Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter
1
“Bunga
Tidur”
“Di tempat duduk siap grak! Berdoa mulai!”
Suasana ruang kelas 4 sekolah
dasar impian menjadi hening setelah salah satu siswa berteriak dengan penuh
semangat.
“Berdoa selesai! Kepada Ibu Guru beri salam!”
“See-Laa-Maat Si-ang Bu Gu-Ruuu!”
Semua murid berteriak dengan serentak dan penuh semangat.
“Selamat siang anak–anak.
Jangan lupa PRnya dikerjakan dan hati–hati ya pulangnya.”
Ibu guru mengingatkan seluruh
muridnya sembari tersenyum ramah dan murid-murid menyalami Ibu guru sembari
mencium tangannya bergantian.
“Bayu! jangan mendorong teman–temannya. Sabar dulu, semua dapat giliran!”, kata Ibu guru dengan sedikit tegas.
Aku sangat gembira
sekali hari ini, hingga membuatku tidak sabar ingin segera melangkah keluar
kelas. Bergegas aku meraih tangan Ibu Guru dan menciumnya lalu berlari keluar. Seorang
laki–laki sudah menungguku didepan gerbang sekolah. Aku langsung saja berlari
menghampirinya dan berteriak.
“Kakak!”
Ia langsung menoleh dan
tersenyum melambaikan tangannya kearahku yang sedang berlari menghampirinya.
“Hello Boy.”, ia mengepalkan tinju kearahku dan aku membalasnya hingga kepalan tangan
kanan kita saling beradu, kami menyebut ini sebagai salam tinju dewa.
“Kita mau jalan–jalan
kemana kak?”, kataku sambil menarik–narik jaketnya.
“Hahaha, kamu masih
ingat rupanya. Hari ini kita akan jalan–jalan ketempat yang sangat menarik.”, katanya sembari sedikit berbisik membuatku penasaran.
“Kemana kak?”, kataku dengan penuh antusias.
“Kakak tidak mau
memberi tahu sekarang. Ayo naiklah, kita segera menuju kesana.”
Aku bergegas masuk kedalam mobil, lalu kita segera meluncur ketempat yang dijanjikan menarik olehnya.
*****
Tidak terasa waktu telah
lama berlalu. Kita sudah melewati banyak jalan yang berliku. Beberapa jam yang lalu kita telah melewati lautan manusia dan gedung–gedung bertingkat. Tapi sekarang, kita sedang melintasi daerah yang
begitu sejuk dipandang karena kehijauannya.
Aku sangat menikmati perjalanan yang indah ini. Beribu pertanyaan menyerbu
kakaku yang sedang fokus mengemudikan mobilnya. Burung–burung yang terbang
bebas begitu menakjubkan. Jarang sekali pemandangan seperti ini aku lihat
ditempat tinggalku.
Setelah puas menikmati
pemandangan dan memberondong pertanyaan kepada kakaku tentang tujuan kita,
akhirnya kita sampai didepan pintu gerbang sebuah gedung yang megah, yang
berada jauh dari pemukiman. Didepan gedung yang megah tersebut terpampang jelas sebuah tulisan HD Corp.
Tak selang berapa lama, pintu gerbang gedung megah itu terbuka secara otomatis. Aku terkagum
melihat kemegahan gedung tersebut. Saat kita memasukinya, sudah ada dua orang
yang menunggu didepan pintu. Mereka berdua tak lain adalah orangtuaku.
“Ibu, Ayah!”
Aku langsung berteriak dan berlari menghampiri mereka saat turun dari
mobil. Ayah dan Ibu memelukku dengan erat, dan aku menangis
tersedu-sedu. Kita sudah lama berpisah, karena sejak umurku masih 2 tahun, aku dititipkan dan tinggal bersama Bibi. Kesempatan ini begitu membahagiakan sekali.
“Aku kangen.”, kataku dengan suara bergetar.
“Ibu dan Ayah juga.”, kata Ibuku sembari menitihkan air mata.
“Selamat ulang tahun nak.”,
kata Ayah sembari tersenyum menatapku.
Aku masih menangis, dan semakin
menangis tersedu-sedu mendengar ucapan dari Ayah. Mereka masih mengingat
tanggal ini, 8 Maret adalah hari kelahiranku.
“Selamat ulang tahun
sayang.”, kata Ibu dengan wajah tersenyum meneduhkan sembari mengusap air mata
dipipiku.
“Terimakasih Ayah, Ibu
dan Kakak, ini kado yang sangat indah sekali.”, kataku sembari menatap wajah
mereka satu persatu. Melihat senyum mereka membuatku sangat bahagia sekali dan
akupun berhenti menangis. Aku sangat bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan
kepadaku. Sebuah keluarga yang lengkap.
“Ayo kita masuk, Ayah punya
sesuatu yang menarik untukmu.”, kata Ayah sembari membimbing kami berjalan
masuk kedalam gedung megah didepan mata ini.
Kita berjalan melewati
lorong yang panjang, sembari aku menceritakan kegiatan di sekolah. Ayah sangat
antusias sekali
mendengarkan ceritaku dan memuji karena nilai ulangan matematikaku mendapat nilai 10. Ibu memberikanku
nasehat saat aku bercerita tentang teman sekolahku yang nakal.
Lorong yang kami lewati
penuh dengan pintu-pintu yang tertutup rapat. Aku sangat takjup sekali dengan
pemandangan ini. Dan akhirnya kita sampai didepan pintu besar yang terbuat dari besi. Pintu itu dibuka dengan kode
khusus yang dimasukkan oleh Ayahku melalui alat disampingnya. Pintupun terbuka
saat ayah menekan tombol merah yang bertuliskan Enter.
“Wow.”, Bola mataku terbuka lebar menatab dengan penuh kekaguman.
“Selamat datang di labolatorium Ayah.”
Setelah pintu terbuka,
terlihat ruangan yang begitu menakjubkan. Ruangan yang sangat luas. Terdapat banyak sekali buku yang tersusun rapi pada rak disamping dan sudut ruangan tersebut. Ada gelas-gelas kaca yang bentuknya tidak seperti gelas yang aku gunakan
untuk minum. Ada juga tumbuhan berbentuk aneh yang disimpan dalam kotak seperti
aquarium. Dan masih banyak benda-benda aneh yang aku sendiri tidak tahu
namanya.
Ayahku adalah seorang ilmuan, begitulah yang sering kakak ceritakan
kepadaku. Untuk kelancaran penelitiannya, ayahku membangun perusahaan yang bernama Human Dream, yang bergerak dalam penelitian dan pengembangkan
teknologi untuk kemaslahatan umat manusia. Demi keselamatan dan kenyamanan, perusahaan Ayahku dibangun
didaerah yang jauh dari pemukiman penduduk.
“Bayu, kemarilah.”, Ayah
memanggilku untuk mendekat kemeja kerjanya, sembari memegang sebuah kotak
berwarna hijau, warna kesukaanku.
“Ada apa Ayah?”, Aku
berjalan perlahan mendekati Ayahku sembari tetap mengamati benda-benda aneh
yang ada diruangan itu.
“Ini hadiah untukmu.”,
ia memberikan kotak hijau itu kepadaku. Tanpa basa basi aku langsung
membukanya.
“Wah, Jam tangan.
Asik!”, Aku berteriak kegirangan mendapatkan hadiah ini.
“Kamu suka?”, kata Ayah
sembari tersenyum melihat polah tingkahku.
“Aku suka sekali.
Terimakasih Ayah.”, Aku melompat kegirangan lalu memeluknya.
“Kata kakakmu, kamu
sering lupa waktu kalau sedang bermain. Jadi Ayah memberikan hadiah itu supaya
kamu ingat waktu. Jam tangan itu Ayah buat sendiri, otomatis, tidak perlu
mengganti batre dan juga anti air.”
“Wah..., Keren...”, Aku
berdecak kagum mengamati jam tangan yang masih terbungkus rapi dalam kotak
persegi terbuat dari bahan transparan. Perlahan aku membukanya dan seakan jam
tangan itu bersinar membuat mataku silau.
“Ayah juga masih punya
alat-alat hebat lainnya, kemarilah.”
Saat Ayah sedang asik
menjelaskan tentang alat–alat yang dibuatnya, tiba–tiba telepon berdering. Ayah meminta ijin sebentar untuk
mengangkat telepon. Aku tidak terlalu mendengarkan apa yang sedang Ayah
perbincangkan, pandanganku fokus pada sebuh aquarium kaca yang berisikan hewan
berkaki 4 dan memiliki tanduk yang hidup didalam air. Bentuknya seperti kadal,
tetapi kepalanya memiliki tanduk dan ekornya memiliki sirip. Aku ingin bertanya
kepada Ayah tentang hewan ini akan tetapi, raut wajah Ayah terlihat sedikit berkerut setelah menerima
telepon tadi.
“Ada yang tidak beres dengan labolatorium bawah tanah, Aku akan pergi memeriksanya sebentar.”, kata Ayah.
“Aku akan pergi
menemanimu. Kalian berdua pergilah keruang makan didekat pintu masuk, pasti
kalian berdua laparkan?, Ibu akan menemani Ayah kalian sebentar. Ini mungkin masalah teknis dan
biasa terjadi.”, Ayah dan Ibu pergi meninggalkan kami berdua.
Aku bingung apa yang
sedang terjadi, sembari melihat Ayah dan Ibu lenyap dibalik pintu besi.
Melihatku dengan ekspresi wajah kebingungan, kak Maulana mengajakku untuk pergi
makan. Saat kami tiba diruang makan. Tiba–tiba terdengar suara ledakan yang begitu dahsyatnya memekakkan
telinga.
BOOMMM!!!
Suara alarm kebakaran berbunyi nyaring. Orang–orang terlihat panik berlarian. Ada
yang mengatakan bahwa ruang bawah tanah meledak dan terbakar. Kakakku yang mendengar
hal itu langsung menyuruhku untuk berlindung masuk kedalam mobil. Aku yang
ketakutan langsung berlari menuruti perintahnya. Dari dalam mobil, Aku melihat orang–orang berlarian keluar dari gedung. Badanku
bergetar karena panik dan takut. Asap hitam mulai menghiasi langit. Tak selang
berapa lama, suara ledakan terdengar kembali. Aku merasakan getaran yang hebat
dari dalam mobil. Aku menutup mata beberapa menit, dan saat membuka mata. Aku sudah berada di
atas tempat tidur.
“Mimpi buruk itu lagi.”
****
No comments:
Post a Comment