“Tragedi Kentang”
Prolog
Oleh : Aufklarung Nugroho
Terlihat tiga anak kecil sedang berjalan menyusuri hutan ilalang.
Alfariel, seorang anak laki-laki yang memakai topi butut terbuat dari kain
katun berjalan paling depan diikuti oleh Caelan dan Fianna dibagian belakang.
Fianna hanya diam saja mengikuti setiap langkah Alfariel dan tidak berkomentar,
akan tetapi berbeda dengan Caelan. Ia terlihat gugup saat melewati hutan
ilalang tersebut, pandangannya terlihat waspada mengamati sisi kanan dan kiri
secara bergantian. Lalu Alfariel tiba-tiba berhenti. Caelan yang tidak
memperhatikan kedepan, kaget menabrak punggung Alfariel yang lebih tinggi 50
centimeter darinya.
“Eh..., Ada apa Al?”, kata Caelan
masih dengan kegugupannya.
“Sebentar, aku sedang mengingat
jalan, kalau tidak salah dari peta yang kubaca belok kearah kanan.”, Alfariel
menopang dagunya dengan tangan, berpikir sejenak, lalu melangkah lagi tanpa
menoleh kebelakang.
“Al, sebenarnya kita mau kemana
sih?, Aku lapar.”, kata Caelan berjalan kembali mengikuti langkah Alfariel sembari
merengek.
“Tahan dulu laparmu. Akan ada
banyak makanan saat kita sampai ditempat tujuan.”, kata Alfariel masih tetap
berjalan tanpa menoleh kebelakang.
“Wah..., benarkah?, memangnya
tempat apa itu?”, kata Caelan dengan sedikit riang.
Alfariel tidak menjawab pertanyaan
Caelan. Ia tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang. Lalu jalannya mulai
melambat dan tubuhnya sedikit membungkuk seperti mengendap-endap. Tangannya
melambai kepada Caelan dan Fianna, menginstruksikan bahwa mereka juga harus
berjalan mengendap-endap sepertinya. Caelan dan Fianna saling bertatapan
terlihat bingung, lalu mereka mulai berjalan mengendap-endap mengikuti
instruksi Alfariel.
Alfariel berhenti berjalan
mengendap-endap dengan posisi jongkok. Ia melambaikan tangannya lagi kepada
kedua temannya untuk mendekat kesampingnya. Caelanpun mendekat diposisi sebelah
kanan dan Fianna disebelah kiri. Mereka berdua menatap Alfariel.
“Kita sudah sampai.”
Alfariel menunjuk kedepan dengan
jari telunjuk tangan kanannya, lalu Caelan dan Fianna memalingkan pandangan
mereka kearah tersebut. Terlihat sebuah gapura besar bertuliskan Trevelyan.
Sontak wajah mereka berdua berubah menjadi pucat.
“Kau yakin ini tempat yang kau
maksud?”, kata Caelan yang semakin gugup mengeluarkan keringat dingin dari
pori-pori tubuhnya.
“Kamu yakin Al ini tempatnya?”,
kata Fianna yang juga tak kalah gugup.
“Yup, aku yakin sekali ini
tempatnya.”, Kata Alfariel dengan menganggguk pasti sembari melihat kedua
temannya bergantian.
“Ini Trevelyan Al, kita tidak boleh
masuk kedalam.”, kata Caelan dengan sedikit ragu memperingatkan.
“Iya Al, Ibumu sendiri yang
melarang kita untuk mendekati tempat ini.”, kata Fianna menambahi.
“Siapapun yang masuk kedalam
Trevelyan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Harusnya kamu tau cerita itu
Al.”, kata Caelan dengan sedikit gemetar terlihat gugup.
“Semua cerita itu tidak benar!
Semua itu hanya mitos!”, Alfariel maju satu langkah kedepan lalu membalikkan
badan menatap kedua temannya yang terlihat takut.
“Memangnya kalian percaya kalau
didalam sana ada iblis yang akan memangsa kita? Iblis itu tidak ada
teman-teman. Semua cerita itu bohong! Jangan mudah dibohongi seperti bocah! Kalian
tahukan? Kita sedang membutuhkan makanan saat ini!”, kata Alfariel dengan lantang
untuk meyakinkan kedua temannya yang sedang ketakutan dengan mitos yang beredar
dimasyarakat tentang tempat yang bernama Trevelyan ini.
“Kita memang masih bocah Al”, kata
Caelan sembari menundukkan wajahnya dengan tatapan kosong.
“Kau saja yang bocah. Aku tidak
percaya dengan semua kebohongan itu. Kita harus masuk kedalam sekarang, sebelum
ada yang mengetahui keberadaan kita”, kata Alfariel.
“Al...”
“Kau akan ikut masuk kedalamkan
Fianna?”, Alfariel memotong perkataan Fianna yang belum selesai berucap sembari
menatap wajahnya. Sejenak pandangan mereka beradu. Kemudian cepat-cepat Fianna
mengalihkan pandangnya, tersipu malu dan tak berucap sepatah katapun.
“Kau bodoh Al. Aku mau pulang
saja.”, Caelan menatap Alfariel sejenak, ekpresinya menunjukan bahwa
tangisannya akan meledak, lalu ia membalikkan badan melangkah perlahan.
“Pulanglah dasar bocah cengeng.”,
kata Alfariel dengan acuh, akan tetapi ekspresi wajahnya memperlihatkan sedikit
ketidak raguan.
Fianna hanya terdiam mematung
melihat punggung Caelan yang berjalan semakin menjauh. Ia bingung harus berbuat
apa dalam situasi seperti ini. Caelan dan Alfariel adalah sahabat terbaiknya,
yang selalu menemani dan menjaganya. Kali ini kedua sahabatnya itu sedang
memilih jalan yang berbeda. Ia sangat bingung harus memilih jalan yang mana. Ia
tidak ingin pilihannya menyakiti kedua sahabatnya itu. Akan tetapi, hatinya
lebih memilih untuk mengikuti jalan yang telah dipilih oleh Alfariel.
“Fia, hei, Fianna.”
Alfariel menyadarkan Fianna dari
renungannya dan ia sedikit terperangah.
“Eh.., Ada apa Al?”
“Lebih baik kau kembali bersama
Caelan. Nanti akan aku bawakan makanan ketika aku kembali. Akan tetapi kalau
aku tidak kembali, tolong sampaikan pesan maaf kepada ibuku.”
“Tapi Al...”
“Cepat susul Caelan, hari sudah
hampir malam!”
Fianna terdiam sejenak melihat
Alfariel pergi meninggalkannya. Ia semakin bingung harus berbuat apa. Ia tidak
ingin kehilangan salah satu dari sahabatnya. Akan tetapi ia tidak pernah bisa
untuk menolak semua perintah yang keluar dari mulut Alfariel. Ia percaya pasti
Alfariel akan kembali.
“Al...”
“Ya?”, Alfariel menghentikan
langkahnya sejenak lalu menatap wajah Fianna.
“Hati-hati. Kami menunggumu.”
“Ya. Pasti Aku akan kembali”
Alfariel bergegas masuk kedalam
Travelyan secara mengendap-endap. Dan Fianna pergi bergegas mengejar Caelan.
*****
Tahun ketujuh, paceklik panjang
melanda Irlandia. Penduduk Irlandia yang mayoritas adalah petani kentang, harus
merelakan kentangnya membusuk diserang jamur phytophthora. Karena hal
tersebut, sejak tahun 1845 sekitar satu juta penduduk Irlandia mati kelaparan. Kematian
tersebut terjadi karena setengah dari penduduk Irlandia terlalu bergantung
dengan kentang sebagai makanan pokok. Minimnya informasi tentang bahan makanan
lain selain kentang juga menjadi alasan. Terlebih lagi, kebijakan pemerintah
yang terlalu tinggi dalam menetapkan harga roti, membuat roti menjadi makanan
yang eksklusif.
Kesenjangan ekonomi yang tidak
merata membuat bencana ini semakin parah. Bencana yang awalnya merupakan
bencana alam menjadi bencana sosial. Irlandia menjadi kacau balau dimulai dari
pemerintahan yang korup, kemiskinan, dan kriminalitas yang terjadi dimana-mana.
Orang-orang miskin berebut makanan sisa dari para bangsawan. Para bangsawan
melihat tingkah orang-orang tersebut sebagai hiburan. Mereka semakin tertawa
terbahak-bahak ketika melihat orang-orang itu berkelahi, saling memukul satu
sama lain hanya demi mendapatkan sisa makanan yang mereka berikan.
Kemiskinan membuat banyak anak-anak
putus sekolah. Tidak ada perhatian pemerintah tentang hal itu. Pemerintah
sengaja tidak memberikan pendidikan kepada rakyat biasa. Mereka hanya
memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang diharapkan kelak bisa meneruskan
duduk dikursi pemerintahan. Sampai suatu ketika...
*****
Wagelasehhh. Keren. Apakabar al selanjutnya?
ReplyDelete