“Aku dan Pengalaman”
Oleh : Aufklarung Nugroho
Namaku Ponco Nugroho, berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti “Anugrah Kelima”. Orang mengira aku adalah anak kelima, padahal tidak. Usiaku 2,5 dasawarsa saat ini, dan aku lahir di kota Surakarta.
Sejak kecil sebenarnya aku tidak terlalu suka membaca apalagi menulis. Aku mulai menyukai kedua hal tersebut ketika berada dibangku kuliah. Ketertarikanku dengan dua hal tersebut berawal dari sosok Soe Hok Gie. Bagi mahasiswa, siapa yang tidak mengenali sosok tersebut. Sosok yang terkenal dari tulisannya, Catatan Seorang Demonstran. Sebuah catatan harian yang dibukukan sehingga menjadi bacaan bagi semua orang. Mulai dari situlah, aku mulai tertarik untuk menulis catatan harian. Akan tetapi kebiasaan menulis itu hanya bertahan beberapa semester saja. Waktu itu, aku menulisnya dengan tangan di sebuah buku saku berwarna hitam. Sampai sekarang buku itu masih aku simpan, dan semoga tintanya tidak luntur agar aku bisa membacanya kelak ketika rindu masa kuliah.
Soe Hok Gie lah yang mengenalkanku dengan penulis hebat seperti Pramoedya Ananta Toer. Karya dari om Pram (begitu aku/ segelintir orang memanggilnya), yang mendapatkan banyak penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Tetralogi Buru mungkin adalah karya yang paling fenomenal. Karena karya tersebut tercipta pada saat om Pram berada di pengasingan yaitu pulau Buru sebagai tahanan politik. Tetralogi Buru sempat dilarang beredar oleh pemerintah setelah diterbitkan. Akan tetapi, sekarang semua orang bisa bebas mendapatkan dan membacanya. Bagi kalian yang tertarik dengan sejarah, bacalah buku Tetralogi Buru, karena karya yang fenomenal tersebut kental dengan unsur sejarah.
Saat masih dibangku kuliah, karya yang sempat dibukukan hanyalah skripsi dan catatan harianku sebelumnya. Beberapa kali mencoba menulis cerpen, tapi tidak pernah dipublikasikan, hanya beberapa teman saja yang membacanya karena malu. Sampai pada suatu ketika, setelah lulus dari bangku kuliah. Aku merasakan ada sesuatu yang kurang pada diri ini. Aku buka file-file lama dilaptop, kemudian menemukan sebuah folder yang berjudul “Pencuri”. Aku langsung teringat suatu hal. Ya, saat itu aku berencana langsung menulis novel dan hanya berhenti di episode satu. Aku bingung melanjutkan ceritanya, karena memang aku tidak mempunyai dasar tentang kepenulisan.
Aku mulai membaca lagi tulisan lamaku yang telah usang itu sembari mengingat-ingat kembali. Dan akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan tulisanku lagi tanpa bekal teori kepenulisan. Aku hanya meniru apa yang pernah aku baca tanpa memperdulikan itu salah ataupun benar. Pada akhirnya tulisan itu telah sampai pada episode 10. Novel yang berjudul “Pencuri” itu memang sengaja aku update per-episode. Dengan cara itu memudahkanku dalam menulis. Dari segi cerita, aku terinspirasi oleh karya Shir Arthur Conan Doyle. Tidak hanya Sherlock Holmes, semua tokoh yang berbau detektif aku suka seperti Tin-tin, Lupin, Conan Edogawa, dll. Aku juga terinspirasi dari manga Jepang, karena orang- orang Jepang sangat pandai dalam memvisualkan sebuah sastra (menurut saya).
Aku masih bersemangat untuk menyelesaikan novel yang ala kadarnya itu. Apalagi sekarang aku telah bergabung dengan komunitas one day one post (ODOP). Komunitas yang didalamnya terdapat orang-orang yang mempunyai semangat yang sama, yaitu semangat untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Dengan ilmu yang aku dapat dari ODOP, akan aku perbaiki tulisan lamaku tersebut dan menyelesaikannya menjadi lebih baik.
#Tantangan1#TantanganODOP#onedayonepost#odopbatch5
Good job 👍
ReplyDeleteTetep semangat
ReplyDelete