanita berambut lurus sebahu sedang
duduk membaca buku dimeja pojok. Kulitnya yang putih selalu memudahkanku
menemukannya, karena memang kulitnyalah yang paling putih di seluruh penghuni
kampus ini. Warna putih pada kulitnya tersebut alami keturunan dari orang
tuanya.
Kudekati iya perlahan dengan tidak menimbulkan suara dan kecurigaan
sedikitpun. Pelan-pelan mendekatinya dari belakang dan kemudian kudekati
kupingnya lalu berbisik.
“Hai gadis.”
Mendengar bisikan itu ia terperangah kaget dan berteriak.
“Kurang Ajar!”, Ia memukulkan buku kearah kepalaku.
“Aduhh!”, Aku berteriak dan melangkah mundur sembari mengusap-usap kepala. Semua mata menatap kami
dengan penuh kebencian. Mereka merasa terusik dengan suara teriakan kami.
“Sssstttttts!, Jangan berisik!”, Tegur petugas perpustakaan.
Aku hanya tersenyum membalas teguran itu lalu meraih kursi duduk berhadapan
dengan wanita yang kukageti tadi.
Namanya Elena Eleanor, teman baikku dikampus ini. Ia merupakan seorang
wanita keturunan Eropa, tetapi sejak lahir ia dibesarkan di sini. Ayahnya
adalah orang jawa dan Ibunya asli Eropa, mungkin itulah warisan kulit putih
Elena. Rambutnya berwarna hitam lurus, begitu indah. Hidung mancung tak lupa
melengkapi kecantikannya yang merupakan khas Bangsanya.
Elena adalah seorang wanita yang sangat menyukai buku dan hampir setiap
hari ia selalu sarapan dengan membaca buku. Seorang kutu buku yang tidak
memakai kacamata. Ada satu resep yang aku dapat dari Elena untuk menjaga
kesehatan mata yaitu selalu mengkonsumsi wortel setiap hari. Ya, hampir setiap
hari ia mengkonsumsi wortel. Pagi hari jus wortel, siang hari memakan wortel
mentah atau terkadang dimasak, dan malam hari ditutup dengan jus wortel lagi.
Walaupun begitu, ia tidak mirip dengan binatang pengerat seperti kelinci.
Giginya putih, sangat indah melengkapi senyum dan tawanya setiap hari.
“Kemana saja kamu pagi ini?”, kata Elena sembari meletakkan buku yang ia
pergunakan untuk memukulku tadi diatas meja.
“Tadi aku sedikit mengalami musibah saat perjalanan menuju kampus. Aku
mengejar pencuri dan tertabrak mobil, lalu dibawa kerumah sakit. Ini masih ada
bekasnya”, aku menceritakan kejadian tadi pagi kepadanya dan menunjukkan bekas
infuse yang masih tersisa.
“Apa katamu? Pencuri? Tertabrak mobil dan masuk rumah sakit?”, ia menatapku
seakan tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan.
“Iya, lihat saja bekas luka-luka ini?”, Aku menunjukan bekas luka dilengan
dan lututku. Saat mengamati luka itu, Aku baru sadar bahwa luka-luka ditubuhku
telah sembuh.
“Benarkah? Tidak ada tanda-tanda luka parah ditubuhmu, dan bahkan kamu
terlihat baik-baik saja seperti tidak mengalami sebuah kecelakaan seperti yang
kamu katakan barusan.”, Setelah melihat bekas luka yang aku tunjukan ia
memalingkan pandangan dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Sudah lupakan saja soal lukamu. Bagiku, kamu sudah sampai disini
menandakan bahwa dirimu baik-baik saja. Kamu sudah membaca pesan ku? Nah, ini
tugas yang harus kamu kerjakan pengganti kuis tadi pagi.”, ia mengeluarkan
beberapa tumpukan kertas dan memberikannya kepadaku.
“Wah, terimakasih banyak Elena, kamu memang teman paling baik dan perhatian
kepadaku.”, Kuraih kertas tugas pemberiaannya sembari tersenyum.
Aku baca kertas pemberiaannya dan diantara kumpulan kertas tugas tersebut
ada sebuah pamflet yang bertuliskan “Klub Berbagi : Perkembangan ilmu
pengetahuan untuk kemaslahatan umat manusia”.
“Apa ini?”, Aku menunjukan pamflet itu kepada Elena.
“Oh.., itu acara klub berbagi.”, Katanya setelah melirik pamflet yang Aku
tunjukan lalu fokus kembali membaca buku diatas mejanya.
“Apa itu klub berbagi?”
“Kamu yakin ingin mendengarkan penjelasanku? tidak biasanya kamu tertarik
dengan hal seperti itu.”, Jawabnya dengan tatapan ragu.
“Hei, memangnya ada yang salah dari pertanyaanku? Sudahlah jelaskan saja.”
“Huhft.., baiklah akan aku jelaskan. Klub berbagi itu adalah sebuah
perkumpulan orang-orang yang ingin berbagi dengan orang lain tentang apa saja
secara gratis.”
“Berbagi apa saja secara gratis? Maksudnya?”
“Iya, berbagi apa saja secara gratis. Maksudnya adalah bukan sekedar
berbagi materi untuk orang yang membutuhkan, tapi bisa berbagi ilmu, berbagi
pengalaman, atau apa saja yang penting bermanfaat untuk orang lain. Contoh
seperti acara dipamflet yang kamu pegang, itu adalah contoh berbagi ilmu.
Pengurus klub berbagi menyediakan tempat bagi siapa saja yang ingin berbagi
dengan orang lain secara gratis, dan bagi peserta yang ingin mengikuti acara tersebut
juga tidak dipungut biaya, cukup memberikan uang seiklasnya. Uang dari peserta
tersebut nantinya akan disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan.”
“Kalau semuanya gratis, lalu bagaimana pengurus klub tersebut membiayai
acara seperti ini?”, tanyaku ragu sembari menunjuk pamflet diatas meja.
“Aku kurang paham sih. Tapi namanya niat baik pasti menghasilkan sesuatu
yang baik pula. Mendengar cerita dari salah satu pengurus klub tersebut bahwa
dalam mengadakan sebuah acara berbagi seperti itu, awalnya mereka menggunakan
biaya dari iuran anggota. Acara yang mereka selenggarakan selalu rame dan
orang-orang sangat antusias. Lambat laun semakin banyak orang yang ingin
berbagi, ada yang berbagi tempat seperti meminjamkan gedung untuk
penyelenggaraan acara, ada yang berbagi menyediakan konsumsi, ada yang berbagi
menyediakan perlengkapan seperti sound system, dan lain-lain. Jadi klub
tersebut bisa bertahan karena kekuatan dari berbagi itu sendiri, ya
seperti Sedekah kalau dalam ajaran agama Islam, begitu.”
“Wah.., keren. Aku baru tahu ternyata ada perkumpulan sekeren ini.”
“Makanya jangan cuma kumpul kebo. Kumpul-kumpul itu yang bermanfaat.”
“Enak saja kumpul kebo! mending kumpulin nih tugas kuliah!”, jawabku ketus
sembari melemparkan kertas tugas yang Elena berikan tadi keatas meja.
“Gimana? Tertarik untuk datang ke acara klub itu? Acaranya hari ini,
dimulai jam 4 sore di gedung aula kampus.”
“Boleh, sepertinya ini acara yang menarik, tapi bantu menyelesaikan tugasku
dulu.”
“Hem..., baiklah.”, Jawab Elena setengah malas.
*****
No comments:
Post a Comment