welcome

Friday, August 11, 2017

Pencuri Chapter 3: Hiruk-Pikuk


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 3
“Hiruk-Pikuk”
           
            Orang-orang dengan berbagai profesi sudah memadati jalanan kota ini. Kendaraan plat merah dan hitam berkumpul menjadi satu. Aku pandangi kesibukan orang-orang dipinggir jalan. Ada yang sedang bercengkerama sembari menunggu datangnya angkutan kota. Ada juga yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk mengamati Gadget tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Gadget seakan memiliki sihir yang membuat penggunanya lupa daratan.
Suara derum mesin dan asap kendaraan berkumpul menjadi satu. Beginilah suasana didalam mobil angkutan kota. Harus bisa berbagi dengan orang lain dan berdesak-desakan sudah menjadi hal biasa. Tak jarang ada teriakan-teriakan kesal dari penumpang karena bus terlalu penuh dan masih dipaksakan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah soal kejar setoran.
Aku duduk dikursi pojok belakang dekat dengan jendela. Dekat dengan jendela adalah posisi favoritku. Kalau Aku tidak duduk dekat jendela dan mendapatkan banyak angin, bau pengap dalam angkutan ini bisa membuatku mual. Udara yang masuk melalui jendela mengibaskan rambutku yang telah rapi menjadi sedikit berantakan dan membuat pakaianku yang telah wangi harus rela bercampur dengan bau jalanan. Walaupun begitu, aku tetap menyukai transportasi umum ini.
Kuamati suasana pagi ini dari balik jendela bus. Suara klakson bersahut-sahutan, jalanan padat. Itulah mengapa aku lebih suka naik kendaraan umum dari pada kendaraan pribadi. Selain aksesnya mudah dijangkau, tidak perlu lelah menyetir sendiri untuk menghadapi kemacetan yang sering membuat geram. Seandainya transportasi umum bisa lebih baik lagi, misalnya fasilitas dan akses dapat menjangkau ke daerah-daerah yang terpencil, pasti masyarakat memilih menggunakan kendaraan umum dari pada kendaraan pribadi.
Beberapa menit berlalu, bus berhenti di halte menurunkan penumpang dan mengangkut penumpang yang baru. Kuamati keadaan didalam bus ini, cukup padat. Ada beberapa orang yang berdiri menunggu giliran untuk turun dari bus. Selang tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar teriakan dari seorang wanita muda.
“Tolong! Copet!”
Semua mata tertuju kepada wanita tersebut, begitu juga denganku. Kemudian pandanganku berpindah keseseorang yang mengenakan kaos warna hitam dilindungi jaket yang terbuat dari kulit. Bercelana jeans panjang warna navy dan mengenakan sepatu. Wajahnya tidak begitu jelas karena mengenakan snapback warna hitam. Kulihat ia sedikit berlari.
Disaat semua penumpang hanya bergumam dan saling menatap tidak mengambil tindakan, aku sudah bergegas mengejar orang tersebut tanpa dikomando. Orang tersebut berlari semakin kencang, begitu juga denganku. Hembusan nafas saling beradu, detak jantung semakin dipacu, dan langkah kaki semakin melaju. Sudah pasti dialah pelakunya, gumamku dalam hati.
“Hei, Berhenti kau pencuri!”, teriaku dengan nafas terengah-engah.
Pencuri atau orang yang aku curigai sebagai copet tersebut berlari didalam kerumunan orang, ia berlari dengan lincahnya, gesit seperti belut dalam lumpur. Para pejalan kaki kutabraki, tidak peduli caci maki mereka, aku hanya fokus untuk mengejar dan menagkap orang itu.
“Sial! kurang ajar! cepat juga larinya!”, geramku.
Langkah kaki semakin kupacu maksimal, pencuri itu berlari menyebrang jalan. Ku ikuti terus kemana langkah kaki pencuri tersebut berpijak, dan kupastikan bahwa aku akan menangkapnya.
“Dasar sampah!”, Aku semakin geram.
Saat langkahku sampai di tengah jalan raya, tanpa sadar ada sebuah mobil melaju kencang mendekat kearahku. Suara ban beradu dengan aspal, berdenyit mengilukan telinga. Lalu....
Bruaakkk!!!, suara tabrakan terdengar.
Aku terpental cukup jauh lalu terkapar. Tubuhku tergeletak terlentang menatap matahari, sayup-sayup terlihat orang-orang datang mengerumuniku. Kemudian pandanganku mulai terasa gelap, lalu aku tak sadarkan diri.
*****


No comments:

Post a Comment