welcome

Wednesday, January 2, 2019

Tragedi Kentang: Prolog





“Tragedi Kentang”
Prolog
Oleh : Aufklarung Nugroho

        
           Terlihat tiga anak kecil sedang berjalan menyusuri hutan ilalang. Alfariel, seorang anak laki-laki yang memakai topi butut terbuat dari kain katun berjalan paling depan diikuti oleh Caelan dan Fianna dibagian belakang. Fianna hanya diam saja mengikuti setiap langkah Alfariel dan tidak berkomentar, akan tetapi berbeda dengan Caelan. Ia terlihat gugup saat melewati hutan ilalang tersebut, pandangannya terlihat waspada mengamati sisi kanan dan kiri secara bergantian. Lalu Alfariel tiba-tiba berhenti. Caelan yang tidak memperhatikan kedepan, kaget menabrak punggung Alfariel yang lebih tinggi 50 centimeter darinya.
“Eh..., Ada apa Al?”, kata Caelan masih dengan kegugupannya.
“Sebentar, aku sedang mengingat jalan, kalau tidak salah dari peta yang kubaca belok kearah kanan.”, Alfariel menopang dagunya dengan tangan, berpikir sejenak, lalu melangkah lagi tanpa menoleh kebelakang.
“Al, sebenarnya kita mau kemana sih?, Aku lapar.”, kata Caelan berjalan kembali mengikuti langkah Alfariel sembari merengek.
“Tahan dulu laparmu. Akan ada banyak makanan saat kita sampai ditempat tujuan.”, kata Alfariel masih tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang.
“Wah..., benarkah?, memangnya tempat apa itu?”, kata Caelan dengan sedikit riang.
Alfariel tidak menjawab pertanyaan Caelan. Ia tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang. Lalu jalannya mulai melambat dan tubuhnya sedikit membungkuk seperti mengendap-endap. Tangannya melambai kepada Caelan dan Fianna, menginstruksikan bahwa mereka juga harus berjalan mengendap-endap sepertinya. Caelan dan Fianna saling bertatapan terlihat bingung, lalu mereka mulai berjalan mengendap-endap mengikuti instruksi Alfariel.
Alfariel berhenti berjalan mengendap-endap dengan posisi jongkok. Ia melambaikan tangannya lagi kepada kedua temannya untuk mendekat kesampingnya. Caelanpun mendekat diposisi sebelah kanan dan Fianna disebelah kiri. Mereka berdua menatap Alfariel.
“Kita sudah sampai.”
Alfariel menunjuk kedepan dengan jari telunjuk tangan kanannya, lalu Caelan dan Fianna memalingkan pandangan mereka kearah tersebut. Terlihat sebuah gapura besar bertuliskan Trevelyan. Sontak wajah mereka berdua berubah menjadi pucat.
“Kau yakin ini tempat yang kau maksud?”, kata Caelan yang semakin gugup mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori tubuhnya.
“Kamu yakin Al ini tempatnya?”, kata Fianna yang juga tak kalah gugup.
“Yup, aku yakin sekali ini tempatnya.”, Kata Alfariel dengan menganggguk pasti sembari melihat kedua temannya bergantian.
“Ini Trevelyan Al, kita tidak boleh masuk kedalam.”, kata Caelan dengan sedikit ragu memperingatkan.
“Iya Al, Ibumu sendiri yang melarang kita untuk mendekati tempat ini.”, kata Fianna menambahi.
“Siapapun yang masuk kedalam Trevelyan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Harusnya kamu tau cerita itu Al.”, kata Caelan dengan sedikit gemetar terlihat gugup.
“Semua cerita itu tidak benar! Semua itu hanya mitos!”, Alfariel maju satu langkah kedepan lalu membalikkan badan menatap kedua temannya yang terlihat takut.
“Memangnya kalian percaya kalau didalam sana ada iblis yang akan memangsa kita? Iblis itu tidak ada teman-teman. Semua cerita itu bohong! Jangan mudah dibohongi seperti bocah! Kalian tahukan? Kita sedang membutuhkan makanan saat ini!”, kata Alfariel dengan lantang untuk meyakinkan kedua temannya yang sedang ketakutan dengan mitos yang beredar dimasyarakat tentang tempat yang bernama Trevelyan ini.
“Kita memang masih bocah Al”, kata Caelan sembari menundukkan wajahnya dengan tatapan kosong.
“Kau saja yang bocah. Aku tidak percaya dengan semua kebohongan itu. Kita harus masuk kedalam sekarang, sebelum ada yang mengetahui keberadaan kita”, kata Alfariel.
“Al...”
“Kau akan ikut masuk kedalamkan Fianna?”, Alfariel memotong perkataan Fianna yang belum selesai berucap sembari menatap wajahnya. Sejenak pandangan mereka beradu. Kemudian cepat-cepat Fianna mengalihkan pandangnya, tersipu malu dan tak berucap sepatah katapun.
“Kau bodoh Al. Aku mau pulang saja.”, Caelan menatap Alfariel sejenak, ekpresinya menunjukan bahwa tangisannya akan meledak, lalu ia membalikkan badan melangkah perlahan.
“Pulanglah dasar bocah cengeng.”, kata Alfariel dengan acuh, akan tetapi ekspresi wajahnya memperlihatkan sedikit ketidak raguan.
Fianna hanya terdiam mematung melihat punggung Caelan yang berjalan semakin menjauh. Ia bingung harus berbuat apa dalam situasi seperti ini. Caelan dan Alfariel adalah sahabat terbaiknya, yang selalu menemani dan menjaganya. Kali ini kedua sahabatnya itu sedang memilih jalan yang berbeda. Ia sangat bingung harus memilih jalan yang mana. Ia tidak ingin pilihannya menyakiti kedua sahabatnya itu. Akan tetapi, hatinya lebih memilih untuk mengikuti jalan yang telah dipilih oleh Alfariel.
“Fia, hei, Fianna.”
Alfariel menyadarkan Fianna dari renungannya dan ia sedikit terperangah.
“Eh.., Ada apa Al?”
“Lebih baik kau kembali bersama Caelan. Nanti akan aku bawakan makanan ketika aku kembali. Akan tetapi kalau aku tidak kembali, tolong sampaikan pesan maaf kepada ibuku.”
“Tapi Al...”
“Cepat susul Caelan, hari sudah hampir malam!”
Fianna terdiam sejenak melihat Alfariel pergi meninggalkannya. Ia semakin bingung harus berbuat apa. Ia tidak ingin kehilangan salah satu dari sahabatnya. Akan tetapi ia tidak pernah bisa untuk menolak semua perintah yang keluar dari mulut Alfariel. Ia percaya pasti Alfariel akan kembali.
“Al...”
“Ya?”, Alfariel menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap wajah Fianna.
“Hati-hati. Kami menunggumu.”
“Ya. Pasti Aku akan kembali”
Alfariel bergegas masuk kedalam Travelyan secara mengendap-endap. Dan Fianna pergi bergegas mengejar Caelan.

*****
Tahun ketujuh, paceklik panjang melanda Irlandia. Penduduk Irlandia yang mayoritas adalah petani kentang, harus merelakan kentangnya membusuk diserang jamur phytophthora. Karena hal tersebut, sejak tahun 1845 sekitar satu juta penduduk Irlandia mati kelaparan. Kematian tersebut terjadi karena setengah dari penduduk Irlandia terlalu bergantung dengan kentang sebagai makanan pokok. Minimnya informasi tentang bahan makanan lain selain kentang juga menjadi alasan. Terlebih lagi, kebijakan pemerintah yang terlalu tinggi dalam menetapkan harga roti, membuat roti menjadi makanan yang eksklusif.
Kesenjangan ekonomi yang tidak merata membuat bencana ini semakin parah. Bencana yang awalnya merupakan bencana alam menjadi bencana sosial. Irlandia menjadi kacau balau dimulai dari pemerintahan yang korup, kemiskinan, dan kriminalitas yang terjadi dimana-mana. Orang-orang miskin berebut makanan sisa dari para bangsawan. Para bangsawan melihat tingkah orang-orang tersebut sebagai hiburan. Mereka semakin tertawa terbahak-bahak ketika melihat orang-orang itu berkelahi, saling memukul satu sama lain hanya demi mendapatkan sisa makanan yang mereka berikan.
Kemiskinan membuat banyak anak-anak putus sekolah. Tidak ada perhatian pemerintah tentang hal itu. Pemerintah sengaja tidak memberikan pendidikan kepada rakyat biasa. Mereka hanya memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang diharapkan kelak bisa meneruskan duduk dikursi pemerintahan. Sampai suatu ketika...

*****

1 comment:

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...