welcome

Friday, July 28, 2017

Pencuri Chapter 1: Bunga Tidur


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 1
“Bunga Tidur”

           
“Di tempat duduk siap grak! Berdoa mulai!
Suasana ruang kelas 4 sekolah dasar impian menjadi hening setelah salah satu siswa berteriak dengan penuh semangat.
“Berdoa selesai! Kepada Ibu Guru beri salam!
“See-Laa-Maat Si-ang Bu Gu-Ruuu!”
Semua murid berteriak dengan serentak dan penuh semangat.
“Selamat siang anak–anak. Jangan lupa PRnya dikerjakan dan hati–hati ya pulangnya.”
Ibu guru mengingatkan seluruh muridnya sembari tersenyum ramah dan murid-murid menyalami Ibu guru sembari mencium tangannya bergantian.
“Bayu! jangan mendorong teman–temannya. Sabar dulu, semua dapat giliran!, kata Ibu guru dengan sedikit tegas.
Aku sangat gembira sekali hari ini, hingga membuatku tidak sabar ingin segera melangkah keluar kelas. Bergegas aku meraih tangan Ibu Guru dan menciumnya lalu berlari keluar. Seorang laki–laki sudah menungguku didepan gerbang sekolah. Aku langsung saja berlari menghampirinya dan berteriak.
“Kakak!”
Ia langsung menoleh dan tersenyum melambaikan tangannya kearahku yang sedang berlari menghampirinya.
Hello Boy.”, ia mengepalkan tinju kearahku dan aku membalasnya hingga kepalan tangan kanan kita saling beradu, kami menyebut ini sebagai salam tinju dewa.
Kita mau jalan–jalan kemana kak?, kataku sambil menarik–narik jaketnya.
Hahaha, kamu masih ingat rupanya. Hari ini kita akan jalan–jalan ketempat yang sangat menarik.”, katanya sembari sedikit berbisik membuatku penasaran.
Kemana kak?”, kataku dengan penuh antusias.
Kakak tidak mau memberi tahu sekarang. Ayo naiklah, kita segera menuju kesana.
Aku bergegas masuk kedalam mobil, lalu kita segera meluncur ketempat yang dijanjikan menarik olehnya.
*****
Tidak terasa waktu telah lama berlalu. Kita sudah melewati banyak jalan yang berlikuBeberapa jam yang lalu kita telah melewati lautan manusia dan gedung–gedung bertingkat. Tapi sekarang, kita sedang melintasi daerah yang begitu sejuk dipandang karena kehijauannya.
Aku sangat menikmati perjalanan yang indah ini. Beribu pertanyaan menyerbu kakaku yang sedang fokus mengemudikan mobilnya. Burung–burung yang terbang bebas begitu menakjubkan. Jarang sekali pemandangan seperti ini aku lihat ditempat tinggalku.
Setelah puas menikmati pemandangan dan memberondong pertanyaan kepada kakaku tentang tujuan kita, akhirnya kita sampai didepan pintu gerbang sebuah gedung yang megah, yang berada jauh dari pemukiman. Didepan gedung yang megah tersebut terpampang jelas sebuah tulisan HD Corp.
Tak selang berapa lama, pintu gerbang gedung megah itu terbuka secara otomatis. Aku terkagum melihat kemegahan gedung tersebut. Saat kita memasukinya, sudah ada dua orang yang menunggu didepan pintu. Mereka berdua tak lain adalah orangtuaku.
“Ibu, Ayah!
Aku langsung berteriak dan berlari menghampiri mereka saat turun dari mobil. Ayah dan Ibu memelukku dengan erat, dan aku menangis tersedu-sedu. Kita sudah lama berpisah, karena sejak umurku masih 2 tahun, aku dititipkan dan tinggal bersama Bibi. Kesempatan ini begitu membahagiakan sekali.
Aku kangen., kataku dengan suara bergetar.
“Ibu dan Ayah juga.”, kata Ibuku sembari menitihkan air mata.
“Selamat ulang tahun nak.”, kata Ayah sembari tersenyum menatapku.
Aku masih menangis, dan semakin menangis tersedu-sedu mendengar ucapan dari Ayah. Mereka masih mengingat tanggal ini, 8 Maret adalah hari kelahiranku.
“Selamat ulang tahun sayang.”, kata Ibu dengan wajah tersenyum meneduhkan sembari mengusap air mata dipipiku.
“Terimakasih Ayah, Ibu dan Kakak, ini kado yang sangat indah sekali.”, kataku sembari menatap wajah mereka satu persatu. Melihat senyum mereka membuatku sangat bahagia sekali dan akupun berhenti menangis. Aku sangat bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan kepadaku. Sebuah keluarga yang lengkap.
“Ayo kita masuk, Ayah punya sesuatu yang menarik untukmu.”, kata Ayah sembari membimbing kami berjalan masuk kedalam gedung megah didepan mata ini.
Kita berjalan melewati lorong yang panjang, sembari aku menceritakan kegiatan di sekolah. Ayah sangat antusias sekali mendengarkan ceritaku dan memuji karena nilai ulangan matematikaku mendapat nilai 10. Ibu memberikanku nasehat saat aku bercerita tentang teman sekolahku yang nakal.
Lorong yang kami lewati penuh dengan pintu-pintu yang tertutup rapat. Aku sangat takjup sekali dengan pemandangan ini. Dan akhirnya kita sampai didepan pintu besar yang terbuat dari besi. Pintu itu dibuka dengan kode khusus yang dimasukkan oleh Ayahku melalui alat disampingnya. Pintupun terbuka saat ayah menekan tombol merah yang bertuliskan Enter.
“Wow.”, Bola mataku terbuka lebar menatab dengan penuh kekaguman.
“Selamat datang di labolatorium Ayah.
Setelah pintu terbuka, terlihat ruangan yang begitu menakjubkan. Ruangan yang sangat luas. Terdapat banyak sekali buku yang tersusun rapi pada rak disamping dan sudut ruangan tersebut. Ada gelas-gelas kaca yang bentuknya tidak seperti gelas yang aku gunakan untuk minum. Ada juga tumbuhan berbentuk aneh yang disimpan dalam kotak seperti aquarium. Dan masih banyak benda-benda aneh yang aku sendiri tidak tahu namanya.
Ayahku adalah seorang ilmuan, begitulah yang sering kakak ceritakan kepadaku. Untuk kelancaran penelitiannya, ayahku membangun perusahaan yang bernama Human Dream, yang bergerak dalam penelitian dan pengembangkan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia. Demi keselamatan dan kenyamanan, perusahaan Ayahku dibangun didaerah yang jauh dari pemukiman penduduk.
“Bayu, kemarilah.”, Ayah memanggilku untuk mendekat kemeja kerjanya, sembari memegang sebuah kotak berwarna hijau, warna kesukaanku.
“Ada apa Ayah?”, Aku berjalan perlahan mendekati Ayahku sembari tetap mengamati benda-benda aneh yang ada diruangan itu.
“Ini hadiah untukmu.”, ia memberikan kotak hijau itu kepadaku. Tanpa basa basi aku langsung membukanya.
“Wah, Jam tangan. Asik!”, Aku berteriak kegirangan mendapatkan hadiah ini.
“Kamu suka?”, kata Ayah sembari tersenyum melihat polah tingkahku.
“Aku suka sekali. Terimakasih Ayah.”, Aku melompat kegirangan lalu memeluknya.
“Kata kakakmu, kamu sering lupa waktu kalau sedang bermain. Jadi Ayah memberikan hadiah itu supaya kamu ingat waktu. Jam tangan itu Ayah buat sendiri, otomatis, tidak perlu mengganti batre dan juga anti air.”
“Wah..., Keren...”, Aku berdecak kagum mengamati jam tangan yang masih terbungkus rapi dalam kotak persegi terbuat dari bahan transparan. Perlahan aku membukanya dan seakan jam tangan itu bersinar membuat mataku silau.
“Ayah juga masih punya alat-alat hebat lainnya, kemarilah.”
Saat Ayah sedang asik menjelaskan tentang alat–alat yang dibuatnya, tiba–tiba telepon berdering. Ayah meminta ijin sebentar untuk mengangkat telepon. Aku tidak terlalu mendengarkan apa yang sedang Ayah perbincangkan, pandanganku fokus pada sebuh aquarium kaca yang berisikan hewan berkaki 4 dan memiliki tanduk yang hidup didalam air. Bentuknya seperti kadal, tetapi kepalanya memiliki tanduk dan ekornya memiliki sirip. Aku ingin bertanya kepada Ayah tentang hewan ini akan tetapi, raut wajah Ayah terlihat sedikit berkerut setelah menerima telepon tadi.
“Ada yang tidak beres dengan labolatorium bawah tanah, Aku akan pergi memeriksanya sebentar.”, kata Ayah.
Aku akan pergi menemanimu. Kalian berdua pergilah keruang makan didekat pintu masuk, pasti kalian berdua laparkan?, Ibu akan menemani Ayah kalian sebentar. Ini mungkin masalah teknis dan biasa terjadi.”, Ayah dan Ibu pergi meninggalkan kami berdua. 
Aku bingung apa yang sedang terjadi, sembari melihat Ayah dan Ibu lenyap dibalik pintu besi. Melihatku dengan ekspresi wajah kebingungan, kak Maulana mengajakku untuk pergi makan. Saat kami tiba diruang makan. Tiba–tiba terdengar suara ledakan yang begitu dahsyatnya memekakkan telinga.
BOOMMM!!!
Suara alarm kebakaran berbunyi nyaring. Orang–orang terlihat panik berlarian. Ada yang mengatakan bahwa ruang bawah tanah meledak dan terbakar. Kakakku yang mendengar hal itu langsung menyuruhku untuk berlindung masuk kedalam mobil. Aku yang ketakutan langsung berlari menuruti perintahnya. Dari dalam mobil, Aku melihat orang–orang berlarian keluar dari gedung. Badanku bergetar karena panik dan takut. Asap hitam mulai menghiasi langit. Tak selang berapa lama, suara ledakan terdengar kembali. Aku merasakan getaran yang hebat dari dalam mobil. Aku menutup mata beberapa menit, dan saat membuka mata. Aku sudah berada di atas tempat tidur.
Mimpi buruk itu lagi.
****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...