welcome

Friday, August 18, 2017

Pencuri Chapter 4: Sebuah Percakapan


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 4
“Sebuah Percakapan”
           
“Bagaimana keadaannya?”
“Dia baik-baik saja, lukanya tidak terlalu parah dan bahkan cepat sekali sembuh. Kalau mendengar dari cerita anda, dengan kecelakaan seperti itu minimal seseorang akan mengalami patah tulang.”
“Benarkah? beruntung sekali dia.”
“Iya nona, mungkin faktor keberuntungan yang membuatnya baik-baik saja. Tapi yang masih membuat saya bertanya-tanya adalah tentang lukanya yang cepat sekali sembuh...”
            Kudengar samar-samar percakapan antara dua orang lawan jenis. Mendengar percakapan tersebut, kucoba untuk membuka kelopak mataku perlahan. Sedikit demi sedikit cahaya mulai memasuki kornea mataku. Samar-samar terlihat bola lampu berwarna putih dan kudapati ternyata diriku terbaring.
Ini bukan di rumah”, gumamku dalam hati.
Saat kucoba menggerakkan tangan, terasa ada sesuatu yang menancap. Kupalingkan pandangan, dan kudapati jarum infuse menembus pembuluh darahku. Kupalingkan lagi pandanganku kearah dua orang yang sedang bercakap-cakap, dan kulihat seorang wanita dan seorang pria berpakaian dokter.
“Ternyata aku di rumah sakit”, gumamku lirih dan kedua orang tersebut berhenti berbicara lalu menatapku.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, mari Nona.”, Dokter tersebut pergi dan lenyap dibalik pintu.
            “Hai, kamu baik-baik saja?”, Tanya wanita tersebut sembari mendekat kearahku yang sedang terbaring diatas tempat tidur rumah sakit.
            “Aku baik-baik saja. Kenapa aku bisa berada disini?”, tanyaku sembari mengangkat tangan dan menatap infuse yang menancap.
            “Kamu tadi kecelakaan, lalu aku membawamu kemari.”, wanita itu berdiri disampingku.
            “Oh iya aku baru ingat, saat mengejar seorang pencuri dan ketika menyebrang jalan, aku tertabrak mobil lalu tak sadarkan diri. Sial pencuri itu tak tertangkap!”, kataku dengan sedikit geram lalu merintih karena nyeri saat mencoba mengepalkan tangan.
            “Lupakan saja soal pencuri itu, yang penting sekarang kamu baik-baik saja.”, jawabnya dengan tenang.
            “Terimakasih banyak, berkat pertolonganmu aku selamat.”, jawabku sembari menatap wajahnya.
            Seorang wanita berparas cantik, berambut panjang dan berkaca mata. Bibirnya tipis melengkungkan senyum yang begitu manis ditambah lesung pipit. Sekilas melihat wajahnya dari dekat membuat waktu seakan berjalan lambat. Jantung berdetak cepat, darah mengalir keseluruh tubuh begitu deras, membuat tubuh ini diam terpaku karena kecantikannya.
            “Kata dokter lukamu tidak terlalu parah dan kamu tidak perlu menginap di rumah sakit.”, kata wanita tersebut sembari tersenyum.
Aku masih terpukau melihat keindahan makhluk ciptaan tuhan yang disebut perempuan dihadapanku ini. Entah mengapa perempuan didepan mataku ini sungguh memiliki aura yang sangat berbeda dari perempuan-perempuan pada umumnya. Melihat parasnya seakan-akan membuat semua emosi buruk menjadi baik, begitu tenang dan menenangkan.
“Hei, kamu sedang memikirkan apa?”
“Eh, tidak apa-apa, aku hanya...”
Kriiiiingggg, Kriiiinggggg, Kriiiiiiii...,
Belum selesai aku menjawab pertanyaannya, ia dikejutkan dengan dering suara telepone yang berasal dari dalam tas. Lalu ia bergegas untuk menekan tombol terima.
“Halo selamat siang?”, Wanita tersebut menyapa seseorang dari telepone genggamnya.
Terjadi percakapan yang cukup panjang antara wanita tersebut dengan seseorang yang entah sedang berada dimana. Aku mengamati gerak gerik wanita tersebut dan terlihat ia sedang panik. Wanita tersebut mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam tasnya. Terlihat ia begitu fokus mendengarkan penjelasan dari seseorang yang jauh disana.  Kemudian menulis dibuku catatan yang sedang ia pegang ditangan kanan dan pulpen ditangan kiri. Ternyata ia kidal.
“Baik Pak, saya akan segera kesana”, wanita tersebut mengakhiri panggilan lalu memasukan telepon genggam begitu juga buku catatannya kedalam tas dengan tergesa-gesa.
“Maaf, Aku harus pergi sekarang. Soal biaya rumah sakit, kamu tinggal menunjukan kartu ini kepada petugas, semuanya akan beres. Aku pergi dulu, selamat tinggal.”, ia memberiku sebuah kartu kemudian melangkah tergesa-gesa menuju pintu lalu membukanya.
“Eh, tunggu! Siapa na...”
Belum selesai pertanyaan kulontarkan, ia sudah menutup dan lenyap dibalik pintu.
“Aku belum tau namamu dan juga tempat tinggalmu, bagaimana caraku berterima kasih?”, bisikku pelan dan berpikir sejenak.
“Oh iya, dari kartu ini pasti aku bisa mendapatkan identitasnya.”, Aku mengamati kartu yang sedang kupegang.
Bentuknya seperti kartu ATM, warnanya hijau dengan logo “IP” dalam lingkaran. Aku tidak tahu kartu apa ini. Dan aku baru sadar, mengapa wanita itu memberikan kartu ini kepadaku. Aku termenung sejenak.
“Ah sudahlah”, Kemudian, kulihat jam menunjukan pukul 12.00 siang.
“Baiklah sudah setengah hari, aku harus tetap kekampus karena ada janji dengan seseorang. Sepertinya luka-lukaku ini juga tidak terlalu parah, bahkan aku sudah tidak merasakan sakit lagi.”
Kupanggil suster untuk melepaskan infuse yang menancap dipembuluh darahku. Tapi sebelum itu, aku diperiksanya untuk memastikan kondisiku sudah membaik. Setelah proses pemeriksaan selesai dan kondisiku dinyatakan telah membaik, barulah infuse dilepas.
Aku beranjak dari tempat tidur rumah sakit yang berwarna hijau tua ini. Berjalan kearah meja mengambil tas ranselku. Kubuka resletingnya untuk mengecek barang yang ada didalam, semuanya masih utuh. Lalu aku bergegas pergi menuju bagian administrasi.
Sesampainya di bagian administrasi, aku menunjukan kartu hijau pemberian wanita yang belum sempat kuketahui namanya tadi. Beberapa saat petugas sibuk dengan komputernya setelah menerima kartu yang aku berikan. Selang beberapa menit, petugas memberikan kartu itu kembali, ditambah dengan selembar kertas yang bertuliskan tangan:
Nama : Mika
Pass : 121151
Semoga lekas sembuh. Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu.
“Apa ini?”
*****


2 comments: