welcome

Monday, January 29, 2018

Cerpen: Maafkan Aku yang Dulu



“Maafkan Aku yang Dulu”
Oleh : Aufklarung Nugroho

Sejenak aku duduk termenung dibangku pojok kelas. Mengamati polah tingkah teman-temanku. Ada teman laki-laki yang sedang menjahili teman perempuan, lalu perempuan itu menangis. Ada yang duduk bergerombol, tertawa terbahak-bahak karena sebuah lelucon, dan tentu saja yang bergerombol itu adalah murid laki-laki. Ada lain juga yang menggerombol bergosib, tentu saja kalian tahu siapa mereka. Ya, mereka adalah murid perempuan.
Sudah sebulan aku menjalani rutinitasku di sekolah ini. Hari-hari ku jalani seperti biasa, akan tetapi, pikiranku melayang-layang entah kemana. Aku tidak fokus untuk belajar, Aku teringat sebuah kenangan. Kenangan yang selalu menghantuiku. Kenangan itu juga yang membuatku harus pindah ke sekolah ini.
Aku tidak ingin orang lain mengalami kejadian seperti yang kualami. Rasanya sakit, menancap diingatanku, hingga sulit untuk melupakannya. Kejadian itu pula yang memaksaku untuk rutin bertemu dengan Psikiater. Orang tuaku menganggap bahwa aku gila. Tapi, anggapan itu patah setelah dokter menyatakan kondisi jiwaku baik-baik saja.
Kala itu, aku melakukan sesuatu hal yang tak terduga. Tidak hanya menggemparkan satu kelas, akan tetapi seluruh sekolah bahkan sampai keluar sekolah. Seorang siswi SMP mencekik temannya karena Bullying , itu kiranya Headline yang beredar disurat kabar.
Aku, Betty Rubentina, aku telah berubah. Aku harus bisa berdamai dengan diriku yang dulu. Aku telah memaafkan masa lalu ku, dan sekarang Betty adalah orang yang baik.
“Aku harus membantu temanku!”, teriakku dalam hati.
Beberapa saat aku termenung, tak ada satupun yang peduli dengan Erning, perempuan yang menangis itu. Mereka hanya melirik acuh, seakan tidak memperdulikannya. Robert semakin menjahili Erning yang menangis. Melihat itu, aku langsung beranjak melangkah mendekati Erning. Aku pungut buku Erning yang telah di acak-acak oleh Robert. Mengambilnya dari lantai lalu memasukkannya kembali kedalam tas. Semua mata tertuju kepadaku, dan dengan sekali tarikan nafas aku berteriak.
“Siapapun yang berani mengganggu orang yang lemah akan berhadapan denganku!”
Suasana menjadi hening. Bahkan bolpoin jatuhpun dapat terdengar. Semua menatapku dengan tatapan terkejut untuk beberapa saat. Kemudian semua kembali duduk diposisi mejanya masing-masing, begitu juga dengan Robert. Tidak ada suara protes sedikitpun terdengar.


#Tantangan2#TantanganODOP#onedayonepost#odopbatch5

1 comment: