Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 4
“Sebuah Percakapan”
“Bagaimana keadaannya?”
“Dia baik-baik saja, lukanya tidak terlalu
parah dan bahkan cepat sekali sembuh. Kalau mendengar dari cerita anda, dengan
kecelakaan seperti itu minimal seseorang akan mengalami patah tulang.”
“Benarkah? beruntung sekali dia.”
“Iya nona, mungkin faktor keberuntungan
yang membuatnya baik-baik saja. Tapi yang masih membuat saya bertanya-tanya
adalah tentang lukanya yang cepat sekali sembuh...”
Kudengar samar-samar percakapan
antara dua orang lawan jenis. Mendengar percakapan tersebut, kucoba untuk
membuka kelopak mataku perlahan. Sedikit demi sedikit cahaya mulai memasuki
kornea mataku. Samar-samar terlihat bola lampu berwarna putih dan kudapati
ternyata diriku terbaring.
“Ini bukan di rumah”, gumamku dalam
hati.
Saat kucoba menggerakkan tangan, terasa
ada sesuatu yang menancap. Kupalingkan pandangan, dan kudapati jarum infuse
menembus pembuluh darahku. Kupalingkan lagi pandanganku kearah dua orang yang
sedang bercakap-cakap, dan kulihat seorang wanita dan seorang pria berpakaian
dokter.
“Ternyata aku di rumah sakit”, gumamku
lirih dan kedua orang tersebut berhenti berbicara lalu menatapku.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu,
mari Nona.”, Dokter tersebut pergi dan lenyap dibalik pintu.
“Hai, kamu baik-baik saja?”, Tanya
wanita tersebut sembari mendekat kearahku yang sedang terbaring diatas tempat
tidur rumah sakit.
“Aku baik-baik saja. Kenapa aku bisa
berada disini?”, tanyaku sembari mengangkat tangan dan menatap infuse yang
menancap.
“Kamu tadi kecelakaan, lalu aku
membawamu kemari.”, wanita itu berdiri disampingku.
“Oh iya aku baru ingat, saat
mengejar seorang pencuri dan ketika menyebrang jalan, aku tertabrak mobil lalu
tak sadarkan diri. Sial pencuri itu tak tertangkap!”, kataku dengan sedikit
geram lalu merintih karena nyeri saat mencoba mengepalkan tangan.
“Lupakan saja soal pencuri itu, yang
penting sekarang kamu baik-baik saja.”, jawabnya dengan tenang.
“Terimakasih banyak, berkat pertolonganmu
aku selamat.”, jawabku sembari menatap wajahnya.
Seorang wanita berparas cantik,
berambut panjang dan berkaca mata. Bibirnya tipis melengkungkan senyum yang
begitu manis ditambah lesung pipit. Sekilas melihat wajahnya dari dekat membuat
waktu seakan berjalan lambat. Jantung berdetak cepat, darah mengalir keseluruh
tubuh begitu deras, membuat tubuh ini diam terpaku karena kecantikannya.
“Kata dokter lukamu tidak terlalu
parah dan kamu tidak perlu menginap di rumah sakit.”, kata wanita tersebut
sembari tersenyum.
Aku masih terpukau melihat keindahan
makhluk ciptaan tuhan yang disebut perempuan dihadapanku ini. Entah mengapa
perempuan didepan mataku ini sungguh memiliki aura yang sangat berbeda dari
perempuan-perempuan pada umumnya. Melihat parasnya seakan-akan membuat semua
emosi buruk menjadi baik, begitu tenang dan menenangkan.
“Hei, kamu sedang memikirkan apa?”
“Eh, tidak apa-apa, aku hanya...”
Kriiiiingggg, Kriiiinggggg, Kriiiiiiii...,
Belum selesai aku menjawab pertanyaannya, ia
dikejutkan dengan dering suara telepone yang berasal dari dalam tas. Lalu ia
bergegas untuk menekan tombol terima.
“Halo selamat siang?”, Wanita tersebut menyapa
seseorang dari telepone genggamnya.
Terjadi percakapan yang cukup panjang
antara wanita tersebut dengan seseorang yang entah sedang berada dimana. Aku
mengamati gerak gerik wanita tersebut dan terlihat ia sedang panik. Wanita
tersebut mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam tasnya. Terlihat ia begitu
fokus mendengarkan penjelasan dari seseorang yang jauh disana. Kemudian menulis dibuku catatan yang sedang ia
pegang ditangan kanan dan pulpen ditangan kiri. Ternyata ia kidal.
“Baik Pak, saya akan segera kesana”, wanita
tersebut mengakhiri panggilan lalu memasukan telepon genggam begitu juga buku
catatannya kedalam tas dengan tergesa-gesa.
“Maaf, Aku harus pergi sekarang. Soal
biaya rumah sakit, kamu tinggal menunjukan kartu ini kepada petugas, semuanya
akan beres. Aku pergi dulu, selamat tinggal.”, ia memberiku sebuah kartu
kemudian melangkah tergesa-gesa menuju pintu lalu membukanya.
“Eh, tunggu! Siapa na...”
Belum selesai pertanyaan kulontarkan, ia
sudah menutup dan lenyap dibalik pintu.
“Aku belum tau namamu dan juga tempat
tinggalmu, bagaimana caraku berterima kasih?”, bisikku pelan dan berpikir
sejenak.
“Oh iya, dari kartu ini pasti aku bisa
mendapatkan identitasnya.”, Aku mengamati kartu yang sedang kupegang.
Bentuknya seperti kartu ATM, warnanya
hijau dengan logo “IP” dalam lingkaran. Aku tidak tahu kartu apa ini. Dan aku
baru sadar, mengapa wanita itu memberikan kartu ini kepadaku. Aku termenung
sejenak.
“Ah sudahlah”, Kemudian, kulihat jam
menunjukan pukul 12.00 siang.
“Baiklah sudah setengah hari, aku harus
tetap kekampus karena ada janji dengan seseorang. Sepertinya luka-lukaku ini
juga tidak terlalu parah, bahkan aku sudah tidak merasakan sakit lagi.”
Kupanggil suster untuk melepaskan infuse
yang menancap dipembuluh darahku. Tapi sebelum itu, aku diperiksanya untuk
memastikan kondisiku sudah membaik. Setelah proses pemeriksaan selesai dan
kondisiku dinyatakan telah membaik, barulah infuse dilepas.
Aku beranjak dari tempat tidur rumah sakit
yang berwarna hijau tua ini. Berjalan kearah meja mengambil tas ranselku.
Kubuka resletingnya untuk mengecek barang yang ada didalam, semuanya masih
utuh. Lalu aku bergegas pergi menuju bagian administrasi.
Sesampainya di bagian administrasi, aku
menunjukan kartu hijau pemberian wanita yang belum sempat kuketahui namanya
tadi. Beberapa saat petugas sibuk dengan komputernya setelah menerima kartu
yang aku berikan. Selang beberapa menit, petugas memberikan kartu itu kembali,
ditambah dengan selembar kertas yang bertuliskan tangan:
Nama : Mika
Pass : 121151
Semoga lekas
sembuh. Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu.
“Apa
ini?”
*****
Boleh juga mas,sip sip
ReplyDeletethx u bro. baca terus sampai habis. dan beri komentarnya ya. :)
Delete